Beranda Sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia

Kerajaan Hindu di Indonesia

9
0

Kerajaan Hindu di Indonesia – Di Indonesia pernah berdiri beberapa Kerajaan Hindu, mana sajakah Kerajaan Hindu di Indonesia. Berikut penjelasan lengkapnya.

Kerajaan Hindu di Indonesia

Perkembangan  agama Hindu di Indonesia berawal sekitar 1500 sebelum Masehi (SM) seiring dengan kedatanagn bangsa Yunan. Bagaimana mereka sampai ke Indonesia? Mereka masuk wilayah Nusantara dengan menaikki perahu layar. Kelompok ini datang dari Kampuchea (Kamboja). Mereka akhirnyamendirikan rumah dan hidup berkelompok dalam masyarakat desa dan selanjutnya menetap di Nusantara.

Pengaruh ajaran serta budaya Hindu terhadap budaya Indonesia begitu kuat. Bahkan, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat utamanya dalam hal pemerintahan. Hal ini terlihat dengan berdirinya  beberapa kerajaan bercorak Hindu.

1. Kerajaan Kutai

Kerajaan bercorak Hindu di Indonesia yang pertaman adalah Kerajaan Kutai .Kerajaan ini terletak di daerah Muara Kaman, di sekitar tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu tertua yang pernah ada di Indonesia, didirikan oleh Kudungga pada masa abad ke-4 M. Bukti berdirinya Kerajaan Kutai adalah dengan ditemukannya yupa. Yupa merupakan tiang batu untuk mengikat  hewan korban yang akan dipersembahkan oleh para brahmana. Yupa ditulis dalam huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta.

Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai

Berdasarkan apa yang tertulis dalam yupa, raja Hindu pertama di Kerajaan Kutai bernama Aswawarman. Ini bisa dibuktikan akan gelar yang dimilikinya, yaitu wangsakerta atau pendiri keluarga kerajaan (dinasti).

Dari tulisan yang ada pada yupa tersebut dapat disimpulkan adanya 3 generasi. Sisilah dimulai dari Kudungga yang memperanakkan anak bernama Aswawarman.

Aswawarman memiliki tiga anak, satu di antaranya bernama Mulawarman. Pada saatpemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai berhasil berkembang menjadi sebuah kerajaan besar. Hal ini terlihat dari prasasti yang ditemukan. Bukti kebesarann dapat ditunjukkan sebagai berikut.

  1. Raja menggelar upacara waprakeswara (sebidang tanah suci) setiap tahunnya.
  2. Raja memberikan hadiah kepada para brahmana berwujud tanah, ternak, dan emas dengan adil.

Mulawarman memerintah kerajaan Kutai dengan bijaksana. Pada masa pemerintahannya, rakyat hidup makmur. Sebagai bentuk ucapan terima kasih, rakyat melakukan  seperti berikut.

  1. Mengadakan kenduri  keselamatan raja.
  2. Membuat prasasti/ yupa yang berisi tulisan  tentang raja mereka.

Para brahmana turut membangun sebuah batu bertulis. Hal ini sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada Raja Mulawarman. Raja telah memberikan hadiah kepada mereka seperti minyak kental, lampu, dan lembu sebanyak 20.000 ekor. Peninggalan sejarah dari Kerajaan Kutai yang bercorak kerajaan Hindu antara lain:

1) Tujuh yupa yang diketemukan sekitar Muara Kaman pada 1879 dan 1940.

2) Kalung Cina  erbuat dari emas.

3) Arca bulus.

4) Arca Buddha dari perunggu.

5) Arca batu.

Baca : Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

2. Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan bercorak hindu berikutnya adalah Kerajaan Tarumanegara. Keberadaan kerajaan Tarumanegara dapat dilacak dengan ditemukannya tujuh buah prasasti. Selain itu, dari berbagai sumber berita dari luar negeri. Kerajaan Tarumanegara letaknya di Sungai Citarum, Bogor, Jawa Barat. Kerajaan Tarumanegara berdiri pada masa abad ke-5 M. Wilayah kerajaan ini meliputi Karawang, Jakarta, Banten , dan Bogor.

Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara

Raja yang terkenal  adalah Purnawarman. Raja Purnawarman penganut agama Hindu beraliran Wisnu. Mata pencaharian utama penduduk Tarumanegara adalah tani dan berdagang. Namun, para petani sering mengalami gagal panen karena dilanda musibah banjir.

Pada tahun ke-22 masa pemerintahan Purnawarman, dibangunlah saluran air. Tujuan dari pembangunan saluran itu adalah untuk mengairi sawah dan mencegah banjir. Saluran itu dikenal dengan Gomati dan Chandrabagha. Pembuatannya memakan waktu selama 21 hari. Panjang saluran adalah 6.112 tombak (11 km).

Selesainya proses pembangunan saluran air ditandai penyerahan sejumlah 1.000 ekor lembu kepada para brahmana. Raja Purnawarman dikenal sebagai raja yang gagah berani. Ia tegas menghadapi berbagai masalah dan musuh. Kerajaan bercorak Hindu tertua di pulau Jawa ini  selalu mengadakan hubungan yang baik dengan bangsa lain. Contohnya dengan Cina. Hal ini dibuktikan dalam catatan bangsa Cina dan Prasasti Tarumanegara. Sumber lainnya, penuturan Fa Hsien, seorang musafir Buddha dari Cina mengatakan bahwa di Tarumanegara terdapat lebih dari satu agama  kepercayaan. Ajaran Hindu yang berkembang di Tarumanegara diajarkan Rahib Gunawarman.

Kerajaan Tarumanegara memiliki banyak peninggalan sejarah. Semua peninggalan dapat menunjukkan keberadaan dari kerajaan Tarumanegara.Peninggalan sejarah yang dimaksud antara lain:

  1. Prasasti Ciaruteun: Ditemukan di daerah Ciampea, Bogor. Pada prasasti ini terdapat telapak kaki Raja Purnawarman dan lukisan berupa laba-laba. Raja Purnawarman dianggap perwujudan Dewa Wisnu.
  2. Prasasti Jambu: Ditemukan di daerah Bukit Koleangkak, 30 km  barat daya Kota Bogor, tertulis kata tarumayam (Tarumanegara).
  3. Prasasti Lebak (Cidanghiang): Ditemukan di daerah Kampung Lebak, Pandeglang, menyebutkan bahwa Raja Purnawarman merupakan raja yang agung, pemberani, dan perwira.
  4. Prasasti Kebon Kopi: Ditemukan di daerah Kampung Muara Hilir, Bogor, terdapat lukisan telapak kaki Airawata (gajah kendaraan dari Dewa Wisnu).
  5. Prasasti Tugu: Ditemukan di daerah Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara, memiliki tulisan terpanjang yang menceritakan pembuatan saluran air (Gomati dan Chandrabhaga).
  6. Prasasti Pasir Awi: Ditemukan di daerah Pasir Awi, Bogor, terdapat lukisan tapak kakidan sampai sekarang belum bisa dibaca karena dalam bentuk huruf ikal.
  7. Prasasti Muara Cianten: Ditemukan di daerah Muara Cianten, Bogor, prasasti ini juga belum bisa terbaca.

Selain prasasti juga diketemukan arca-arca. Misalnya arca Rajarsi di Jakarta. Di Desa Cibuaya ditemukan arca Wisnu Cibuaya I dan Wisnu Cibuaya II.

Baca : Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu-Buddha

3. Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan bercorak Hindu berikutnya adalah Mataram Kuno. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-8 M, terletak di pedalaman Jawa Tengah. Bukti keberadaan dari kerajaan ini tertulis dalam Prasasti Canggal dan Prasasti Balitung (Mantyasih). Berdasarkan prasasti tersebut, kerajaan bermula sejak masa  pemerintahan Raja Sanjaya yang diberi gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Prasasti Canggal juga mengungkap pendirian lingga di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya.

Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno

Sebelum itu, Kerajaan Mataram Kuno dipimpin raja bernama Sanna. Raja Sanna memerintah rakyat secara bijaksana. Kerajaan ini kaya padi dan emas. Oleh sebab itu, Pulau Jawa mendapat julukan Jawadwipa.

Peninggalan sejarah dari Kerajaan Mataram Kuno sangat banyak, diantaranya Candi Gedong Songo, kompleks candi Dieng, dan komplek Candi Prambanan. Kehidupan rakyat terbilang cukup makmur, dibuktikan banyaknya candi-candi.

Baca : Pengaruh Hindu Budha di Indonesia

4. Kerajaan Kediri

Pada 1019 M terdapat Kerajaan Kahuripan yang dipimpin  Raja Airlangga. Ia memiliki tiga orang anak diantaranya Sanggramawijaya, Samarawijaya, dan Mapanji Garasakan. Pada awalnya, Airlangga memberikan tahta kepada Sanggramawijaya. Tetapi, Sanggramawijaya tidak bersedia. Ia lebih memilih jalan hidup sebagai pertapa. Sanggramawijaya dijulukiRaja Sucian atau Dyah Kili Suci.

Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri

Namun, Airlangga masih mempunyai 2 anak lainnya, dan ia pun membagi kerajaan menjadi dua bagian. Hal ini bertujuan untuk menghindari perang saudara.

Pada 1041 M, Mpu Bharada membagi Kerajaan Kahuripan sesuai perintah Airlangga. Kerajaan Panjalu atau Kerajaan Kediri yang beribu kota di Daha diserahkan kepada Samarawijaya. Kerajaan Jenggala atau Kahuripan yang berpusat di Kahuripan diserahkan kepada Mapanji Garasakan. Airlangga lalu mengasingkan diri menjadi pertapa dengan nama Resi Gentayu. Tahun 1049, Airlangga wafat lalu dimakamkan di Candi Belahan.

Berikut ini beberapa raja yang pernah memerintah Kediri.

  1. Bameswara /Kameswara I (tahun 1115–1130 M)
  2. Jayabaya (1130–1160 M)
  3. Sarweswara (1160–1170 M)
  4. Aryyeswara
  5. Gandra
  6. Srungga
  7. Kertajaya (1200–1222 M)

Kertajaya adalah raja terakhir Kerajaan Kediri. Ia dijuluki Dandhang Gendhis. Akhirnya, Kertajaya  terpaksa menyerahkan kerajaannya kepada Kerajaan Singasari (Ken Arok). Peristiwa itu menandai akhir dari riwayat Kerajaan Kediri.

Menurut cerita rakyat yang ada, pembagian Kerajaan Kediri dilakukan oleh Mpu Bharada dengan cara terbang di udara. Ia membawa kendi yang berisi air yang dituangkan ke kawah. Air yang dituangkan tersebut mengalir menjadi Sungai Brantas.

Peninggalan Kerajaan Kediri berupa prasasti, antara lain:

  1. Prasasti Penumbangan (1120)
  2. Prasasti Hantang (1135)
  3. Prasasti Talan (1136)
  4. Prasasti Jepun (1144)
  5. Prasasti Weleri (1169)
  6. Prasasti Angin (1161)
  7. Prasasti Padlegan (1170)
  8. Prasasti Jaring (1181)
  9. Prasasti Semandhing (1182)
  10. Prasasti Ceker (1185)

Peninggalan bidang kesusastraan di antaranya adalah:

  • Kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa
  • Kresnayana  karya Mpu Triguna
  • Samanasantaka karyaMpu Managuna
  • Smaradahana  karya Mpu Darmaja
  • Hariwangsa oleh Mpu Panuluh
  • Gathotkaca Sraya  karya Mpu Panuluh
  • Bharatayuda karyaMpu Panuluh dan Mpu Sedah
  • Wrestasancaya dan kidung Lubdhaka  karya Mpu Tanakung.

Baca : Proses Masuk dan Berkembangnya Agama Hindu Budha di Indonesia

5. Kerajaan Singosari

Kerajaan bercorak Hindu berikutnya adalah Kerajaan Singasari. Kerajaan ini didirikan oleh Ken Arok. Pada mulanya, Ken arok adalah Akuwu Tumapel, ia membantu para brahmana Kediri melawan Raja Kertajaya. Setelah menang perang, Kerajaan Kediri dan Tumapel akhirnya bergabung. Maka muncul kerajaan baru, Kerajaan Singasari.

Kerajaan Singosari
Kerajaan Singosari

Raja yang memerintahantara lain:

1) Ken Arok (1222–1227)

Kemenangan Ken Arok atas Kertajaya membuat dirinya terkenal dan harum. Raja pertama Kerajaan Singasari adalah Ken Arok. Ia diberi gelar  Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi. Ken Arok membuat sebuah dinasti baru bernama Girindrawangsa. Ken Arok menganggap bahwa dirinya adalah keturunan Dewa Syiwa.

Sebagai raja, masa lalu Ken Arok sangatlah buruk. Ia membunuh Mpu Gandring dan Tunggul Ametung. Bahkan, ia juga memperistri Ken Dedes (istri Tunggul Ametung). Pada masa  itu, Ken Dedes sedang mengandung anak dari Tunggul Ametung. Janin tersebut setelah lahir bernama Anusapati.

Perkawinan Ken Arok dengan Ken Dedes memiliki tiga anak. Ada Mahisa Wong Ateleng, Panji Saprang, Panji Agnibaya, dan Dewi Rimbu. Perkawinan Ken Arok dengan Ken Umang memiliki empat anak. Masing-masing bernama Panji Tohjaya, Panji Sudhatu, Panji Wrengola, dan Dewi Rambi.

Perlakuan Ken Arok terhadap Anusapati berbeda dengan anak yang lain. Anusapati menjadi curiga. Anusapati bertanya kepada orang di sekitarnya. Anusapati mengetahui bahwa Ken Arok yang membunuh ayah kandungnya. Lalu Anusapati membunuh Ken Arok dengan menggunakan keris Mpu Gandring. Dengan tewasnya Ken Arok, berakhirlah kekuasaannya di Singsari.

2) Anusapati (1227–1248)

Anusapati akhirnya menjadi raja Singasari menggantikan Ken Arok, namun tidak berhasil membuat kemajuan Kerajaan Singasari. Anusapati mempunyai kegemaran mengadu ayam. Ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan nasib rakyatnya. Anusapati juga dibunuh dengan keris Mpu Gandring. Anusapati dibunuh oleh Tohjaya yang dendam atas terbunuhnya Ken Arok.

3) Tohjaya (1248 M)

Tohjaya naik tahta kerajaan dan hanya bertahan satu tahun, ini diakibatkan serangan dari Ranggawuni (anak dari Anusapati) yang dibantu Mahisa Cempaka.

4) Ranggawuni (1248–1268)

Ranggawuni naik tahta mengganti Tohjaya. Ia bergelar Sri jaya Wisnuwardhana. Dalam memerintah, Ranggawuni didampingi oleh Mahisa Cempaka (anak dari Mahisa Wong Ateleng). Sepeninggal Ranggawuni, kekuasaan digantikan oleh puteranya yang bernama Kertanegara.

5) Kertanegara (1268–1292)

Kertanegara menduduki tahta kerajaan dengan bergelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Pada masa pemerintahannya, Singasari mencapai puncak keemasan. Kertanegara seorang raja arif dan bijaksana. Kertanegara bercita-cita mempersatukan seluruh Nusantara dan menjadikan Singasari sebagai sebuah kerajaan besar. Cita-cita Kertanegara tersebut dikenal Cakrawala Mandala.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Kertanegara melakukan usahausaha sebagai berikut.

  1. Mengganti sejumlah pejabat pemerintahan yang kurang mendukung cita-cita besarnya.
  2. Mempembarui sistem pemerintahan. Ia membentuk penasihat raja yang terdiri atas Rakyan I Hino, Rakyan I Sirikan, dan Rakyan I Halu. Ia juga membentuk pejabat tinggi yang terdiri Rakyan Mahapatih, Rakyan Demang, dan Rakyan Kanjuruhan.
  3. Menaklukkan beberapa wilayah, antara lain Bali, Sunda, Pahang, Kalimantan Barat, dan Maluku, serta melakukan ekspedisi Pamalayu ke Sriwijaya.
  4. Mempererat hubungan dengan luar negeri, misalnya dengan negara Campa.

Semasa Kertanegara berkuasa, kekaisaran Cina giat memperluas wilayah kekuasaan. Singasari termasuk wilayah yang ingin ditaklukkan. Kaisar Kubilai Khan mengirim seorang utusan kepada Kertanegara. Tujuannya agar Singasari mau mengakui kekuasaan Kubilai Khan. Kertanegara dengan tegas menolak permintaan itu. Akibatnya, Kubilai Khan sangat marah dan mendatangkan pasukan dari Cina. T1292 M, pasukan Singasari dikerahkan menghadapi kekuatan bangsa Cina. Secara bersamaan, datang serangan dari Kediri dipimpin oleh Jayakatwang. Kertanegara membagi pasukannya. Pasukan dipimpin oleh menantunya, yaitu Raden Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang). Namun, pasukan Ardaraja justru berbalik membantu Jayakatwang (ayahnya) dan menyerang Singasari, dan Singasari mengalami kekalahan. Jayakatwang berhasil membunuh Kertanegara. Kertanegara dikubur di Candi Singasari. Lalu, bagaimana nasib

Raden Wijaya bersama pengikutnya, yaitu Ranggalawe, Sora, dan Nambi menyelamatkan diri ke Madura. Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan bangsa Cina dalam menyerang Jayakatwang. Raden Wijaya menghasut para pasukan Cina. Ia mengatakan bahwa Jayakatwang adalah Kertanegara yang mereka cari. Pasukan Cina menyerang Jayakatwang. Terbunuhnya Jayakatwang mengakhiri riwayat Kerajaan Singasari.

Adapun peninggalan sejarah Kerajaan Singasari di antara lain:

  1. Candi Kagenengan, Candi Weleri, Candi Jago, Candi Mireng, dan Candi Singasari.
  2. Arca Prajnaparamita dan arca Amoghapasya.
  3. Prasasti Sarwadhana (1269).

6. Kerajaan Majapahit

Majapahit merupakan Kerajaan Hindu terakhir di Indonesia. Kerajaan Majapahit didirikan  Raden Wijaya. Kerajaan Majapahit terletak di daerah Kecamatan Trowulan, Mojokerto sebelah barat Surabaya. Kerajaan Majapahit mempunyai hubungan dengan Kerajaan Singasari. Raden Wijaya adalah menantu Kertanegara.

1) Raden Wijaya (1293–1309)

Raden Wijaya raja pertama sekaligus pendiri Majapahit yang bergelar Sri Kertarajasa Jayawardana. Beliau memerintah didampingi oleh empat putri Kertanegara sebagai permaisurinya. Di antaranya Tribhuwaneswari, Narendradahita, Prajnaparamita, dan Gayatri. Para pengikut Raden Wijaya yang turut berjasa diangkat menjadi menjadi pejabat tinggi pemerintahan. Pada tahun 1309, Raden Wijaya meninggal. Akhirnya, Kerajaan Majapahit diserahkan Jayanegara. Jayanegara adalah putra dari perkawinannya dengan permaisuri Tribhuwaneswari.

2) Jayanegara (1309–1328)

Pada pemerintahan Jayanegara banyak pemberontakan. Pemberontakan pada dasarnya kelanjutan dari pada Raden Wijaya. Ada pemberontakan Ranggalawe (1309), Sora (1311),  Nambi (1316),  Rasemi (1318), dan  Kuti (1319).

Pemberontakan yang terbesar adalah Kuti. Muncul seorang ksatria bernama Gajah Mada. Ia berhasil menyelamatkan raja dari upaya pembunuhan. Ia berhasil menumpas pemberontakan. Pada tahun 1328, Jayanegara meninggal. Jayanegara diracun oleh tabib istana yang bernama Tancha.

3) Tribhuwanatunggadewi (1328–1350)

Jayanegara tidak memiliki anak. Oleh sebab itu, tahta selanjutnya diganti oleh Tribhuwanatunggadewi. Ia merupakan adik tiri Jayanegara. Tribhuwanatunggadewi adalah putri Raden Wijaya dengan Gayatri.

Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan di Sadeng (1331). Namun Gajah Mada berhasil menumpasnya. Akhirnya Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Majapahit. Gajah Mada bersumpah untuk menyatukan Nusantara. Sumpah itu disebut Sumpah Palapa.

4) Hayam Wuruk (1350–1389)

Hayam Wuruk anak Tribhuwanatunggadewi dengan Kertawardhana. Masa kejayaan Majapahit terjadi pada pemerintahan Hayam Wuruk, dimana wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Indonesia. Bahkan, sampai ke negeri Siam, Birma, Kamboja, Amman, India, dan Cina.

Peninggalan Kerajaan Majapahit berupa candi dan karya satra. Peninggalam berupa candi antara lain

  1. Candi Panataran,
  2. Candi Sawentar,
  3. Candi Bora,
  4.  Candi Sumberjati,
  5. Candi Jabung,
  6. Candi Bajang Ratu,
  7. Candi Tikus, dan
  8. Candi Sukuh.

Adapun peninggalan karya sastra antara lain

  1. Negara Kertagama (sejarah Singasari dan Majapahit);
  2. Sutasoma (cerita agama Buddha);
  3. Kunjarakarna (cerita agama Buddha); serta
  4. Pararaton (sejarah Singasari dan Majapahit/legenda).

Zaman keemasan Majapahit berakhir sepeninggal Hayam Wuruk dan Gajah Mada .Hayam Wuruk wafat tahun 1389 dan Gajah Mada wafat tahun 1346.

5) Wikramawardhana (1389–1400)

Setelah Hayam Wuruk wafat, tahta diduduki oleh Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk). Setelah 12 tahun memerintah, ia mengundurkan diri pada tahun 1400.

6) Putri Suhita

Putri Suhita anak dari Wikramawardhana. Pengangkatan Suhita tidak disetujui Bhre Wirabhumi, yaitu anak Hayam Wuruk dari seorang selir. Perang saudara terjadi antara Ratu Suhita dengan Bhre Wirabhumi. Perang ini dikenal dengan Perang Paregreg (1401–1406).

Jadi, runtuhnya Majapahit  disebabkan oleh :

  1. Tidak adanya tokoh yang kuat untuk menjaga kesatuan sehingga banyak daerah jajahan yang melepaskan diri.
  2. Terjadinya perang Paregreg (1401–1406),
  3. berkembangn ajaran Islam di Pulau Jawa,
  4. datangnya armada Cina yang dipimpin Cheng–Ho.

Demikianlah info Kerajaan Hindu di Indonesia dari admin artikelind.com, semoga bermanfaat. [Ai]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here