Cara Melakukan Terapi Ruqyah

Cara Melakukan Terapi Ruqyah – Terapi Ruqyah sudah banyak dikenal dan dilakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Terapi Ruqyah itu sebenarnya apa? terapi ruqyah bisa kita artikan sebagai sebuah proses penyembuhan yang bersifat meta fisika dengan membaca ayat-ayat tertentu dan cara tertentu. Ruqyah dipercaya dan diyakini mampu menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh hal-hal gaib seperti guna-guna, gangguan syetan dan jin yang bermaksud merusak kehidupan seseorang.

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami sebelum belajar Cara Melakukan Terapi Ruqyah. Perhatikan penjelasan berikut.

“Sesungguhnya ruqyah ( mantra) , tamimah ( jimat) , dan tiwalah ( pelet) adalah kemusyrikan”. ( HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Alhakim)

Beliau saw juga menyatakan yang Artinya :

“Dari Imran berkata, Rasulullah saw bersabda : ‘ Akan masuk surga dari umatku 70 ribu tanpa hisab’ , sahabat bertanya : ‘ Siapa mereka wahai Rasulullah ? Rasulullah saw bersabda : ’ Mereka adalah orang yang tidak berobat dengan kay ( besi  panas yang ditempelkan) , tidak tathayyur ( meramal nasib dengan burung) , dan tidak minta diruqyah’ ” ( HSR. Bukhari-Muslim) 

Cara Melakukan Terapi RuqyahPara ulama’ banyak membicarakan hadits ini, diantaranya yang terkait dengan ruqyah. Mereka sepakat ruqyah ada unsur kemusyrikannya adalah HARAM. dan mereka membolehkan ruqyah syar’ iyyah yaitu membacakan ayat-ayat Alquran dan doa-doa yang ma’ tsur untuk penjagaan dan penyembuhan, termasuk mengambil upah dari meruqyah. Terkait dengan masalah ini Rasulullah saw pernah bersabda kepada paman Kharijah bin Ash-Shalt Attamimi yang telah sukses meruqyah orang gila, lalu diberi imbalan 100 ekor kambing,

“Ambillah imbalan itu, demi Allah ada orang yang mengambil hasil ruqyah yang bathil, sedangkan Kamu sekarang makan dari imbalan ruqyah yang haq”. ( HSR. Abu Dawud) 

Beberapa cara meruqyah yang mengandung berbuatan syirik atau tidak sesuai dengan syariah antara lain :

  1. Meminta bantuan jin, memenuhi permintaannya atau bersumpah atas nama jin.
  2. Ruqyah yang dilakukan oleh tukang sihir/peramal.
  3. Bersandar kepada ruqyah, bukan kepada Allah.
  4. Mencampur aduk bacaan Alquran dengan mantera-mantera.
  5. Menggunakan sesajen, tumbal atau alat yang mengarah pada syirik dan bid’ ah.
  6. Memenjarakan jin dan menyiksanya.

Apabila kita merasa sakit, dibolehkan dan dianjurkan berobat dengan obat-obat yang halal. Pengobatan dilakukan sesuai dengan gejala penyakit yang diderita dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Ruqyah secara mandiri.
  2. Memeriksakan diri ke dokter ( pengobatan medis) .
  3. Jika ruqyah mandiri dan pengobatan medis tidak kunjung membawa hasil, boleh diruqyah oleh ahli ruqyah.
  4. Jika pada kondisi tertentu pasien tak kunjung merasakan kesembuhan secara signifikan ada baiknya memeriksakan diri ke psikolog/psikiater untuk dianalisa adakah kita mengalami permasalahan psikis.

Jika anda sudah paham dengan apa yang dimaksudkan dengan penjelasan di atas. Marilah kita bersama-sama belajar Cara Melakukan Terapi Ruqyah.

Cara Melakukan Terapi Ruqyah

1. Persiapan.

  • Membersihkan tempat ruqyah dari barang najis, benda-benda sihir, jimat, gambar-gambar makhluk yg bernyawa, musik, alat musik, laki-laki memakai emas, perempuan tidak menutup aurat, dan pelanggaran syariat lainnya.
  • Membersihkan penderita dari isim, tamimah, penangkal, atau jimat yang dikenakannya.
  • Memberi pelajaran aqidah kepada penderita dan keluarganya hingga menghapuskan ketergantungan hati kepada selain Allah.
  • Menjelaskan tentang ruqyah syar’ iyyah dan perbedaannya dari ruqyah syirkiyyah.
  • Mendiagnosis penderita dengan beberapa pertanyaan terkait penyakitnya, hal-hal yg dialami ketika tidur dan jaga, tentang mimpinya dan keluhan lainnya.
  • Meminta penderita berwudu, menutup aurat, kalau penderita wanita wajib disertai muhrimnya.
  • Berdoa kepada Allah agar membantu dan menolong menyembuhkan penderita.

2.  Pengobatan.

  • Keyakinan bahwa kesembuhan datang hanya dari Allah.
  • Ruqyah harus dengan Al Qur’an, hadits atau dengan nama dan sifat Allah, dengan bahasa Arab atau bahasa yang dapat dipahami.
  • Mengikhlaskan niat dan menghadapkan diri kepada Allah saat membaca dan berdoa.
  • Membaca Surat Al Fatihah dan meniup anggota tubuh yang sakit. Demikian juga membaca surat Al Falaq, An Naas, Al Ikhlash, Al Kafirun. Dan seluruh Al Qur’an, pada dasarnya dapat digunakan untuk meruqyah. Akan tetapi ayat-ayat yang disebutkan dalil-dalilnya, tentu akan lebih berpengaruh.
  • Menghayati makna yang terkandung dalam bacaan Al Qur’an dan doa yang sedang dibaca.
  • Orang yang meruqyah hendaknya memperdengarkan bacaan ruqyahnya, baik yang berupa ayat Al Qur’an maupun doa-doa dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Supaya penderita belajar dan merasa nyaman bahwa ruqyah yang dibacakan sesuai dengan syariat.
  • Meniup pada tubuh orang yang sakit di tengah-tengah pembacaan ruqyah. Masalah ini, menurut Syaikh Al Utsaimin mengandung kelonggaran. Caranya, dengan tiupan yang lembut tanpa keluar air ludah. ‘Aisyah pernah ditanya tentang tiupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meruqyah. Ia menjawab: “Seperti tiupan orang yang makan kismis, tidak ada air ludahnya (yang keluar)”. (HR Muslim, kitab As Salam, 14/182). Atau tiupan tersebut disertai keluarnya sedikit air ludah sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Alaqah bin Shahhar As Salithi, tatkala ia meruqyah seseorang yang gila, ia mengatakan: “Maka aku membacakan Al Fatihah padanya selama tiga hari, pagi dan sore. Setiap kali aku menyelesaikannya, aku kumpulkan air liurku dan aku ludahkan. Dia seolah-olah lepas dari sebuah ikatan”. [HR Abu Dawud, 4/3901 dan Al Fathu Ar Rabbani, 17/184].
  • Jika meniupkan ke dalam media yang berisi air atau lainnya, tidak masalah. Untuk media yang paling baik ditiup adalah minyak zaitun. Disebutkan dalam hadits Malik bin Rabi’ah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُوْا الزَيْتَ وَ ادَّهِنُوا بِهِ فَإنَهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَة

“Makanlah minyak zaitun , dan olesi tubuh dengannya. Sebab ia berasal dari tumbuhan yang penuh berkah”.[2]

  • Mengusap orang yang sakit dengan tangan kanan. Ini berdasarkan hadits ‘Aisyah, ia berkata: “Rasulullah, tatkala dihadapkan pada seseorang yang mengeluh kesakitan, Beliau mengusapnya dengan tangan kanan…”. [HR Muslim, Syarah An Nawawi (14/180]. Imam An Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk mengusap orang yang sakit dengan tangan kanan dan mendoakannya. Banyak riwayat yang shahih tentang itu yang telah aku himpun dalam kitab Al Adzkar”. Dan menurut Syaikh Al ‘Utsaimin berkata, tindakan yang dilakukan sebagian orang saat meruqyah dengan memegangi telapak tangan orang yang sakit atau anggota tubuh tertentu untuk dibacakan kepadanya, (maka) tidak ada dasarnya sama sekali.
  • Bagi orang yang meruqyah diri sendiri, letakkan tangan di tempat yang dikeluhkan seraya mengatakan بِسْمِ الله (Bismillah, 3 kali).

أعُوذُ بِالله وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَر مَا أجِدُ وَ أحَاذِرُ

“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari setiap kejelekan yang aku jumpai dan aku takuti”.[3]

Dalam riwayat lain disebutkan “Dalam setiap usapan”. Doa tersebut diulangi sampai tujuh kali.

Atau membaca :

بِسْمِ الله أعُوذُ بِعزَِّةِ الله وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَر مَا أجِدُ مِنْ وَجْعِيْ هَذَا

“Aku berlindung kepada keperkasaan Allah dan kekuasaanNya dari setiap kejelekan yang aku jumpai dari rasa sakitku ini”.[4]

Apabila rasa sakit terdapat di seluruh tubuh, caranya dengan meniup dua telapak tangan dan mengusapkan ke wajah si sakit dengan keduanya.[5]

  • Bila penyakit terdapat di salah satu bagian tubuh, kepala, kaki atau tangan misalnya, maka dibacakan pada tempat tersebut. Disebutkan dalam hadits Muhammad bin Hathib Al Jumahi dari ibunya, Ummu Jamil binti Al Jalal, ia berkata: Aku datang bersamamu dari Habasyah. Tatkala engkau telah sampai di Madinah semalam atau dua malam, aku hendak memasak untukmu, tetapi kayu bakar habis. Aku pun keluar untuk mencarinya. Kemudian bejana tersentuh tanganku dan berguling menimpa lenganmu. Maka aku membawamu ke hadapan Nabi. Aku berkata: “Kupertaruhkan engkau dengan ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, ini Muhammad bin Hathib”. Beliau meludah di mulutmu dan mengusap kepalamu serta mendoakanmu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih meludahi kedua tanganmu seraya membaca doa:

أَذْهِبْ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Hilangkan penyakit ini wahai Penguasa manusia. Sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali penyembuhanMu, obat yang tidak meninggalkan penyakit”[6].

Dia (Ummu Jamil) berkata: “Tidaklah aku berdiri bersamamu dari sisi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali tanganmu telah sembuh”.

  • Apabila penyakit berada di sekujur badan, atau lokasinya tidak jelas, seperti gila, dada sempit atau keluhan pada mata, maka cara mengobatinya dengan membacakan ruqyah di hadapan penderita. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘laihi wa sallam meruqyah orang yang mengeluhkan rasa sakit. Disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah, dari Ubay bin K’ab , ia berkata: “Dia bergegas untuk membawanya dan mendudukkannya di hadapan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salla,m . Maka aku mendengar Beliau membentenginya (ta’widz) dengan surat Al Fatihah”.[7]

Apakah ruqyah hanya berlaku untuk penyakit-penyakit yang disebutkan dalam nash atau penyakit secara umum?

Baca : Cara dan Doa Sholat Tahajud

Dalam hadits-hadits yang membicarakan terapi ruqyah, penyakit yang disinggung adalah pengaruh mata yang jahat (‘ain), penyebaran bisa racun (humah) dan penyakit namlah (humah). Berkaitan dengan masalah ini, Imam An Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim: “Maksudnya, ruqyah bukan berarti hanya dibolehkan pada tiga penyakit tersebut. Namun maksudnya bahwa Beliau ditanya tentang tiga hal itu, dan Beliau membolehkannya. Andai ditanya tentang yang lain, maka akan mengizinkannya pula. Sebab Beliau sudah memberi isyarat buat selain mereka, dan Beliau pun pernah meruqyah untuk selain tiga keluhan tadi”. (Shahih Muslim, 14/185, kitab As Salam, bab Istihbab Ar Ruqyah Minal ‘Ain Wan Namlah).

3.  Selesai Pengobatan.

  • Menjaga shalat berjamaah.
  • Berwudhu dan membaca ayat kursi sebelum tidur.
  • Berbusana muslim ( menutup aurat) dalam kesehariannya.
  • Membaca basmalah setiap mengawali melakukan sesuatu aktivitas.

Disclaimer :

Admin bukanlah ahli terapi ruqyah, admin hanya membagikan masalah tentan Cara Melakukan Terapi Ruqyah yang dikumpulkan dari berbagai referensi dari dunia maya

Untuk memudahkan anda dalam mepraktekkan Terapi Ruqyah, berikut ini admin bagikan audio ruqyah.

  • Audio Ruqyah untuk terapi Gangguan dari Jin  : DOWNLOAD
  • Audio Ruqyah untuk terapi Pengobatan penyakit kiriman . DOWNLOAD
  • Audio Ruqyah untuk mengusir atau menmbakar Jin jahil . DOWNLOAD

Footnote

[1]. Dinukil dari Kaifa Tu’aliju Maridhaka Bi Ar Ruqyah Asy Syar’iyyah, hlm. 41.

[2]. Hadits hasan, Shahihul Jami’ (2/4498).

[3]. HR Muslim, kitab As Salam (14/189).

[4]. Shahihul Jami’, no. 346.

[5]. Fathul Bari (21/323). Cara ini dikatakan oleh Az Zuhri merupakan cara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meniup.

[6]. Al Fathu Ar Rabbani (17/182) dan Mawaridu Azh Zham-an, no. 1415-1416.

[7]. Al Fathu Ar Rabbani (17/183).

[8]. Namlah adalah luka-luka yang menjalar di sisi badan dan anggota tubuh lainnya

Demikianlah info Cara Melakukan Terapi Ruqyah dari admin artikelind.com, semoga bermanfaat. [Ai]

Cara Melakukan Terapi Ruqyah | Admin | 4.5