Skripsi PAI Wali Songo Sunan Giri dan Penyebaran Islam

Wali Songo Sunan Giri (Biografi dan Penyebaran Islam di Jawa)

Skripsi pendidikan Islam kali ini yang aka dishare adalah Sunan Giri (Biografi dan Penyebaran Islam di Jawa), semoga bisa bermanfaat.

Contoh Skripsi PAI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejarah merupakan suatu rangkaian peristiwa di masa lampau. Untuk penulisannya diperlukan sumber-sumber yang merupakan bukti sejarah. Sumber itu bisa berupa benda-benda mati seperti peninggalan bangunan, perkakas-perkakas termasuk senjata. Ada juga sumber hidup yakni manusia, yang bisa kita wawancarai untuk memperoleh sumber tertulis.

Sejarah masuknya Islam di Indonesia sangat penting untuk dimengerti, baik oleh kelangan pelajar maupun oleh masayrakat umum. Buku yang berisi sejarah masuknya Islam di Indonesia sudah banyak ditulis.[1]

Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam penyiaran dan penyebaran agama Islam di Jawa pada jaman dahulu dipelopori oleh para muballig Islam yang leibh dikenal dengan sebutan wali. Adapun para wali itu jumlahnya ada sembilan yang dianggap merupakan kepada kelompok dari sejumlah besar para muballig Islam yang bertugas mengadakan operasi di daerah-daerah yang belum memeluk agama Islam. Mengenai nama-nama dari para wai songo yang umum dikenal di kalangan  masyarakat sekarang ialah terdiri dari :

1. Maulana Malik Ibrahim

2. Sunan Ampel

3. Sunan Bonang

4. Sunan Giri

5. Sunan Drajat

6. Sunan Kalijaga

7. Sunan Kudus

8. Sunan Muria

9. Sunan Gunung Jati.[2]

Dalam suatu kegiatan yang dilakukan mahasiswa IAIN Alauddin Makassar Fakultas Adab Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, mempunyai tujuan mengunjungi situs-situs kepurbakalaan di sekitar pulau Jawa dan Bali. Baik situs yang memiliki unsur budaya Hindu Budha, maupun yang sudah berbudaya Islam. Kegiatan itu terlaksana pada bulan oktober 1999. dan diantara situs-situs tersebut yang sempat dikunjungi adalah dua makam wali Songo yatu makam Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim.

Pada kunjungan di kedua situs makam Wali Songo tersebut, makam Sunan Girilah yang paling ramai dikunjugi orang di banding dengan situs makam Maulana Malik Ibrahim. Para pengujung  berdatangan dari berbaai daerah baik dari pulau Jawa maupun dari luar pulau Jawa. Memang bila di banding dengan situs makam Maulana Malik Ibrahim, makam Sunan Giri letaknya lebih strategis, yang berada pada puncak bukit di desa Giri kecamtan Kebomas Kabupaten Gresik Jawa Timur.

Dalam mengujungi situs makam Sunan Giri khususnya, penulis yang diberikan tugas oleh dosen pembimbing pada saat itu mencatat data arkeologi makam tersebut, penulis pun sempat mengadakan wawancara dengan penjaga makam Sunan Giri yaitu Mas Hamim Hasyim dan juga beberapa masyarakat setempat yang mempunyai pengetahuan tentang situs makam Sunan Giri.

Dalam wawancara tersebut, penulis juga sempat menanyakan data historis makam Sunan Giri, baik riwayat hidup Sunan Giri, maupun beberapa keistimewaan yang dimiliki seorang tokoh penyebar agama Islam di pulau Jawa itu.

Setelah mendapatkan penjelasan secara kronologis, timbul dalam benak penulis untuk mengkaji dan mengangkat situs makam Sunan Giri ini sebagai bahan skripsi kelak bila berhasil dan selamat dari misi ini.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah terdahulu, maka masalah pokok dalam skripsi ini adalah bagaiaman peranan Sunan Giri dalam penyebaran Islam di pulau Jawa. Dari pokok masalah tersebut maka dirinci ke dalam beberapa sub mmasalah antara lain :

Bagaimana situasi masyarakat Jawa sebelum kedatangan agama Islam yang di bawah oleh Sunan Giri (Wali Songo).

Bagaimana bentuk organisasi wali songo sebaga wadah penyinaran Islam di pulau Jawa.

Bagaiman latar belakang hidup dan perjuangan Sunan Giri dalam menyiarkan agama Islam di Jawa.

C. Hipotesis

Sebagai jewaban sementara dari sub masalah pokok skripsi ini adalah sebagai berikut :

Pada masa sebelum kedatangan Islam di Indonesia khususnya masyarakat di pulau jawa memeluk agama Hindu dan Budha. Sebagai mana di ketahui, dalam agama Hindu masyarakat itu di baginya dalam beberapa kasta, di antara kasta-kasta tersebut adalah: brahmana (kastanya para pendeta dan pendidik), ksatria (kastanya para raja dan penglima), waisya (kastanya para saudagar dan tukang-tukang) dan Sudra (kastanya kuli-kuli serta para hamba sahaya).[3]

Sebagaimana di ketahui bahwa dalam penyiaran dan penyebaran agama Islam di Jawa pada zaman dahulu di pelopori oleh para muballigh Islam yang lebih di kenal dengan sebutan Wali. Adapun para wali ini jumlahnya ada sembilan yang dianggap merupakan kepala kelmpok dari sejumlah besar muballigh-muballigh Islam yang bertugas menjadikan operasi di daerah-daerah yang belum memeluk agama Islam.[4]

Sewaktu sunan Ampel masih hidup, di Gresik ada pula seorang penganut agama Islam yang terkenal, namanya Raden Paku di sebut juga sebagai Prabu Satmata atau Sultan Abdul Fakih, beliau adalah putera Maulana Ishak dari Blambangan (di Jawa Timur).[5]

D. Pengertian Judul

Skripsi ini berjudul “Sunan Giri” (Biografi dan Penyebaran Islam di Jawa)”. Dalam judul tersebut terdapat kata atau istilah yang digunakan, dengan demikian maka akan diberikan pengertian dari istilah tersebut yakni :

Sunan Giri adalah merupakan tokoh yang paling banyak ditulis di dalam buku Babad Tanah Jawa. Beliau adalah putera Syekh Maulana Ishak, seorang ualam dari tanah Arab yang telah lama bermukim di Pasai Aceh.[6]

Biografi berati riwayat hidup[7]

Dan yaitu kata penghubung antara dua kata.[8]

Penyebaran adalah asal kata dari sebar, yang berarti menaburkan, menghamburkan, menyiarkan.[9]

Islam adalah agama yang dibawah oleh Nabi Muhammad.[10]

Jawa adalah sebuah pulau yang terpadat penduduknya di Indonesia, yang berarti pohon dan buahnya, taman indus indica.[11]

Dari pengertian-pengertian yang terungkap dalam judul tersebut di atas, dapatlah dinyatakan bahwa pembahasan skripsi ini dioprasionalkan pada penelusuran terhadap peran dan pengaruh Sunan Giri dalam pengislaman di Pulau Jawa.

E. Tinjauan Pustaka

Dalam tinjauan pustaka ini, perlu kiranya penulis terlebih dahulu mejelaskan suatu acuan atau pokok-pokok yang merasa perlu dijelaskan, terutama, buku-buku yang relevan dengan judul yang penulis angkat di dalam penulisan skripsi ini.

Yang menjadi pokok yang penting dan yang paling mendasar untuk penulis kaji dan teliti lebih mendalam adalah bagaimana langkah yang dilakukan Sunan Giri dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa yang pada waktu itu masyarkat mayoritas masih beragama Hindu dan Buha, dan bagiamana peranan Suann Giri dalam organisasi Wali Songo.

Dan mengingat pula bahwa judul yang penulis angkat ini belum pernah ada yang membahas sebelumnya, serta menjadi kewajiban bagi setiap mahasiswa sebagai realisasi dari tridarma perguruan tinggi IAIN dalam menyelesaikan studi, dengan harapan agar dapat mewujudkan karya ilmiah yang ada kaitannya dengan disiplin ilmu yang penulis tekuni.

F. Metode Penelitian

Dalam suatu penelitian skripsi, tentu harus menggunakan metode yang sesuai dengan disiplin ilmu, sehingga penulis dapat memberikan hasil yang memadai. Adapun metode-metode yang penulis gunakan yaitu :

1. Metode Penelitian dan Pendekatan.

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian skrispi ini adalah :

Heuristik, yaitu suatu usaha untuk mencari jejak-jejak sejarah.

Pendekatan Historis, yaitu penulis mempelajari tentnag uraian peristiwa-peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi pda masa lampau yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan alam sekitaranya.

Pendekatan Sosiologis, yaitu penulis berusaha untuk menetahui struktur sosial dan proses sosial. Dalam hal ini termasuk di dalamnya keadaan sosial kemasyarakat pulau Jawa sebelum dan sesudah Islam.

 

2.Metode Pengumpulan Data.

a.Heuristik, yaitu suatu usaha untuk mencari jejak-jejak sejarah.

b.Kritik sumber :

  • Primer, yaitu sebuah sumber yang berasal dari saksi pertama dari suatu peristiwa.
  • Sekunder, yaitu sebuah sumber yang diceritakan seseorang dari saksi pertama.

c.Interpretasi Data

  • Induktif, yaitu suatu tehnik penulisan dan penganalisaan data-data yang diperoleh dari pengumpulan-pengumpulan data yang bersifat khusus, kemudian menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum.
  • Deduktif, yaitu cara berfikir yang digunakan dari pengetahuan yang bersifat umum, kemudian penulis menilai guna mendapat kesimpulan khusus.
  • Komperatif, yaitu penulis mengolah data dengan cara membandingkan antara suatu pendapat lainnya, serta menghubungkan dengan pendapat penulis untuk menarik suatu kesimpulan.

G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.Tujuan penelitian, yaitu dapat disebutkan sebagai berikut :

  • Untuk mengetahui bagaimana latar belakang hidup dan kehidupan Sunan Giri.
  • Untuk mengetahui sejauh manakah peranan Sunan Giri dalam menyiarkan agama Islam di pulau Jawa.
  • Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan Islam di pulau Jawa atas jasa-jasa Sunan Giri.

2.Kegunaan Penelitian, yaitu dimaksudkan untuk :

  • Untuk memberikan sumbangsih kepada para pembaca guna menambah pengetahuan yang berhubungan dengan obyek yang dibahas.
  • Dengan adanya penelitian yang berguna untuk menambah pengetahuan yang bertalian dengan masalah yang dibahas, agar dalam penelitian ini dapat memperkaya pengetahuan khususnya dalam hal ini tentang Sunan Giri (Biografi dan Penyebaran Islam di Jawa).
  • Dengan adanya penelitian dapat memberikan input terkhusus dalam segi sumber reverensi tentang masalah yang dibahas.

H. Garis-garis Besar Isi Skripsi

Adapun skripsi terdiri dari lima bab yang dirinci sebagai berikut :

Pada bab pertama, merupakan bab pendahuluan yang mengemukakan latar belakang masalah, kemudian di susun rumusan dan batasan masalah yang mengemukakan beberapa permasalahan sebagai gambaran umum dari apa yang akan dibahas, dari rumusan dan batasan masalah inilah timbul beberapa jawaban sementara yang telah dibahas, dan dilanjutkan dengan uraian singkat tetnang pengertian judul, kemudian tujuan pustaka serta metode penelitian, di lanjut dengan tujuan dan kegunaan penelitian dan terakhir dari bab ini memuat tentang garis-garis besar isi skripsi.

Bab kedua, dalam bab ini di kemukakan gambaran tentang situasi masyarakat jawa sebelum kedatangan Islam yang meliputi agama dan sosial budaya dan keadaan politik dan pemerintah.

Bab ketiga, pada bab ini mengemukkan tentang organisasi wai songo sebagai wadah penyiaran agama Islam di pulau Jawa, yang meliputi pengertian dan latar belakang munculnya, kemudian anggota dan gerakan wali songo, serta tujuan dan pengaruh dakwah wali songo terhadap masyarakat Jawa.

Bab empat, dlaam bab ini di kemukakan tentang sunan Giri dan perjuagannya dalam menyiarkan agama Islam di pulau Jawa, yang meliputi riwaya hidupnya, peranan sunan giri dalam penyiaran Islam di pulau Jawa dan sumbangsih serta jasa-jasa Sunan Giri terhadap perkembnagan Islam di pulau jawa.

Bab lima, pada bab ini sebagai bab penutup skripsi ini, di mana penulis menarik kesimpulan dari beberapa uraian dalam skripsi ini serta beberapa saran-saran.

 

 

[1]Tim Bali, Islam Masuk Jemrana (Jakarta : PT. Karya Unipress, 1984), h 9.

[2]Solichin Salam, Sekitar Wali Songo (Yogyakarta: Menara Kudus, 1960), h. 23

[3]Solichin Salam, Sekitar Wali Songo (Yogyakarta: Menara Kudus, 1960), h. 9

[4]Ibid., h. 23

[5]Ibid., h. 35

[6]H. Lawren Rasyidi, Kisah dan Ajaran Wali Songo (Surabaya: Terbit Terang, t.th), h. 65.

[7]Erhans, Kamus Praktis Bahasa Indonesia (Surabaya: Pasadana Presindo, t.th), h. 53.

[8]Ibid., h. 90.

[9]Ibid., h. 376

[10]Ibid., h. 174

[11]Ibid., h. 179

BAB II

SITUASI MASYARAKAT JAWA SEBELUM

KEDATANGAN ISLAM

A. Agama dan Sosial Budaya

Pada tahun 1939-1941 ahli-ahli penyelidik telah mnemukan di Mojokerto sebuah fosil termasuk rahang dan beberapa gigi dan tulang pada manusia yang menurut teori penyelidikan itu adalah manusia purbakala yang hidup di tanah Jawa pada masa kira-kira lima ratus ribu tahun sebelum Masehi.

Dalam ilmu purbakala, zaman itu dinamai zaman kwartai (zaman keempat). Pada masa itu, manusia belum sempurna kemanusiannya, masih dekat  dengan kehidupan binatang. Fosil (Tengkorak yang pernah membantu) itu pernah didapati orang dekat Solo (di desa Trinil).

Kalau penyelidikan ini kita sangkut pautkan dengan dongeng orang-orang tua, teringatlah kita kepada kepercayaan  mereka di zaman  purbakala  ada raksasa yang besar-besar yang hidupnya pun  berbeda dengan  hidup manusia.  Dan menguntungkan juga bagi kita, sebab ilmu penyelidikan  atas pertumbuhan hidup  manusia  itu sudah  terpisah jauh  dari pada ilmu  sejarah dan telah menjadi ilmu  yang berdiri sendiri, dinamai Antropologi. Ahlipun telah  menerapkan  bahwa pada zaman itu  belumlah  ada kebudayaan  dan peradaban  yang patut disejarahkan.

Adapun agama dan kepercayaan  yang dianut oleh  masyarakat  Jawa dan bangsa Indonesia  umumnya  sebelum masyarakat Islam antara lain :

1. Animisme

Animesme ialah dari kata bahasa latin anima artinya ruh. Sultan Takdir Ali Syahbana mengindonesiakan Animisme itu serba sekma, maksudnya ialah kepercayaan bahwa benda, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusian itu bernyawa.

Animesme adalah kepercayaan yang di peluk oleh bangsa-bangsa yang masih rendah taraf kemajuannya dan bangsa-bangsa yang belum kedatangan agama Allah yang asli.

Di Indonesia masih ada suku-suku yang memeluk animesme, misalnya di Sumatera, Suku Kubu, orang Akit, orang Satai, Semindo, Parumah dan Batak. Di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, bahkan di Pulau Jawa masih ada satu-satu atau orang-orang animis.

2. Agama Hindu

Hinduisme adalah agama dari pada jutaan penduduk di India. Agama Hindu termasuk yang tertua dari agama-agama besar yang masih berkembang sekarang, juga di pandang dari sudut ini Hiduisme, merupakan agama pelik, karena sampai sekarang agama Hindu masih hidup. Sedangkan agama lainnya seperti agama Mesir, Mesopotamia, Yunani Purba, yang kualitetnya tidak kurang dari Hinduisme. Sudah lama tidak ada lagi.

Kitab suci agama Hindu yang mula-mula adalah Regveda, yang timbul kira-kira tahun 1500 SM. Veda berarti pengetahuan. Buku-buku tidak di buat atau di karang sekaligus atau sewaktu umur buku-buku itu berlainan sama sekali karena itu bahasanya berlainan pula.

Regveda merupakan buku yang tertua, bahasa regveda terdiri dari campuran bahasa-bahasa daerah yaitu antara bahasa Indo-Jerman dan bahasa penduduk yang lebih lama di India.

Setelah zaman peralihan yaitu zaman veda ke zaman Brahma, menyusul buku-buku Veda yang lain. Buku-buku itu adalah :

  • Sama Veda (berisi nyanyian yang harus dinyanyikan oleh udgatar (pedanda) waktu menjalankan upacara)
  • Yasjur Veda, (buku ini memuat do’a yang diucapkan oleh advaryu waktu menjalankan upacara).
  • Athar Veda di (bersama-sama dengan Samaveda dan Yajurveda)
  • Athar Veda di anggap dari zaman peralihan ke zaman Brahmana. Atkar Veda ini baru, mendapat bentuknya yang pasti sesudah mengalami pergolakan perkembangan masyarakat yang agak lama. Veda ini terdiri dari 700 sajak.

3. Agama Budha

Agama Budha itu mula-mula disiarkan oleh pangeran Sidharta Gautama Putera raja Sudhadana, “Yaitu raja kapitiwastui di lereng pegunungan Himalaya. Pada suatu ketika di saat Sidharja keliling kota, beliau berjumpa dengan seorang yang sedang gemetar seluruh badannya dan sangat menarik perhatian baginya. Melihat oang itu Solharta bertanya kepada pengawalnya, maka jawab pengawal : itu orang sakit, mendengar jawaban itu Sidharta sangat terharu hatinya.

Perjumpaan dengan orang sakit, seorang pendeba dan seorang mati, menimbulkan sedih dan pilu dalam hati Sidharta. Beliau tidak tahan lagi hidup mewah di dalam Istana. Oleh karena itu beliau meninggalkan Istana, anak dan Istrinya, sejak itulah Sidharta hidup sebagai seorang petapa, mencari ilham dan pembebasan dari penderitaan. Dan sejak itu pulalah Sidharta menjadi Budha yang artinya yang disinari.

Menurut suatu riwayat, peristiwa ini terjadi pada tahun 531 SM. Tahun 480 SM (usia 80 tahun) Sidharta menderita sakit dan meninggal dunia di kusnara Janasahnya di bakar dan upacara besar-besaran, abunya di bagi-bagi menjadi 8 bagian dan di tempatkan dalam Stupa istimewa kuburan dan rumah-rumah kulius berbentuk kubah.[1]

Para ahli purbakala, yang berjasa menemukan fosil-fosil manusia purba di pulau Jawa adalah Evjene Dobois (1890), Van Foening Swald (1936, 1941), dan Van Stein Calenfels (1931). Jenis manusia purba yang di temukan itu hidup pada jaman Paleolitikum. Pada jaman Mozalititum kemudian masuk ke Indonesia pendatang baru yang bernah dari teluk tonfin. Mereka ini berjenis bagsa Malanesoide, yakni bansa yang berkulit hitam, ditemukan di Bacson-Hoabinh (vietmen) menyebar ke daerah-daerah di Indonesia. Hindia belakang dan Luatan Teduh.

Kepulauan Indonesia letaknya sangat strategis lagi pelayaran dan perdangan dunia. Bangsa-bangsa lain yang banyak singgah dan berdagang di tanah air kita. Jalan perdagangan dunia pada jaman lampau melalui dua jalur, yaitu jalur darat dan jalur laut. Jalur ini dimulai dari Cina melalui perairan Indonesia dan selat Malaka menuju India, Dari India ini kemudian ada yang ke Teluk Persia melalui Suriah ke Laut Tengah, dan ada pula yang melalui Laut Merah sampai Laut Tengah.

Dalam perkembangan selanjutnya hubungan dagang antara India dan Cina berkembang semakin pesat. Dari Cina, memperoleh  sutera dan barang-barang porselin, sedangkan India banyak mengekspor barang-barang dari gading, tenunan halus dan barang ukiran dari Cina. Kontak perdangangan ini melibatkan pula para pedagang Indonesia – para pedagang India dan Cina itu banyak yang membeli barang dagangan dari Indonsia, yiatu rempah-rempah, kayu cendana, emas, perak dan lain-lain. Cengkeh yang ketika itu merupakan salah satu hasil kepulauan Indonesia bagian Timur menjadi barang dagangan yang sangat dicari oleh para pedangan India.

Pada mulanya hubungan antara Indonesia dengan India dalam bentuk hubungan dagang. Hubungan ini kemudian berkembang menjadi hubungan agama dan budaya. Proses masuknya pengaruh budaya India ke Indonesia tidaklah berasal dari satu tempat atau daerah lain di Indonesia. Kita tidak mengetahui secara pasti agama mana yang mula-mula datang ke Indonesia. Tetapi pada masa sekitar permulaan tarikh Masehi di Indonesia telah di kenal dengan Hindu dan Budha.

Pada mulanya agama Hindu yang berkembang dan mempunyai banyak pengikut di Indonesia sebelumnya agama Budha juga sudah masuk namun keadaan berkembang. Hal ini terbukti dari agama yang di peluk oleh raja Mulawarman dari Kutai dan raja Purnawarman dari Tarumanegara, yakni agama Hindu.

Seorang pengembara Cina bernama Fa-Hsien yang menyebut-kan bahwa agama Budha di Ye-Pe-Ti (pulau Jawa) tidak banyak padi tahun 414 Masehi fa-hsien datang ke pulau Jawa karena perahu yang di tumpanginya dari India mengalami kerusakan. Kemudian tinggal menetap beberapa waktu di Indonesia. Dia mempelajari kehidupan bangsa Indonesia ketika itu dan mencacatnya. Disebut kaumnya hawa beliaupun pemeluk agama Hindu dan Budha telah dapat hidup berdampingan secara damai. Setelah hidup ber-dampingan selama berabad-abad terjadilah sinkretisme (perpaduan) antara kedua agama tersebut. Hal ini kemudian menembuskan suatu aliran baru yang disebut siwa-budha. Agama ini berkembang pada abad ke-13 Masehi. Penganut aliran ini antara raja Kertanagara dan Adityawarman. Meskipun unsur budaya India mempengaruhi budaya Indonesia, teapi kebudayaan Indonesia tidak hilang kepribadiannya. Dalam perkembanagnnya pengaruh itu mewujudkan budaya Indonesia baru yang coraknya masih terlihat sampai sekarang.[2]

Agama Hindu dinamakan juga agama Brahma. Sesudah timbulnya agama baru yang di bawa oleh sang Budha Gautama, agama ini tidak membesarkan pembagian masyarakat atas kasta. Lain dengan agama Hindu yang membagi masyarakat atas kasta-kasta. Adapun pembagian kasta-kasta dalam agma Hindu adalah sebagai berikut :

  • Brahmana, adalah kasta para pendeta dan pendidik
  • Ksatria adalah kasta para raja dan penglima
  • Kasta Waisya adalah kasta para saudagar dan tukang-tukang
  • Kasta Syudra adalah kasta kuli-kuli serta hamba sahaya.

Namun demikian, rakyat Jawa khususnya yang pada umumnya memeluk kedua agama tersebut masih belum puas serta tentram jiwanya. Kedua agama yang pada hakekatnya bertentangan itu telah dipersatukan menjadi satu agama dengan nama Syiwa Budha. Hal mana hanya terdapat di Indonesia saja.

Mengenai hal ini Dr. Soetjipto Wirjosoeparto mencanangkan austra lain sebagai berikut :

Syiwa Buhda yang ada hanya di Indonesia dan dianggap sebagai ajaran resmi oleh raja Kartanegara dari Singasari pada akhir abad ke 13. Apabila di India agama Syiwa dan agama Budha saling bertentangan berdasar toleransi bangsa Indonesia dan agama itu di persatukan menjadi satu agama yang di sebut Syiwa-Buhda. Bhineka Tunggal Ika dengan mengambil dewa-dewa Syiwa dan Budha menjadi dua aspek dari Tuhan Semesta Alam. Kedudukan dewa besar ini yang sama di kemukakan dalam rumusan Bhineka Tunggal Eka yang sesungguhnya merupakan perumusan yang di beritakan dalam kitab kuno Sutasoma.

Mesikupun rakyat sudah memeluk ajaran baru (Syiwa-Budha) sebagai hasil dari gabungan antara agama Hindu dan Budha, namun rakyat masih merasakan kepincangan-kepincangan di dalam kehidupan mereka setiap harinya. Oleh karena itu lama kelamaan, di kalangan rakyat mulai timbul kegelisahan dan rasa ketidak puasan terhadap keadaan yang ada. Di dalam jiwanya telah menjadi api pemberontakan. Jiwa yang selama ini di tekan akhirnya mulai sadar kembali. Manusia menurut persamaan hak sebagai mana layaknya mereka tidak mau di beda-bedakan antara golongan bangsawan dengan golongan orang kebanyakan.[3]

Masuknya kebudayaan India kemudian menimbulkan berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia. Kerajaan-kerajaan yang bercorak budaya Hindu-Budha itu adalah kerajaan Kutai dan Tarumanegara. Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia letaknya di tepi sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Selah satu peninggalan Kerajaan Kutai adalah prasasti Muarakan. Prasasti ini bertuliskan huruf Pallawa dalam bahasa Sangsekerta. Dalam prasasti atau Yupa itu disebutkan bahwa raja pertama kerajaan Kutai bernama Kunduga (orang Indonesia asli). Kunduga kemudian digantikan oleh putranya bernama Aswawarman yang merupakan pembentuk dinasti (Wangsakarta). Raja Aswawarman ini berputra tiga orang, dan yang terkenal adalah Mulawarman. Raja Mulawarman merupakan Raja terbesar dari kerajaan Kutai.

Untuk memperingati kebaikan raja Mulawarman para Brahama kemudian mendirikan Yupa-Yupa. Di sebutkan pula bahwa agama yang berkembang di Kutai adalah agama Hindu. Para ahli berpendapat bahwa raja-raja Kutai adalah orang Indonesia asli yang menerima pengaruh budaya India.

Kerajaan Hindu tertua yang kedua adalah kerajaan Terumanegara di Jawa Barat. Kerajaan Terumanegara berdiri sekitar abad ke-5 Masehi dan rajanya tetersebut adalah Purawarman. Sumber sejarah adanya Kerajaan Tarumanegara di peroleh dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri yaitu di temukakannya 7 buah, prasasti sebagai berikut :

  • Prasasti Ciaruteun, yang ditemukan di tepi sungai Ciaruteun, daerah Ciampea, Bogor
  • Prasasti Jambu, yang ditemukan di sebelah Barat Bogor
  • Prasasti Kebun Kopi, yang ditemukan di muara Ilir Cibungbulang Bogor
  • Prasasti Pasir Awi, yang ditemukan di dekat Bogor
  • Prasasti Muara Cianten di temukan di dekat Bogor
  • Prasasti Tugu di temukan di Cilincing, Jakarta
  • Prasasti Cidanghiang, di temukan di Lebak Pandaglang (Banten).[4]
  • Sumber sejarah yang menyebutkan adanya kerajaan Mataram Kuno atau Medang Faibhumi Mataram adalah di temukannya prasasti canggal. Prasasti ini merupakan prasasti tertua yang ditemukan di Jawah Tengah. Isinya tentang pendiri sebuah lingga di desa Kunjarakunja di pulau Jawa yang kaya akan padi dan emas oleh raja Sanjaya.[5]

Sekalipun masyarakat Mataram Kuno memeluk berbagai agama, namun mereka hidup damai. Masing-masing agama atau kepercayaan ketika itu dapat berkembang dan hidup berdampingan. Kerukunan hidup beragama tersebut terutama di capai pada tahun 800 M. pada waktu itu dinasti Sanjaya dan dinasti Sailendra yang terpecah dapat bersatu kembali. Sejak saat itu pemeluk agama Hindu dan Budha dapat hidup rukun dan berdampinan secara damai Hal ini terjadi berkat perkawinan Sri Maharaja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya dengan Pramada Wardhani dari Dinasti Sailandra.

Pramodawardhani yang memeluk agama Budha banyak membagun candi-candi sebagai bangunan suci agama Budha misalnya, kelompok candi Plaosan dekat desa Prambanan di Jawa Tengah.

Rakai Pikatan yang beragama Hindu juga banyak mendirikan candi sebagai tempat suci agama Hindu. Misalnya candi Prambanan (Larojonggrang) di desa Prambanan. Hal ini berarti suami isteri keluarga raja tersebut telah hidup berdampingan walaupun agamanya berbeda.[6]

Pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada, Majapahit mencapai zaman keemasannya. Pada masa itu pula di kenal beberapa tokoh sastra yang sampai sekarang nama dan hasil karyanya cukup tenar. Mereka itu di antaranya.

Empu Prapanca : yang menulis buku Negara Kartagama, Buku ini berkisahkan tentang sejarah kerajaan Majapahit dan Singasari beserta raja-raja yang memerintah. Selain itu diceritakan pula tentang kerukunan hidup beragama antara pemeluk agama Hindu dan Budha.

Empu Tantular : yang menulis Buku Sutasoma, dalam buku ini terdapat ungkapan Bhineka Tunggal Ika : Artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Ungkapan ini sekarang di tetapkan menjadi semboyang negara RI, yang dapat kita jumpai debat lambang negara kita.[7]

Jatuhnya Sriwijaya dan Majapahit sebagai kekuasaan Budha dan Hindu telah meperlancar masuknya dan penyebaran Islam di pulau Jawa dan seluruh Nusantara[8]

B. Keadaan Politik dan Pemerintahan

Sekitar tahun 692 M. Sriwijaya telah mengembangkan wilayahnya dengan menaklukkan daerah-daerah disekitarnya, salah satu di antaranya adalah Kerajaan Malaya. Setelah kemenangannya terhadap beberapa daerah dengan kekuatan militer, maka di tulislah dalam sebuah prasasti yang di temukan di kedudukan Bukit di tepi sungai Tatang dekat Palembang.

Kemenangan demi kemenangan yang diperoleh tersebut kemudian di artikan dengan istilah Sriwijaya, artinya kemenangan mulia (Sri: Mulia, Wijaya kemenangan).[9]

Mengenai letak kota Sriwijaya yang sebenarnya dapat kita ketahui dari tulisan I-tsing yang menunjukkan bahwa kota Sriwijaya terletak di daerah Khatulistiwa, sebab bila orang di daerah Sriwijaya berdiri di jalan pada waktu tengah hari, maka tidak akan ada banyangannya. Di samping itu dengan di temukan stupa di daerah Muara Takus, telah memperkuat dugaan bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya berada di sekitar Muara Takus yakni Riau Daratan Sekarang.

Sriwijaya akhirnya mengalami kemunduran sebagai kerajaan yang punya kekuasaan besar. Hal ini dapat dilihat dari berita-berita berikut :

Keterangan dari Cina mengatakan bahwa pada tahun 990 M. raja Dharma Wangsa dari Jawa Timur mengirimkan tentaranya ke Sriwijaya. Pada waktu itu yang memerintah di Sriwijaya adalah Sudamaniwarmadewa Akibat dari adanya penyerangan ini telah melemahkan kerajaan Sriwijaya.

Dari prasasti Raja Rajendra Coladewa, yang ditemukan di Tanjore (India Selatan) di ceritakan bahwa anak dari Raja-raja pertama kerajaan Rajendra Coladewa, telah mengadakan seragam besar-besaran terhadap raja Kadaran (Kataha) dan kerajaan Sriwijaya pada tahun 1023 M, dan dilanjutkan lagi penyerangan kedua pada tahun 1030 M dimana Raja Sriwijaya ditawan oleh Rajendra Coladewa

Dari kitab sejarah Dinasti Sung, diperolah keterangan bahwa Sriwijaya mengirimkan utusan yang terakhir pada tahun 1178 M. Di sini dapat kita ketahui bahwa Sriwijaya masih. Berdiri tetapi tidak begitu terkenal lagi dengan kekuasannya setelah itu beberapa lamanya kerajaan Sriwijaya tidak di sebut-sebut lagi di dalam berita Cina.

Akhirnya pada tahun 1477 Raja Majapahit mengirimkan tentaranya untuk menaklukkan Raja Sumatera yang memberontak terhadap kekuatan Mapahit salah satuny adalah raja Sriwijaya, Maka tamatlah riwayat kerajaan Sriwijaya dari kerajaannya berpindah tangan ke Jawa.[10]

Pada awal abad ke-6 Masehi, Mulailah Jawa Tengah tampil dalam sejarah Indonesia. Di lereng gunung Merbabu sebelah Barat yaitu di desa Dakawu di temukan sebuah prasasti yang dikenal dengan nama Tuk Mas. Prasasti ini tidak berangka tahun, tetapi melihat bentuknya hurup pallawa di duga bahwa tulisan itu lebih muda dari pada tulisan Pallawa yang terdapat pada prasasti Terumanegara. Di perkirakan prasasti ini berasal dari tahun 500 M bahasanya sangsekerta.

Prasasti lain di temukan di desa Sojomerto, Kabupaten Batang (Jawa Tengah Utara). Di dalam prasasti Sajomerto di sebutkan seorang yang bernama Dapunta Salendra, beragama Siwa. Dari bentuk hurufnya dapat di ketahui bahwa prasasti di buat pada awal abad ke 7 Masehi dan berbahasa Melayu Kuno.

Dari prasasti Sojomerto ini diketahui bahwa di Jawa Tengah ada satu Dinasti yang berkuasa atau mempunyai pengaruh pada waktu itu yakni dinasti Alendra. Sailandra artinya “Raja Gunung”.[11]

Prasasti Canggal di temukan di sebelah Barat daerah Malang. Prasasti di tulis dengan hurup pallawa dalam bahasa (Sansekerta yang berangka tahun 654/732 M). Isinya tersebut pendirian sebuah lingga di desa Kunjarakunja di pulau Jawa.

Menurut prasasti yang di temukan tersebut bahwa pulau jawa mula-mula di perintah oleh raja Sanna. Ia memerintah dengan bijaksana dalam tempo yang lama. Setelah raja Sanna meninggal, kerajaan terpecah karena kehilangan perlindungan. Penganti raja Sanna adalah Sanjaya, anak saudara perempuan samua yang bernama Samaha.

Sanjaya naik tahta menjadi raja Mataram kuno dalam waktu yang cukup lama. Dinasti Sanjaya berhasil di tegakkan. Ia berhasil membangun Kerajaan Mataram dan menciptakan kemakmuran bagi rakyatnya. Sejak zaman Sanjaya inilah kerajaan untuk Mataram kuno terus berkembang dan tumbuh menjadi kerajaan besar di pulau jawa.[12]

Tidak diketahui kapan raja Sriwijaya meninggal serta di mana ia didharmakan. Tetapi dari prasasti Kedu hanya dicatat bahwa sanjaya digantikan oleh Rake Panangkaran dan raja-raja yang dibuat oleh Balitung dalam prasasti Mantyasih (Kedu).

Di dalam prasasti itu dicatat raja-raja yang berkuasa di Medang Poh Pitu sampai Balitung adalah :

Dakai Mataram Sang Ratu Sanjaya

  • Sri Maharaja Rakai Pamangkaran
  • Sri Maharaja Ratai Pamunggalam
  • Sri Maharaja Rake Warak
  • Sri Maharaja Rake Garung
  • Sri Maharaja Rake Pikatang
  • Sri Maharaja Rake Kayuwangi
  • Sri Maharaja Rake Watuhumalang
  • Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung[13]

Pengganti Belitung adalah Sri Maharaja Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksaksaya. Sebelum menjadi raja, Daksa pernah menjabat sebagai Rakyam Mahamantri Ilono (kedudukan kedua setelah raja) pada masa pemrintahan raja Balitong. Daksa memerintah dari tahun 913 M – 919 M.

Raja Daksa diganti oleh Tolodhong yang bergelar Sri Maharaja Rake Layang Dyah Sri Sanajasanmatanuragatunggadewa, hingga tahun 924 M. setelah itu muncul penganti Tulodhong yaitu wawa yang bergelar Sri Maharjaa Rake Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamotunggadewa.

Raja Wawa semasa pemerintahannya di bantu oleh Empu Sendok Sri Isanawikrama, yang menjabat sebagai Mahamantri Ilino. Tetapi dengan tiba-tiba pemerintahan Raja Wawa ini berakhir dan muncullah nama Empu Sendok namun di Jawa Timur tidak lagi di Jawa Tengah. Di duga adanya bencama alam yaitu letusan gunung Merapi sehingga kerajaan dan rakyatnya di pindahkan ke Jawa Timur.[14]

Empu Sindok memindahkan pusat pemerintahan Sailendra ke Jawa Timur pada tahun 929, kemudian membentuk wangsa baru yaitu wangsa Isyana. raja-raja yang memerintah dalam dinasti wangsa Isyana adalah :

Empu Sindok bergelar Maharja Rake Hino Sri Isyana Wikramadharmatunggadewa.

Sri Isyamatunggawijaya

Makutawangsawardhana

Dharmawangsa, bergelar Sri Dharmawangsa teguh Anantawikrama-tunggadwa

Airlangga, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri lekeswara Dharmawangsa Air langa Anantawikramatunggadawa,

Tahun 1401 kerajaan Kahuripan di bagi menjadi dua (tugas) pembagian di serahkan kepada Empu Bharadal, yiatu :

a) Jenggala atau Singosari, dengan ibukota Kelampan

b) Panjaku atau kediri, dengan ibukota Daha.

Kerajaan Jenggala di perintah oleh raja Mapanjigarasakan. Kerajaan Kediri di perintah oleh raja Sri Samarawijaya. 1502 selanjutnya selama kurang lebih setengah abad, kedua kerajaan tersebut tidak lagi disebut-sebut dalam sejarah.

Tahun 1117 kerajaan ini tampil lagi dengan rajanya :

  • Sri Maharja. Rakai Sirikan Sri Kameswara
  • Jayabhaya, bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya. Masa ini kitab Bharatayudha di gubah oleh Empu sedah dan di lanjutkan oleh Empu Panuluh (Empu sedah meninggal sebelum kitabnya selesai). Empu panuluh juga menulis buku Hariwangsa dan Gatut Kacasraya.
  • Sri Aryaswara
  • Kameswara, bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikrawarata.

Kerjaan kediri tamat riwayatnya pada tahun 1222, karena di taklukkan oleh Ken Arok.

Riwayat dan pemerintahan Ken Arok serta raja-raja Singasari terdapat dalam buku pararaton dan Negarakertagama.

Raja yang memerintah di kerajaan Singasari adalah sebagai berikut :

Ken Arok, setelah membunuh Tumaga Tunggul Ametung dan manaklukkan kerajaan Kediri tahun 1222 di Genter.

Ken Arok sebaga pendiri dan raja pertama di Singasari bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi,  kemudian keturunannya terkenal dengan sebutan wangsya Rajasa.

Anusapati (Anak tunggal Ametung/Ken dedes), setelah membunuh Ken Arok (Ayah Tirinya), dengan menyuruh seorang pengalaran (budak).

Tohjaya (anak Ken Arok/Ken Umang), setelah mebunuh Arusapati tahun 1248 timbul pemberontak yang dilancarkan oleh :

a. Ranggawuni (anak Anusapati)

b. Mahisa Cempataka (anak Malisa Wango tEleng atau cucu Ken Arok/ Ken Dedes).

5. Ranggawani bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana 1248-1268

Wisnuwardhana memerintah Singasari bersama-sama Mahisa Cempaka sebagai Ratu Angabhaya, yaitu pejabat tingi yang bertugas menanggulangi bahaya yang mengancam kerajaan gelarnya Narasinghamurti.

6. Kerta Negara, bergelar Sri Maharajadhiraja Sri Kertanegara (tahun 1269-1292), Merupakan raja Singasari yang terbesar.

Tahun 1275 di korimnya ekspedisi pernalayu. Daerah-daerah yang di taklukkannya antara lain Bali, Pakang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat Daya) dan Gurun (maluku) serta menjadikan hubungan persahabatan denan Jayasinghawarman raja Canopa.

Tahun. 1292 di taklukkan oleh Tayakatwang dari kediri.

Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya (anak Lembu Tal atau Cucu Mahisa Cempaka) pda tahun 1292. setelah memperdayai bala tentara Kublai Khan dari Cina yang bermaksud menghukum raja Jawa yang telah menghina utusannya yaitu Mengki pada masa pemerintahan kertanegara di Singasari, karena kertanegara telah di hancurkan oleh Jayakatwang dari Kediri mala baka tentara kubilai khan menghancurkan kediri.

Yang selanjutnya atas siasat raden Wijaya di bantu oleh Arya Wiraraja, bala tentara Cina dapat di hancurkan oleh Raden Wijaya. Akhirnya menjadi raja Mapahit pertama dengan gelar kertarajasa Jaya Wardhana.

1)      Tribhuwana sebagai permaisuri

2)      Gayatri, yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit

3)      Narendradukita

4)      Prajana Paramita

Tahun 1309 raja Kertarasara wafat, meningalkan seorang putra dan dua orang putri yaitu :

1)      Jayanegara (dari permaisuri yang kemudian menggantikan ayahnya)

2)      Sri Gitarja (dari Gayatri) kemudian menjadi Bhre Kahuripan

3)      Dyah Wyat (dari Gayatri) kemudian menjadi Bhre Daha.

Pada tahun 1309-1328 Jayanegara mengantikan ayahandanya dengan gelar Sri Jayanegara. Pada masa pemerintahannya timbul beberapa pemberontakan di antaranya :

1)      Pemberontakan Ranggalawe dari Tuban

2)      Pemberontakan Sora pada tahun 1311

3)      Pemberontakan Nambi pada tahun 1316

4)   Pemberontakan kuti pada tahun 1319, Ibukota Kerjaan Majapahit berhasil diduduki dan raja Jayanegara mengungsi ke desa Badander dikawal oleh 15 orang pengawal setia (pasukan Bhayngkari) di bawah pimpinan Gajah Mada. Atas usaha  Gajah Mada Ibu Kota dapat direbut kembali dan Sri Jayanegara bertahta kembali. Atas jasanya Gajah Mada diangkat menjadi patih Kehuripan dan kemudian Kediri.

Jayanegara wafat tidak meninggalakn putra. Maka Gayatri atau Rajapatni berhak menjadi raja. Karena Gayatri telah menjdi Bhiksumi (pendeta wanita beragama Budha), maka di wakilkan kepada Sri Gayatri, Bhre Kahuripan yang bergelar Tribhuana Tunggadewi  Jayawisnuwardhana.

Pada masa pemerintahannya pun timbul pemberontakan Sadeng, yang dapat dipadamkan oleh Gajah Mada, karena jasanya pada tahun 1331 Gajah Mada di angkat mejadi perdana Menteri, yang pada saat pelantikannya mengucapkan Sumpah Palapa.

Tahun 1350 Gayatri atau Raja Patui Wafat, Tribhuana yang mewakilkannya menyerahkan kekuasaannya. Pada anaknya Hayam Wuruk.

Hayam Wuruk naik Tahta pada usia 16 tahun, bergelar Rajasanegara. Beliau merupakan raja terbesar dalam sejarah Majapahit dengan Gajah Mada sebagai Maha Patih.

Kekuasaannya meliputi seluruh kepulauan Nusantara, bahkan masih di tambah dengan Tumasik (Singgapura) dan semenanjung Melayu.[15]

Setelah Gajah Mada wafat, Hayam Wuruk mengadakan sidang Dewan Sapta Prabu, khususnya membicarakan tentang penganti Gajah Mada. Kemudian diputuskan untuk membentuk dean yang dipimpin Pu Nala dan Pu Tanding yang bertugas beberapa bulan saja, kemudian di gantikan oleh gajah Enggon dan Gajah Manguri.

Kematian Gajah Mada di susul dengan kematiah Tribhuana (Ibu Hayam Wuruk) pada tahun 1372. Ia kemudian di Makamkan di Candi Panggih dan akhirnya Hayam Wuruk mangkat pada tahun 1389 yang mungkin sekali di makamkan di Tayung, daerah Berbek, Kediri.

Dengan wafatnya Hayam Wuruk berakhirlah masa kejayaan-kerajaan Majapahit. Raja-raja yang memerintah setelah Hayam Wuruk penuh dengan pertentangan keluarga sampai terjadi perang Paregreg. Dan faktor dari luar dengan datangnya pasukan kerajaan Islam, antara tahun 1515-1521 kekuasaan Majapahit beralih ke tanggan Adipati Unus, Penguasa dari Demak yang beragama Islam. Maka berakhirlah penguasa Hindu yaitu Majapahit.[16]

[1]H. A. Syafi’i Sejarah dan Kebudayaan Islam (Bandung: Armiko 1987). H. 15

[2]C. Juham Wijaya, Belajar Sejarah (Bandung: Armiko, 1994), h. 29.

[3]Solichin Salam, Sekitar Wali Songo (Jakarta : Menara Kudus, 1960) h. 9

[4] E. Juhana Wijaya, op.cit., h. 39.

[5]Ibid., h. 43.

[6]Ibid., h. 49.

[7]Ibid., h. 61

[8]IMD. Yudana, Penuntun Pelajaran Sejarah (Bandung : Ganeca Exact Bandung Cet. II, 1982). H. 165.

[9]Ibid., h. 86.

[10]Ibid., h. 87

[11]Ibid., h. 89

[12]E. Juharma Wijaya, Pelajaran Sejarah (Bandung- Armiko. 1994). H. 43.

[13]IMD. Yudana. op. cit., h. 90.

[14]Ibid., h. 91

[15]Sugeng HR, Rangkuman Pengetahuan Umum Indonesia – Dunia (Semarang: Aneka Ilmu. 1999). H. 54.

[16]IMD. Yudana op. cit., h. 116.

BAB III

ORGANISASI WALI SONGO SEABGAI WADAH

PENYIARAN ISLAM DI PULAU JAWA

A. Pengertian Wali Songo dan Latar Belakang Berdirinya

Dikalangan masyarakat Jawa, sebutan wali songo merupakan sebuah nama yang sangat terkenal dan mempunyai arti khusus, yakni digunakan untuk menyebut nama-nama tokoh yang dipandang sebagai mula pertama penyiar agama Islam di tanah Jawa.

Kata Wali Songo merupakan sebuah perkataan majemuk yang berasal dari kata wali dan songo. Kata wali berasal dari bahasa Arab, suatu bentuk singkatan dari wahyullah, yang berarti orang yang mencintai dan dicintai Allah. Sedangkan kata songo berasal dari bahasa Jawa yang berarti sembilan. Jadi dengan demikian, wali songo berarti wali sembilan, yakni sembilan orang yang mencintai dan dicintai Allah.1

Wali songo artinya sembilan wali nama suatu dewan dakwah. Sebenarnya jumlahnya bukan hanya sembilan. Jika ada anggota wali songo meninggal dunia atau kembali ke negeri seberang maka akan diganti anggota baru. Songo atau sembilan adalah angka keramat, angka yang dianggap paling tinggi, dewan dakwah tersebut sengaja dinamakan wali songo untuk mendapat simpati rakyat yang pada waktu itu masih belum mengerti apa sebenarnya agama Islam itu.2

Yang dimaksud dengan kata-kata wali adalah orang yang berhasil mendekatkan diri kepada Allah, maka dinamakan waliyullah artinya kekasih Allah. Adapun yang dimaksud dengan wali songo adalah sembilan orang waliyullah yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dan sekitarnya pada abad ke 15 dan 16 Masehi.

Mereka datang dari berbagai negeri dan kader kepada masyarakat Jawa dengan menyebarkan agama Allah (Islam). Wali songo adalah nama suatu himpunan/kesatuan muballiq yang bertugas untuk memimpin masyarakat agama Islam dimasyarakat luas. Jadi pada hakekatnya yang disebut wali songo itu bukan hanya seorang saja. Sebenarnya lebih dari jumlah itu. Cuma saja jumlah itu hanya merupakan suatu ketetapan dari organisasi yang didirikan.3

Mengenai terminologi wali songo ini, Prof. Kyai Haji Raden Mohammad Adnan pernah mengajukan pendapat bahwa perkataan songo dalam terminologi wali songo merupakan perubahan dari perkataan sana yang berasal muasal dari perkataan bahasa Arab, tsana yang searti dengan mahmud, artinya yang terpuji. Dengan demikian wali songo berarti wali-wali yang terpuji. Dan pada kenyataannya dalam khazanah kepustakaan naskah sejarah tradisional yang berasal dari tanah Jawa, kita memang menemui beberapa buah naskah yang berjudul wali sana.

Namun demikian tidak berarti bahwa pada perkataan wali songo menurut Amin Budiman berasal dari perkataan wali sana, seperti yang dikemukakan oleh Prof. Kyai. Haji Raden Muhammad Adnan. Oleh karena menurutnya perkataan wali songo benar-benar wali sembilan, tidak ubahnya artian perkataan jawa yang serupa, misalnya kembang telon yang berarti serangkum kembang yang terdiri dari tiga jenis kembang kenanga, kantil dan melati.4

Angka sembilan merupakan angka mistik pada masyarakat Jawa sebelum Islam didasarkan pada faham klasifikasi bahwa manusia alam semesta mempunyai hubungan yang erat. Seluruh benda-benda di alam ini masing-masing mempunyai (kosmos) tempatnya sendiri yang keseluruhannya merupakan satu kesatuan yang utuh. Orang Jawa percaya bahwa alam semesta ini diatas dan dipinpin serta dilindungi mata angin dan satu dukun sebagai penjaga dan pelindung arah pusat, sehingga keseluruhannya ada sembilan.

Meskipun sesungguhnya wali penyebar agama Islam di Jawa tidak hanya sembilan orang tetapi mereka memilih jumlah itu hanya sekian, hal ini berhubungan erat dengan dasar klasifikasi yang sudah mereka miliki. Wali songo di persamakan dengan dewa-dewa penjaga mata angin dalam fungsinya sebagai penjaga dan pelindung masyarakat dan agama Islam disegenap tanah Jawa.

Selanjutnya songo dalam wali songo oleh sebagian pembahas dihubungkan dengan kata asana bahasa sansekerta yang artinya tempat waduk. Ini dihubungkan dengan nama wali yang digelar dengan nama tempat dimana mereka tinggal. Ja’far sidiq lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, Raden Rahmat dengan Sunan Ampel dan Raden Patah dengan sebutan Sunan Giri.

Demikian pula dengan wali-wali yang lain dikenal dimana mereka menetap dari pada nama sendiri. Selain berpendapat bahwa kata songo berasal dari kata sangka, istilah dari Budha yang berarti perkumpulan atau jama’ah Bhiksu (ulama) Budha. Bila pendapat ini diterima maka wali songo berarti perkumpulan atau jama’ah para wali. Pendapat ini tidak mustahil mengingat bahwa para wali satu sama lain saling bertemu dan mengadakan pertemuan untuk membahas perkembangan agama Islam di Jawa.

Apapun pendapat asal-usul kata songo baik dari kata Arab Tsana yang berarti terpuji, atau dari asana yang berarti tempat, atau sangka yang berarti jamaah atau sango yang berarti sembilan, kesemuanya bisa tergabung oleh karena para wali memang orang-orang yang terpuji karena perjuangannya, mereka itu lebih terkenal karena tempat dimana mereka menilai para wali itu berkumpul untuk memusyawarahkan sesuatu dan mereka berjumlah sembilan sesuai dengan keyakinan mistik atau angka sembilan yang dimiliki orang Jawa.5

Sewaktu rombongan para muballiq Islam yang terdiri dari para pedagang yang dipelopori oleh Maulana Malik Ibrahim datang ke tanah Jawa, saat itu kepercayaan dan keyakinan rakyat Jawa terhadap agama Budha dan Hindu masih kuat dan tebal sekali, sehingga tidak mungkin mereka diajak untuk memeluk agama Islam dengan jalan kekerasan, disamping jalan kekerasan itu sendiri tidaklah sesuai dengan jiwa Islam yang hakiki. Mereka memilih jalan kebijaksanaan dan musyawarah dalam menyiarkan agama Islam, sehingga mereka menempuh jalan dengan cara menyesuaikan ajaran-ajaran Islam dengan kepercayaan rakyat setempat.

Para pedagang yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Wali Songo itu memperkenalkan ajaran Islam kepada rakyat sedikit demi sedikit sesuai tingkah berpikir mereka. Hal ini dimaksudkan agar rakyat yang masih kuat kepercayaannya terhadap agama Hindu tidak merasa aneh dan kaget, atau bosan merasa tersinggung. Cara yang ditempuh oleh wali songo tersebut sangatlah tepat, mengingat ketika itu nenek moyang kita masih kuat kepercayaannya terhadap ajaran-ajaran Hindu dan Budha. Bahkan masih banyak diantara mereka yang percaya dan memuja roh-roh nenek moyang (animisme) yang sampai sekarang belum lenyap dari keyakinan dan kepercayaan dalam kehidupan masyarakat di negara kita ini.6

Sudah menjadi kesepakatan, bahwa para penyebar agama Islam di tanah Jawa adalah para ulama yang disebut wali songo. Kisah tentang mereka penuh keajaiban dan hal-hal yang sangat aneh, sebagaimana kisah ajaib kaum sufi di belahan Timur Tengah.7

Ketika pusat-pusat kerajaan Indonesia yang bercorak Hindu, seperti Majapahit dan Sriwijaya, menjalani kekacauan politik, maka adipati-adipati pesisir berusaha melepaskan diri dan mengadakan hubungan langsung dengan pedagang miskin. Mereka termasuk golongan pertama yang menerima agama Islam, bahkan kemudian melalui pengaruhnya mereka juga menjadi penyebar agama. Perubahan kekuasaan dan pergeseran di kota-kota pelabuhan jawa mempunyai pengaruh besar terhadap perpecahan politik yang sedang berlangsung dipusat kraton. Dengan demikian ada faktor yang saling pengaruh-mempengaruhi antara perkembangan masyarakat dengan pedagang golongan bawah yang terlibat dengan perdagangan miskin. Lambat laun juga menerima agama Islam. Walaupun demikian proses, Islamisasi yang berjalan melalui tingkat raja dan bangsawan boleh mempercepat berkembangnya Islam di Indonesia.

Menurut cerita tradisional dan sumber babad, yang dianggap sebagai pembawa dan penyebar agama Islam di tanah jawa ialah para wali. Sumber itu juga menyebabkan bahwa tidak semua wali berasal dari luar Indonesia. Mereka adalah keturunan jawa diatara sekian wali yang paling terkenal ialah wali songo yang jumlahnya (sesuai dengan namanya) gorong. Diantara paar wali tersebut Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel Denta yang sebleumnya telah bertempat tinggal dikampung Ampel Denta (Surabaya). Sunan Kalijaga yang sebelumnya bergelar Jaka Sayid adalah putra seorang Tumenggung Majapahit. Sunan Giri adalah putra seorang muslim yang bernama Maulana Ishak yang kawin dengan seorang putri Blambangan. Sunan Gunung Jati menurut babad Cirebon adalah putra Syarif Abdullah yang menikah dengan Rara Sabang aatu Syarifah Modarni, putri Prabu Siliwangi.8

Jika ceritera dalam babad itu benar, maka para wali terutama wali songo adalah golongan penerima agama Islam yang kemudian dengan semangat dakwah yang sangat tinggi menyebarkan agama dikalangan masyarakat.

B. Anggota dan Gerakan Wali Songo

Menurut catatan ahli sejarah, agama Islam masuk ke pulau Jawa sekitar abad XI Masehi yang dibawa oleh para pedagang dari Arab dan disebarkan muballiq dari Pasai (Aceh Utara).

Tetapi sebagian lagi dari ahli sejarah mengatakan, bahwa agama Islam masuk ke Indonesia yang pertama adalah di pulau jawa. Karena pada tahun 929-949 M. masa kekuasaan Prabu Sindok, para saudagar dari pulau Jawa sudah banyak yang berlayar sampai ke Baghdad. Demikian juga para pedagang dari persia dan gujarat sudah ada yang datang ke Indonesia.

Dikatakan lebih dahulu di pulau jawa, karena ditemukan satu bukit pada batu nisan seorang wanita Islam yang bernama Fatimah Binti Maimun yang di makamkan di Desa Ceran Gresik, tertulis wafatnya tahun 475 H. atau tahun 1082 M. adapun yang didatangi pertama oleh Islam di pulau Jawa, yaitu di daerah-daerah pesisir Jawa Timur. Agama yang nampak perkembangannya di pulau Jawa itu, sejak datangnya Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang kemudian menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Timur.

Untuk perkembangan selanjutnya ditingkatkan oleh adanya para wali yang terhimpun dalam nama wali songo (wali sembilan) sehingga meluaslah Islam ke seluruh Tanah Jawa.1

Tentang siapa-siapa yang termasuk dalam kelompok walisongo itu, dikalangan masyarakat jawa tidak menjumpai kesatuan pendapat umumnya orang berpendapat bahwa yang termasuk kelompok walisongo adalah sebagai berikut :

1.       Syekh Maulana Malk Ibrahim

2.       Sunan Ampel (Raden Rahmat)

3.       Sunan Giri (Raden Paku)

4.       Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

5.       Sunan Bonang (Malikul Ibrahim)

6.       Sunan Drajat

7.       Sunan Kaligaja

8.       Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)

9.       Sunan Muria (Raden Prawata).

          Susunan yang sembilan ini kemudian berbah-ubah karena adanya pendapat yang berbeda-beda antara lain :

  • Tidak dimasukkannya Maulana Malik Ibrahim sebagai salah seorang dari wali songo, mengingat masa hidupnya tidak bersamaan dengan para wali yang lain, beliau wafat 1419 M.
  • Juga Sunan Ampel masa hidupnya lebih dahulu dari para wali yang lain karena adanya pendapat bahwa terbentuknya wali songo adalah setelah Raden Rahmat meninggal.
  • Adanya perbedaan pendapat mengenai wali Sunan Gunung Jati. Apakah itu yang disebut Syarif Hidayatullah atau Fatahillah/ Faletekan.
  • Sunan Muria itu apakah yang disebut Sunan Prawato atau Raden Sahid, dan sebagainya.2

Pemerintah Daerah Gresik malah tidak mencantumkan nama Syekh Maulana Malik Ibrahim sebagai anggota wali songo. Ini bukan berarti Sunan Gresik bukan anggota wali songo, melainkan data tersebut diambil sesuai dengan periode tertentu dimana Syekh Maulana Malik Ibrahim sudah meninggal dunia, sehingga wali tertua atau sesepuh wali songo pada waktu itu adalah Sunan Ampel. Dan Raden Patah atau Sunan kota masuk ke dalam anggota wali songo.3

Dalam babad Cirebon, naskah Nr. 36 koleksi Brandes dikemukakan bahwa yang dimaksud wali songo tidak lain adalah Suann Bonang, SunanGiri Gajah, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Syekh Majagung, Maulana Magribi, Syekh Bentong, Syekh Lemah Agung, dan Sunan Gunung Jati Purba.

Bahkan dalam nukilan sejarah Cirebon disebutkan bahwa pada tahun 1426 para wali, dibawah pimpinan Sunan Ampel, telah menjadikan musyawarah membentuk dewan wali sembilan dengan imam Sunan Gunung Jati yang beranggotakan sembilan orang wali, yaitu Sunan Ampel, Syekh Maulana Magribi, Pangeran Bonang, Sunan Undung, Sunan Kalijaga, Pangeran Kudus, Syekh Lemah Agung, Syekh Bentang, dan Syekh Majagung. Dengan demikian termasuk Sunan Gunung Jati sendiri jumlah wali menjadi sepuluh orang.

Sedangkan jika menyimak babad tanah jawi yang berasal dari Jawa Tengah maka tidak akan dijumpai nama Syekh Majagung, Syekh Bentong, dan Maulana Magribi. Sebagai gantinya akan dijumpai Sunan Ampel, Sunan Muria, dan Sunan Drajat. Dalam kitab wali sepuluh yang dihimpun oleh Karto Sudjono ada disebutkan sepuluh wali, yakni Sunan Ampel Denta, Sunan Kalijaga, Sunan Giri Gajah, Syekh Lemah Agung, Syekh Bentang, Sunan Kudus, Syekh Maulana Maghribi, Sunan Mojo dan Sunan Jati Purba.

Para wali ini dalam melaksanakan dakwahnya, disesuaikan dengan keahlian ilmu dan wilayahnya masing-masing. Pada waktu-waktu tertentu, para wali ini bertemu dan bermusyawarah, di Demak, Tuban maupun di Cirebon. Didalam musyawarah para wali inilah ditentukan garis-garis perjuangan, baik dibidang agama maupun dibidang pemerintahan dengan titik berat perjuangan pengembangan Islam, terutama dibidang teknis dan sarana pengembangan. Juga dalam musyawarah para wali ini ditemukan kesulitan-kesulitan serta memutuskan apabila terjadi perselisihan pendapat, mengingat wali pengganti dan sebagainya.4

Memang wali songolah rupa-rupanya perintis utama dakwah Islam di Indonesia ini. Merekalah yang telah berjasa sebagai pelopor-pelopor penyiaran agama Islam yang giat dan bersemangat di nusantara ini. Sehingga mereka mendapat gelar Islam yang mulia ini. Drs. R. Soekmono, seorang dosen ahli purbakala dan sejarah kebudayaan di UGM, sebagaimana mengakui akan hal ini. Sebagai mana dituturkan sebagai berikut :

Wali songo atau sembilan waliyullah, diberi julukan demikian karena mereka dianggap sebagai penyiar-penyiar terpenting dari agama Islam, mereka yang dengan sengaja giat sekali menyebarkan dan mengajarkan pokok-pokok agama Islam.5

C. Tujuan dan Pengaruh Dakwah Wali Songo Terhadap Masyarakat Jawa

Dari hasil penelitian sejarah di temukan bahwa agama Islam menyebarkan di Indonesia dan khususnya di pulau jawa adalah melalui hubungan perdagangan dan pengembangan ulama-ulama Sufi yang merupakan juru dakwah yang paling bersemangat sesudah kekhalifaan Baghdad runtuh pada tahun 1258. sangat mungkin, para guru-guru tarekat tersebut mengembara sambil berdagang dan menyiarkan agama.[6]

Kaum orientalis dan Weerka dan mereka yang memusuhi Islam telah menuduhkan suatu kebohongan besar atas sejarah wali songo, ini dapat kita lihat pada dialog antar sunan kalijaga dengan prabu Brawijaya yang termuat dalam surat Darmu Gandal. Di satu penulis Darmo Gandul Sengaja melahirkan ajaran-ajaran agama Islam dan mendeskreditkan Raden Patah Jilancu Sultan Damati Bintaro sebagai anak durhaka karena berani menyerang ayahandanya Jilaku Raja Majapahit padahal Mahapahit bukannya jatuh oleh Dimak, melainkan oleh seorang raja keling Kediri. Baru sesudah itu pihak Demak yang notabene pewaris kerajaan atau Majapahit menyarangkan Raja Girindrawardhana dari Kidiri.

Para wali sama sekali tidak menggunakan kekerasan untuk berdakwah. Mereka menempuh jalan damai, dakwah bilhal, dengan tingkahlaku dan perbuatan mereka sendiri yang sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga tampaklah mutu dan ketinggian agama Islam yang sangat demokratis itu.

Kisah perjuangan mereka sangat unit. Pada saat berhadapan dengan rakyat jelata, rakyat awam, orang sakti, para sarjana (brahmana dan pendeta Budha) maupun ketika berhadapan dengan para penguasa.

Kita menuju keberhasilan mereka pantas kita renungkan, kita jadikan, pijakan untuk melangkah kejaman modern ini dengan tantanan dakwah yang berbeda namun pada hakekatnya sama yaitu mengembangkan agama Islam di daerah masing-masing.[7]

Mereka ini kemudian mensentralisir aktivitasnya, dengan menjadikan kota Demk sebaga pusat kegiatan meraka. Atas perintah Sunan Ampel, Raden Patah ditugaskan mengajarkan agama Islam serta membuka Pesantren di desa Glagah Wangi termasuk daerah Kabupaten Jepara pada waktu itu, yang kemudian terkenal dengan nama Bintoro.[8]

Dalam menjalankan tugas dakwah (menanamkan nilai-nilai Islam) tentulah model dakwah walisongo tersebut sesuai dengan tujuan dakwah Islam itu sendiri. M. Masyhur Amin menjabarkan tujuan dakwah menjadi tiga hal.

Pertama, adalah menanamkan akidah yang mantap di setiap hati seseorang, sehingga keyakinannya tentang ajaran Islam tidak dicapai dengan rasa keraguan.

Penyebarluasan nilai-nilai Islam yang dilacarkan oleh Raden Rahmat untuk kawasan Surabaya, misalnya terlihat dari munculnya lengenda Surabaya tentang kisah Jaka Jumput. Legenda Jaka Jumput mengisahkan bahwa asal-asal patung kartanegara dalam wujud Buhda yang dembah oleh rakyat Surabaya dewasa ini pada dasarnya bukan dewa yang sebenarnya, melainkan anak raja Kediri yang bernama Jaka Taruna yang telah berbuat licik dan meniru Jaka Jumput. Oleh sebab itu patung batu yang disembah rakyat itu oleh Raden Rahmat kemudian di beri nama joko dolog yang berarti pemuda kebingungan.

Kedua adalah tujuan hukum. Maka dakwah harus di arahkan kepada kepatuhan setiap orang terhadap hukum yang telah di syariatkan oleh Allah SWT. salah satu upaya para wali dengan menyebarluaskan nilai-nilai Islam kepada masyarakat jawa agar mau memasuki hukum syaria’ah Islam adalah dengan membentuk nilai tandingan bagi ajaran Yoga-Tantra yang berasaskan Malima. Konsep Ma-lima Versi Ulama adalah sebagai berikut : Madat (memakan candu), main (berjudi), maling (mencuri), nimum (minum-minuman keras) dan madon (berzinah).[9]

Tujuan dakwah yang ketiga adalah menanamkan nilai-nilai akhlak kepada masyarakat jawa. Sehingga terbentuk pribadi muslim yang berbudi luhur, dihiasi dengan sifat-sifat terpuji dan bersih dari sifat tercela. Para wali dalam menanamkan dakwah Islam di Tanah Jawa di tempuh dengan cara-cara yang sangat bijak dan adiluhung.[10]

Dinyatakan dalam suatu catatan yang terhimpun dalam sebuah primban milik Prof. Moh. Adnan, sebagaimana dikutif oleh Wiji Saksono, perihal jejak para wali dalam usahanya mengislamkan tanah jawa, adalah senantiasa mengubah hal-hal lama yang tidak bersesuaian dengan Islam.[11]

Pada Strategi dakwah wali songo dalam memasyarakatkan Islam pada waktu itu, kiat mereka tetap relevan untuk diterapkan di jaman sekarang dalam bentuk yang berbeda namun hakikatnya tetap sama, misalnya memanfaatkan kesenian sebagai media dakwah, kalau pada jaman dulu mereka menggunakan gending dan gamelan serta tembang untuk mengisi rohani umat kita bisa melakukannya melalui media masik modern yang banyak di sukai ummat.[12]

Mereka juga memanfaatkan media masyarakat pada saat itu sebagai sarana penunjang dakwah. Mereka berusaha keras menciptakan budaya baru yang penuh kreatifitas sehingga lahirlah aneka jenis mainan dan dolanan anak-anak yang bermafaatkan falsafat islami, baik berupa tembang atau lagu, gending terian dan aneka jenis permainan lainnya.

Mereka juga menciptakan sastra Jawa yang sangat tinggi nilai estetis dan falsafahnya, seperti suluk, lakon wayang larnagan Dewa Ruci, dan beberapa karya sastra lainnya.[13]

Hasil sukses yang diperoleh walisongo dalam menyebarkan dakwah Islam di Tanah Jawa tidak bisa lepas dari metode dakwah yang dipakai kalat itu. Dalam Al-Qur’an Allah SWT. memberikan tuntutan dakwah yang baik dan benar. selaras dengan itu Rasulullah SAW telah pula memberikan contoh teladan bagaimana cara melaksankana tuntutan tersebut dalam arena praktis.

Dalam berdakwah, secara konseptual walisongo menerapkan metode yang disebut dengan istilah Mau’idhah al-hasanah wal mujadalah hiya ahsan. Metode ini digunakan oleh mereka dalam tokoh-tokoh khusus seperti pemimpin, orang terpadnang dan terkemuka dalam masyarakat, seperti para bupati, adipati, raja-raja maupun menghadapi para bangsawan lainnya.[14]

Bangsa Indonesia yang sekarang ini populasinya sekitar 89% memeluk agama Islam dan sebagian besar berdiam di pulau Jawa. Semua itu apabila kita telah dengan teliti adalah merupakan hasil kerja dakwah yang dilakukan oleh walisongo tempa dulu. Sebagai bukti keternagna ini dapat kita tinjau hasil kerja dakwah para wali tersebut. Sebagai contoh ialah dakwah pengislaman yang dilakukan oleh sunan Ampel dan kawan-kawannya telah berhasil mengislamkan tokoh-tokoh penting antara lain : Adipati Arya Damar, istri serta anak negerinya di Palembang. Prabu Brawijaya dan permaisuri (putri darawati), sekalipun yang berhasl diIslamkan secara benarn adalah permaisurinya saja, kemudian dakwah sunan Ampel juga telah berhasil mengislamkan Sri Lembu Peteng dari Madura.[15]

Sehubungan dengan datangnya Islam, kehidupan masyarakat kita banyak di pengaruhi oleh cara-cara hidup yang didasarkan asas kasta atau kelas-kelas sosial Ekonomi. Demikian juga dalam hal kepercayaan. Mereka mengenal bentuk kepercayaan yang disebut Animisme, dinamisme, Hindu dan Budha.

Melihat kenyataan yang demikian ini, maka para wali kemadian menyiarkan agama Islam dengan cara bijaksana kebijaksanaan yang hidup dan berkembang di antara rakyat tidak sepenuhnya dikilangkan. Bahkan adat-Istiadat nenek moyang yang masih melekat pada umat Islam.

Demikian juga halnya dengan pembangunan mesjid (tempat ibadah) waktu itu , bentuknyapun disesuaikan dengan rumah-rumah peribadatan Budha. tulah sebabnya maka kebanyakan raja hindu waktu itu semula tidak menganggap islam sebagai tantangan, sebagaimana perkataan Brawijaya kepada sayid Rahmat dan sayid Rahman dari Gampa. aksud agama Islam dan agama budha sama benar, yang berbeda ialah peraturan-peraturan mengenai upacara-upacara agama itu . Tetapi hal itu tidak mengapa .

Di antara pengaruh para wali yang sampai sekarang nampak, yang terbesar adalah pengaruh mereka dalam kesultanan demak waktu itu.[16]

Kerajaan Demak kemudian berkembang menjadi kerajaan besar dibawah pimpinan raja dan wali songo sebagai penasehat kerajaan, kerajaan Demak menjadi semakin besar dan menjadi pusat penyebaran agama Islam.

Sejak kesultanan Demak ini waliyullah sudah berfungsi sebaga waliyul Amri  yang memegang kekuasaan atau memimpin kaum muslimin dalam suatu pemerintahan.

Dengan di jadikannya Demak sebagai pusat pemerintahan Islam, maka Masjid Agung Demak yang telah didirikan oleh para wali Sewaktu mereka hendak memmperluas agama Islam di Pulau Jawa semakin besar.[17]

Dari keterangan-keterangan terdahlu, jelaslah peranan oganisasi Wali Songo di mana di dalam terlibat Sunan Giri, sangat mengambil andil dalam penyiaran Islam di Pulau Jawa.

1Ririn Sofwan, Wasit dan H. Mundari, Islamisasi di Jawa (Semarang : Pustaka Pelajar, 1999), h. 7.

2W.B Rahimsyah AR, Biografi dan Legenda Wali Songo dan Para Ulama Penerus Perjuangannya (Surabaya : Indah Surabaya, 1997), h. 8.

3Baidlowi Syamsuri, Kisah Wali Songo Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa (Gresik : Apollo, 1995), h. 10.

4Drs. Ririn Sofwan, loc.cit.,

5Ibid

6Imran Abu Amar, Sejarah Ringkas Kerajaan Islam Demak (Kudus : Menara Kudus, 1996), h. 13.

7W.B Rahimsyah AR, Kisah Wali Songo (Surabaya : Duta Media, tth), h. 5.

8Nugroho Notosusanto dan Yusmar Basri, Sejarah Nasional Indonesia (Jakarta : Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, 1981), h. 24.

1Baidlowi Syamsuri, Kisah Wali Songo (Gresik : Apollo, 1995), h. 9

2Ririn Sofyan, Islamisasi di Jawa (Semarang : Pustaka Pelajar, 1999), h. 11

3W.B Rahimsyah, Legenda dan Sejarah Lengkap Wali Songo (Surabaya : Amanah, tth), h. 6.

4Ririn Sofyan, op.cit., h. 13.

5Ibid., h. 231.

[6]Ririn Sofwan, op. cit., h. 246.

[7]H. Lawrens Rasyidi, Kisah dan Ajaran Wali Songo (Surabaya: Terbit Terang t.th),  h. 10

[8]Solichin Salma, Sekitar Wali Songo (Yogyakarta : Menra Kudus 1960). h. 14

[9]Drs. Ririn Sofwan op. cit., h. 247 .

[10]Ibid., h. 252

[11]Ibid., h. 253.

[12]M.B. Rahimsyah,  Lengenda dan Sejarah Wali Songo (Surabaya: Amandi t.th), h. 6

[13]H. Lowrens Resyidi, loc. cit.

[14]Ririn Sofwan, op. cit., h. 266.

[15]Ibid., h. 281

[16]Maftuh Ahman, Wali Songo Hidup dan Perjuagnannya (Surabaya: Anugrah, 1414 H). h. 69.

[17]Ibid., h. 72.