Skripsi PAI Shalawat dalam Perspektif Alquran

Shalawat dalam Perspektif Alquran (Suatu Kajian Tafsir Tematik)

Artikel Indonesia kembali mepublikasikan salah satu contoh skripsi PAI dengan judul Shalawat dalam Perspektif Alquran (Suatu Kajian Tafsir Tematik), semoga bermanfaat bagi para pembaca setia artikel bagus.

 Contoh Skripsi PAI

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Alquran merupakan petunjuk dan undang-undang yang  harus ditaati dan diamalkan oleh setiap muslim.[1] Allah menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul-Nya yang sebaik-baiknya teladan hidup bagi umat Islam.[2]

Salah satu tugas penting Rasulullah saw. adalah membimbing ummatnya ke jalan yang lurus (agama Islam),[3] demi kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat kelak. Oleh karena itu, keingkaran terhadap Rasulullah saw. termasuk dosa besar. Sedangkan keimanan terhadapnya dan melaksanakan segala perintahnya termasuk ibadah yang bernilai amal shaleh.

Itulah sebabnya, dalam banyak ayat Allah swt. memerintahkan untuk senantiasa mentaati RasulNya. Misalnya ;

1. QS. Ali Imrân (3):32

… قُلْ اَطِيْعُوْا اللهَ وَالرَّسُوْلَ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِيْنَ

Terjemahnya:

“…Katanlah: ‘Ta’atilah Allah dan rasulNya’ jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang Kafir…”.[4]

2. QS. al-Nisa (4): 80

… مَنْ يُطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ …

Terjemahnya:

“…Barang siapa yang ta’at terhadap Rasul Allah, maka sesungguhnya ia mena’ati Allah…”.[5]

3. QS al-Hasyr (59): 7

… وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا …

Terjemahnya:

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya kamu mengerjakannya maka tinggalkanlah….”[6]

Sebagai pengejawantahan rasa taat dan cinta ter-hadap Rasul saw, di kalangan Islam muncul sebuah fenomena sosial keagamaan yang cukup menarik, yakni budaya bershalawat. Menariknya, persoalan tersebut disebabkan karena di satu sisi budaya itu bersifat simbolistik, tapi di sisi lain merupakan reduksi dari nash yang bagi umat Islam diyakini sebagai hal yang positif.[7]

Term shalawat berasal dari kata shalat yang berarti doa.[8] Tetapi, masyarakat umum memahami bahwa shalawat merupakan wahana kedekatan terhadap Nabi saw. Pada sisi lain, shalawat diidentikkan dengan amalan ritual disertai pujian-pujian terhadap Nabi saw.

Bagi kalangan tertentu umat Islam, fenomena di-maksud dianggap sebagai hal yang wajar dan bahkan sering dijadikan sebagai tolok ukur kecintaan umat terhadap Nabi saw. Boleh jadi konsep seperti itu muncul dari pertimbangan logika bahwasanya seseorang yang mengaku mencintai sesuatu, tentu saja akan sering disebut-sebutnya. Konteks seperti ini, memang telah ditunjukkan oleh sikap Allah swt dalam QS. al-Ahzâb (33): 56 bahwa ;

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَيْ النَّبِيِّ، يَااَيُّهَا الَذِّيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ

وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Terjemahnya :

“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya ber-shalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”[9]

Realisasi shalawat yang terinterpretasi dari ayat di atas, oleh al-Syaukâniy menyimpulkan tiga rumusan pokok. Yakni;

  1. Shalawat Allah swt. terhadap Nabi saw. adalah pelimpahan rahmat terhadap hamba pilihanNya.
  2. Shalawat Malaikat terhadap Nabi saw. adalah permohonan kepada Allah agar Nabi saw. senantiasa diberi magfirah.
  3. Shalawat orang-orang beriman terhadap Nabi saw. adalah penghormatan atas kemuliaan beliau.[10]

Dari hasil interpretasi ayat di atas, dapatlah dipahami bahwa esensi shalawat bukan hanya dalam bentuk doa, tetapi tercakup di dalamnya masalah kecintaan dan penghormatan kepada Nabi saw.

Selanjutnya, perlu pula dipahami bahwa bershalawat kepada Nabi saw. bukan berarti mengkultuskan beliau dengan Allah. melainkan perwujudan pemuliaan secara wajar kepada Nabi saw. dan sebagai bukti kepatuhan terhadap perintah Allah swt. untuk bershalawat.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Ketika kita diperhadapkan pada nash-nash yang berkaitan dengan masalah shalawat, akan menimbulkan berbagai interpretasi. Karena demikian halnya, maka perumusan konsep tentang shalawat secara utuh dan menyeluruh sangatlah signifikan.

Berdasar dari pernyataan di atas, yang menjadi pokok permasalahan dalam kajian ini adalah bagaimana konsep shalawat dalam perspektif Alquran ? .

Adapun sub masalah dalam kajian ini adalah ;

  1. Apa yang dimaksud dengan shalawat ?
  2. Bagaimana pemaknaan shalawat dalam Alquran ?
  3. Bagaimana konsep shalawat menurut Alquran ?

C. Pengertian Judul

Skripsi ini, berjudul Shalawat Dalam Perspektif Alquran. Untuk kajian lebih lanjut, ada dua term yang perlu dibatasi guna terhindar dari kesalahan dalam memahami judul. Yakni, term shalawat dan term Alquran.

  1. Shalawat dalam arti doa,[11] digunakan dalam mengajukan permohonan kepada Allah swt.[12] Sedangkan shalawat dalam arti rahmat, magfirah dan pemuliaan, di-gunakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan Nabi saw.[13] Yang dimaksud shalawat dalam kajian ini, adalah “shalawat Nabi saw.” Yakni, ungkapan “صلي الله علي محمد” dan ungkapan lainnya yang bermakna doa dan penghormatan terhadap Nabi saw.
  2. Alquran adalah kalam Allah yang bersipat mu’jizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., termaktub dalam mushaf, dinukilkan secara mutawâtir, yang membacanya bernilai ibadah.

Dari batasan yang terkandung dalam term “shalawat” dan “Alquran” sebagai pokok judul skripsi ini, maka dirumuskan bahwa; ungkapan shalawat Nabi saw. merupakan salah satu ibadah sebagai wujud pemuliaan terhadap Nabi saw. dan ia tergolong sebagai doa untuk mendekatkan diri kepada Allah, di samping itu ia merupakan wahana untuk memohon rahmat-Nya.

Pemaknaan dan pemahaman tentang shalawat dalam kajian ini, berfokus pada ayat-ayat Alquran dengan pen-dekatan tafsir tematik. Karena itu, dalam pembahasan skripsi ini dioprasionalkan pada penginterpretasian ayata-ayat Alquran yang berterm shalawat.

D. Tinjauan Pustaka

Dari hasil penelusuran penulis terhadap beberapa kitab, ditemukan berbagai pembahasan yang berkenaan dengan shalawat. Misalnya;

  1. Al-Sholah ‘ala al-Nabiy, karya imâm Qadli Iyâdl yang kajiannya mencakup macam-macam shalawat Nabi saw.
  2. Kumpulan Shalawat Nabi saw, karya M. Ali Chasan Umar yang kajiannya mencakup ungkapan-ungkapan shalawat dan doa-doa yang sering diamalkan oleh ulama.
  3. Judul yang sama di atas, disusun oleh Fatuhuddin Abul Yasin yang intisarinya mencakup hikmah dan khasiat shalawat Nabi saw.

Literatur-literatur yang disebutkan di atas, cukup membantu penulis dalam merumuskan konsep shalawat Nabi saw. Walaupun harus diakui bahwa literatur-literatur tersebut hanyalah sebagai pendukung skunder. Sebabnya, sampai saat ini belum ada satu kitab yang membahas tentang shalawat dalam perspektif Alquran. Padahal, kajian dalam skripsi ini merujuk pada ayat-ayat Alquran.

Terkait dengan problema di atas, dan untuk me-nemukan konsep shalawat secara akurat dan argumentatif, maka kajian skripsi ini berusaha merujuk pada kitab-kitab tafsir yang memuat berbagai interpretasi tentang shalawat Nabi saw. Misalnya; Tafsîr al-Marâgiy, juz II; Tafsîr Ibn Katsîr, juz I; Tafsîr al-Munîr, juz I; Tafsîr al-Azhar, juz IV; dan beberapa kitab tafsir lainnya yang meng-uraikan tentang shalawat Nabi saw. khususnya yang terinterpretasi dalam QS. al-Ahzâb (33): 56.

E. Metodologi

Metode yang terpakai dalam kajian skripsi ini adalah ;

1. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tafsir tematik.[14] Dalam hal ini, penulis menghimpun ayat-ayat yang terkait dengan shalawat. Baik ayat-ayat yang secara langsung berterm shalawat maupun yang tidak tetapi di dalamnya terkandung makna shalawat. Ayat-ayat tersebut dianalisis dan dinterpretasikan sesuai kaidah-kaidah tafsir.

2. Metode Pengumpulan Data

Untuk pengumpulan data, digunakan penelitian ke-pustakaan (library research). Yakni, menelaah refrensi atau literatur-literatur yang terkait dengan pembahasan, baik berbahasa Asing maupun berbahasa Indonesia. Kepustakaan primer dalam kajian ini adalah semua kitab-kitab tafsir.

3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Agar data yang diperoleh dapat dijadikan sebagai bahasan yang akurat, maka penulis menggunakan metode pengolahan dan analisis yang bersifat  kualitatif dengan cara berfikir :

  • Deduktif, yakni menganalisis data yang bersifat umum untuk sampai kepada kesimpulan yang bersifat khusus.
  • Induktif, menganalisis data yang bersifat khusus untuk memperoleh rumusan yang bersifat umum.
  • Komparatif, yakni membandingkan data yang satu dengan data yang lain, untuk memperoleh data yang lebih akurat dan lebih kuat argumentasinya.

4. Metode Penulisan

Teknik penulisan yang terpakai dalam skripsi ini berdasarkan pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Edisi Revisi IAIN Alauddin. Kecuali untuk beberapa hal tertentu yang belum tercakup, maka penulisan merujuk kepada sumber lain.

Penulisan huruf transliterasi Arab ke Latin di-sesuikan dengan penyebutan huruf-huruf atau vokal dan diftong.

Penulisan terjemahan ayat-ayat Alquran, penulis merujuk pada Al-Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitkan oleh Depatemen Agama RI. Sedangkan terjemahan hadis-hadis dan teks-teks bahasa Asing lainnya adalah terjemahan penulis sepenuhnya.

Demi kepraktisan, maka penulisan teks ayat-ayat Alquran yang menjadi pokok pembahasan pada bab IV Tetap diletakkan dalam teks halaman. Sedangkan teks ayat-ayat Alquran yang hanya merupakan keterangan tambahan atas penjelasan diletakkan pada bagian bawah halaman atau dijadikan dengan footnote yang dikenal dengan istilah catatan kaki.

F. Tujuan dan Kegunaan

1. Tujuan

Kajian ini bertujuan untuk ;

  • Mengiterpretasikan ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan shalawat, dan lebih khusus lagi merumuskan konsep shalawat sesuai petunjuk Alquran.
  • Menguji kesaktian shalawat dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.

2. Kegunaan

Adapun kegunaan kajian ini adalah ;

  • Sebagai sumbangan pemikiran lebih lanjut mengenai pesan-pesan moral yang terkandung dalam ungkapan (doa) shalawat, sehingga budaya bershalawat tetap ditumbuh kembangkan dalam kehidupan.
  • Sebagai kontribusi ilmiah dalam memahami khazanah Islam yang sarat dengan berbagai nilai-nilai ritual, sehingga dirasakan kepraktisannya dalam merealisasikan sunnah Nabi saw.

G. Garis-Garis Besar Isi Skripsi

Kajian dalam skripsi ini, terdiri atas lima bab pembahasan. Masing-masing memiliki sub bab pembahasan. Untuk mendapatkan gambaran awal yang terpormulasi dalam kajian ini, penulis akan mengemukakan beberapa pokok pikiran yang melatar belakangi lahirnya masing-masing bab.

Bab I, merupakan pembahasan pendahuluan. Secara umum pembahasannya bersifat metodologis. Bab ini memberikan gambaran singkat dan orientasi dari obyek yang akan dibahas pada bab-bab berikutnya. Dalam bab pendahuluan ini terdiri atas delapan sub bab, dan telah diuraikan muatannya masing-masing sebagaimana ter-dahulu.

Pada bab II, memberikan gambaran umum tentang shalawat. oleh karena itu, dalam bab ini dikemukakan pengertian shalawat, baik secara etimologi maupun terminologi. Untuk kelengkapan pembahasan, dikemukakan pula tentang lafal-falal shawalat dan ayat-ayat tentang shwalat.

Pada bab III, dikemukakan tentang ayat-ayat yang mengungkap term-term shalawat. pada ayat-ayat tersebut dijelaskan tentang makna-makna yang teriterpretasi dalam term shalawat.

Pada bab IV, merupakan pembahasan inti sebagai lanjutan pembahasan sebelumnya. Dalam bab ini, di-uraikan dan dianalisis konsep shalawat menurut Alquran yang terdapat dalam QS. al-Ahzâb (33):56. Adapun sub bahasannya adalah (a) klasifikasi shalawat; (b) hakekat shalawat; dan (c) Konsekuensi pensyariatan Shalawat.

Bab terakhir adalah bab V, ia merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan, berfungsi menjawab pokok permasalahan dan sub masalah yang telah di-kemukakan sebelumnya. Di samping itu akan dikemukakan pula beberapa saran yang merupakan implikasi akhir dari hasil kajian ini.

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG SHALAWAT

A. Pengertian Shalawat

Term shalawat (صلوات) berasal dari akar صلي، يصلي yang terdiri atas huruf; al-shâd, lâm dan huruf mu’tal al-yâ’u, yang artinya; جنس من العبادة  ,[15] (salah satu jenis rangkaian ibadah). Kemudian, term tersebut berubah menjadi mashdar dalam bentuk صلاة yang secara etimologi berarti doa.[16] Sedangkan kata doa berakar kata dari دعا-يدعو-دعوة yang berarti ajakan, seruan, panggilan untuk mendekatkan diri.[17] Dengan demikian, secara etimologi dapat dinyatakan bahwa orang yang bershawalat berarti ia ingin mendekatkan diri kepada sesuatu yang dijadikan obyeknya.

15

Menurut Harun Nasution, pemaknaan doa dapat di-gunakan dengan Tuhan atau manusia sebagai subyeknya, atau sebaliknya sebagai obyeknya.[18] Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Tuhan mendekatkan manusia kepada-Nya dalam pengertian; Tuhan menyeru kepada manusia agar mereka mengikuti jalan hidup yang membawa mereka kepada keselamatan. Di dalam Alquran seruan semacam ini antara lain ditemukan dalam QS. Yûnus (10) 25 sebagai berikut:

والله يدعوا الى دار السلام ويهدى من يشاء الى صراط المستقيم

Terjemhanya:

‘Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)’.[19]

Pada ayat lain, misalnya dalam QS. al-Baqarah (02) 221 dinyatakan bahwa ;

… والله يدعوا الى الجنة والمغفرة بإذنه ويبين آيته للناس لعلهم يتذكرون

Terjemhanya:

‘… dan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran’[20]

Terkait dengan ayat di atas, maka dapat dipahami bahwa seruan atau ajakan Allah swt. kepada manusia merupakan suatu petunjuk tentang keselamatan mereka.

Di samping makna dasar Shalat adalah doa, dapat pula bermakna التبريك (pemberian atau perolehan berkah) dan التمجيد (pemberian atau perolehan kemuliaan).[21]

Berkah diperoleh dari Tuhan yang biasanya disebut dengan perolehan rahmat Tuhan. Sedangkan kemuliaan di diperoleh dari Tuhan dan manusia. Biasanya, kemuliaan yang diperoleh dari sesama manusia ditandai dengan penghormatan.

Terkait dengan penjelasan di atas, Ibn Katsîr menjelaskan bahwa shalawat Allah swt. terhadap manusia tersebut mengindikasikan adanya perolehan rahmat,[22] atau melimpahkan rahmat-Nya kepada manusia.[23] Dari sini, dapat diklasifikasi bahwa shalawat Allah swt. kepada hamba-Nya terdiri atas dua kategori. Yakni, shalawat khusus dan shalawat umum. Shalawat khusus adalah shalawat Allah terhadap Rasul-Nya, para Nabi-Nabi-Nya. Sedangkan shalawat umum adalah shalawat Allah swt. kepada hamba-Nya.

Jelaslah bahwa shalawat Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. merupakan shalawat khusus. Dalam pengertian, Allah swt. memuji Muhammad saw., melahirkan keutamaan dan kemuliannya, serta memuliakan dan mem-perdekatkan Muhammad saw. kepada diri-Nya.[24]

Perlu dipahami bahwa dengan bershalawatnya Allah swt. kepada hamba-Nya, khususnya kepada Nabi Muhammad saw. merupakan tamstîl sebagai suri tauladan yang harus diikuti.

Selanjutnya, mengenai pengertian shalawat ummat Muhammad saw. terhadap beliau adalah mengakui kerasulannya serta memohon syafaat dan mendekatkan dari kepada Allah swt.[25] Jadi, pengakuan terhadap kerasulan Muhammad saw. bukan saja diikrarkan dengan pengucapan syahadat, tetapi lebih dari itu dituntut untuk di-muliakan beliau dengan cara bershalawat terhadapnya.

B. Lafal-Lafal Shalawat dan Perealisasiannya

Lafal-lafal shalawat yang dikemukakan dalam sub bahasan ini adalah lafal-lafal shalawat untuk Nabi saw. dari umatnya. Yakni, antara lain yang sangat populer adalah ;

  1. صلي الله علي محمد;[26] (semoga Allah swt. melimpahkan tambahan rahmat kepada Nabi Muhammad saw)
  2. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك جميد مجيد;[27] (Ya Allah, berilah tambahan rahmat kepada Nabi Muhammad saw., keluarga beliau, sebagaimana Engkau telah memberi rahmat atau Nabi Ibrahim as, keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung)
  3. اللهم صل على محمد ;[28] (Ya Allah. limpahkan rahmat atas Nabi Muhammad saw)
  4. Ungkapan-ungkapan lainnya yang mengandung doa dan penghormatan untuk Nabi saw. guna mendekatkan diri kepada Allah swt.[29]

Lafal-lafal shalawat yang disebutkan di atas, dianjurkan untuk direalisasikan dalam kehidupan. Dalam kitab Irsyad al-Ibâd Ilâ Sabîl al-Irsyad dikemukakan bahwa bahwa orang lalai membaca shalawat merupakan salah satu ciri orang yang melalaikan ajaran agama.[30] Konsekuensi ini merupakan ketetapan agama. Hal tersebut dikarenakan shalawat merupakan rangkaian ibadah, dimana manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah. Allah swt berfirman ;

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Terjemahnya:

‘Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada (Ku)’.

Dalam beribadah dituntut untuk ikhlas dan khusyu’, tetapi walaupun shalawat termasuk ibadah tidaklah terlalu dituntut untuk khusyu.[31] Hal demikian disebabkan agar seorang hamba terlatih untuk me-realisasikan shalawat dalam kehidupannya.

Yang jelas perealisasian shalawat untuk Nabi saw. adalah fardhu. Hal ini disebabkan adanya perintah Allah swt. dalam QS. al-Ahzâb (33):56 kepada orang mu’min untuk bershalawat kepada Nabi saw, yakni ;

… يَااَيُّهَا الَذِّيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Terjemahnya :

‘… Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam peng-hormatan kepadanya.”[32]

Dari ayat di atas, diinformasikan bahwa ruang dan waktu untuk merealisasikan shalawat tidak terbatas,[33] di samping itu, dengan bersahalawat dalam segala ruang dan waktu juga merupakan wujud keimanan seorang muslim terhadap Allah swt., dan wujud kecintaan seorang muslim terhadap Nabi saw.

C. Ayat-ayat Tentang Shalawat

Karena shalawat tergolong dalam salah satu amalan ibadah, maka tentu ditemukan dalil-dalilnya di dalam Alquran. Berikut ini, dikemukakan dalil-dalilnya atau ayat-ayat yang dimaksud ;

1. QS. al-Baqarah (2): 157

الئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة، والئك هم المهتدون

Terjemahnya:

‘Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk’[34]

Dikatakan bahwa ayat di atas berkenaan dengan shalawat, karena ditemukan kata “صلوات” di dalamnya yang berarti “berkah”[35] dimana telah dikemukakan terdahulu bahwa shalawat dapat diartikan dengan berkah.

2. QS. al-Baqarah (2): 239

حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين

Terjemahnya;

‘Peliharalah semua shalat (mu) dan (periharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusu’.[36]

Dikatakan bahwa ayat di atas berkenaan dengan shalawat, karena ditemukan kata “صلوات” di dalamnya yang berarti “shalat-shalat”[37] dimana telah dikemukakan terdahulu bahwa shalawat dapat diartikan dengan ibadah, sementara shalat merupakan salah satu ibadah.[38]

3. QS. al-Taubah (9): 99;

ومن الاعراب من يؤمن بالله واليوم الآخر ويتخذ ما ينفق قربات عند الله وصلوات الرسول الا انها قربة، لهم سيدخلهم الله فى رحمته إن الله غفور الرحيم

Terjemahnya :

‘Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul. Ketahuilah sesungguhnya nafkah itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’[39]

Dikatakan bahwa ayat di atas berkenaan dengan shalawat, karena ditemukan kata “صلوات” di dalamnya yang berarti “doa”[40] dimana telah dikemukakan terdahulu bahwa shalawat dapat diartikan dengan doa.

Sampai di sini, penulis perlu kemukakan bahwa ayat-ayat yang telah dikutip di atas, semuanya ter-maktub dalam bentuk isim jama’ (صلوات)[41] dan kesemuanya pun tergolong sebagai ayat-ayat Madaniyiah.[42]

Ayat-ayat tentang shalawat (bentuk isim/صلوات)  di atas, akan penulis uraikan lebih lanjut pemaknaan dan penjelasannya pada bab berikut.

[1]Ahmad Mushthâfa al-Marâgiy, Tafsîr al-Marâgiy, juz I (Kairo: Mushtâfa al-Bâby al-Halabiy Wa Awlâduh, 1973), h. 1.

[2]Lihat QS. al-Ahzâb (33): 21; QS. al-Qalam (68): 4.

[3]Lihat QS. al-An’âm (6): 48; QS. al-Nahl (16): 36.

[4]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 80

[5]Ibid., 132.

[6]Ibid., h. 916

[7]Lihat Jalâl al-Dîn bin Abû Bakar al-Suyûtiy, Al-Dur al-Mantsûr Fiy Tafsîr al-Ma’tsûr, juz V (Cet.I; Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1990), h. 410.

[8]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1989), h. 220.

[9]Departemen Agama RI, op. cit.,  h. 678.

[10]Lihat Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syaukâniy, Fath al-Qadîr, juz IV (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, t.th.), h. 376.

[11]Mahmud Yunus, loc. cit. Lihat juga Louis Ma’luf, Al-Munjid Fiy al-Lughah Wa al-‘A’lâm (Beirut: Dâr al-Masyriq, t.th.), h. 101.

[12]M. Ali Chasan Umar, Kumpulan Shalawat Nabi (Cet.I; Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1981), h. 11.

[13]Ibid.

[14]Tafsir tematik, dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan Tafsîr bi al-Mawdhu’iy. Yakni; menghimpun ayat-ayat Alquran yang mempunyai maksud yang sama dalam arti sama-sama membicarakan satu topik masalah dan menyusunnya berdasar kronologi serta sebab turunnya ayat-ayat tersebut. Kemudian, penafsir memberi keterangan, penjelasan dan melakukan analisis terhadap ayat-ayat tersebut berdasar ilmu yang benar. Uraian lebih lanjut lihat Abd. al-Hayy al-Farmâwiy, Al-Bidâyah Fiy al-Tafsîr al-Mawdhu’iy, diterjemahkan oleh Suryan A. Jamrah dengan judul Metode Tafsîr Mawdhu’iy; Suatu Pengantar (Cet. I; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1994), h.36-37

[15]Abîy al-Husayn Ahmad bin Fâris bin Zakariyah, Mu’jam Maqâyis al-Lugah, juz III (Cet.II; t.t.: Al-Maktabah al-Manâzi’, 1980 M./ 1390 H.), h. 300

[16]Ibid., lihat juga Louis Ma’luf, Al-Munjid Fiy al-Lughah Wa al-‘A’lâm (Beirut: Dâr al-Masyriq, t.th.), h. 101.

[17]Ibid., h. 71.

[18]Harun Nasution, et. al., Ensiklopedi Islam Indonesia (Jakarta; Djambatan, 1992), h. 222.

[19]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 310

[20]Ibid., h. 54

[21]Lihat al-Râgib al-Ashfahâniy, Mufradât Alfâzh al-Qur’ân (Cet.I; Beirut: Dâr al-Qalam, 1992), h. 490-491.

[22]‘Imâd al-Dîn Abû al-Fidâ Ismail ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm al-Musamma Tafsîr Ibn Katsîr, juz III (Semarang: Toha Putra, t.th.), h. 506

[23]Demikian tambahan penjelasan dari M. Ali Chasan Umar, Kumpulan Shalawat Nabi (Cet.I; Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1981), h. 11.

[24]Uraian lebih lanjut, lihat ibid.

[25]Fatahuddin Abul Yasin, Kumpulan Sholawat Nabi saw Beserta Hikmah dan Khasiatnya (Surabaya: Terbit Terang, 2000), h.6

[26]Ibid.

[27]Yahya bin Syaraf al-Nawawiy, Riyâdh al-Shâlhîn di-terjehamahkan oleh Hasan Basri dengan Judul Riyâdus Shalihin (Jakarta: Pustaka Amani, 1987), h. 535.

[28]M. Ali Chasan Umar, op. cit., h. 12

[29]Demikian pernyataan Muhammad ‘Âli ali bin Muhammad al-Syaukâniy, Fath al-Qadîr Jâmi’ Bay al-Fanniy al-Riwâyah wa al-Dirâyah min ‘Ilm al-Tafsîr, juz IV ((Cet.I; Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1994), h. 379.

[30]Muhammad Ali al-Kurdi, Irsâd al-Ibâd Ilâ Sabîl al-Irsyâd diterjemahkan oleh H. Salim Bahresy dengan judul Petunjuk Jalan Lurus (Surabaya: Darussagaf, 1997), h. 433

[31]Ibid., h. 435.

[32]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 678.

[33]Uraian lebih lanjut mengenai waktu-waktu atau keadaan-keadaan untuk bershalawat, dapat dilihat dalam M. Ali Chasan Umar, op. cit., h. 12-19. Lihat pula Imâm Qadli Iyâdl dan Muhammad Ustmân al-Khûsyt Al-Shola ‘Alâ al-Nabiy diterjemahkan oleh Nurul Fauzi dengan judul Kumpulan dan Keistimewaan Shalawat nabi di Tinjau dari Beberapa Segi (Bandung: Husaini, 1990), h. 22-27

[34]Departemen Agama RI, op. cit., h. 39.

[35]‘Imâd al-Dîn Abû al-Fidâ Ismâil Muhammad Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, juz I (Semarang: Toha Putra, t.th.), h. 197.

[36]Departemen Agama RI, op. cit., h. 58.

[37]Lihat Ahmad Mushtâfa al-Marâgiy, Tafsîr al-Marâgiy, jilid IV (Mesir: Musthâfa al-Bâb al-Halabiy wa Awlâduh, 1973), h. 7.

[38]Jadi, ayat di atas bukan hanya menunjukan shalat al-wustha, melainkan ibadah-ibadah lain yang tercakup di dalamnya. Termasuklah di sini shalawat terhadap Nabi. Demikian pendapat al-Marâgiy. Uraian lebih lanjut, lihat ibid. h.7-8.

[39]Departemen Agama RI, op. cit., h. 297.

[40]Lihat Ahmad Mushtâfa al-Marâgiy, op. cit., jilid IV; h. 7.

[41]Demikian yang penulis temukan dalam Muhammad Fû’ad Abd. al-Bâqy, al-Mu’jam al-Mufahras Liy Alfazh al-Qur’ân al-Karîm (Cet.III; Beirut: Dâr al-Fikr, 1412 H./1992 M.), h. 524-526.

[42]Lihat Abiy al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidiy, al-Naysabûri, Asbâb al-Nuzûl (t.t.: Syirkah Nur Asiah, 1973), h. 26, 34 dan 101.

BAB III

MAKNA DASAR TERM-TERM SHALAWAT DALAM ALQURAN

Dalam Alquran pemaknaan shalawat terinterpretasi dalam berbagai term.[1] Ada term shalawat yang bermakna berkah, doa dan ibadah. Berikut ini dikemukakan term-term yang dimaksud.

A. Term Shalawat yang Bermakna Berkah

Term Shalawat yang bermakna rahmat ditemukan dalam QS. al-Baqarah (2): 157 sebagai berikut ;

الئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة، والئك هم المهتدون

Terjemahnya:

‘Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk’[2]

Menurut Ibn Katsîr, term shalawât pada ayat di atas berarti pemberian berkat.[3] Lebih jauh dijelaskan bahwa berkah yang dimaksud adalah rahmat Tuhan yang diberikan kepada mereka yang memiliki keimanan.[4]

Secara etimologi, yang dimaksud berkah (barakah) adalah kebaikan yang bersumber dari Allah terhadap sesuatu sebagaimana mestinya.[5] Dalam kitab Mufradât Alfâzh al-Qur’ân dijelaskan bahwa semua kebaikan dari Allah swt disebut dengan rahmah.[6] Dengan demikian barakah dan rahmah Allah swt. memiliki hubungan kausalitas dalam pemaknaannya, sehingga kedua istilah ini memiliki maksud yang sama. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat dalam QS. Hud (11): 73 yang menyatakan;

قالوا اتعجبين من امر الله ، رحمة الله وبركـته عليكم

Terjemahnya:

‘Para malaikat itu berkata; Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah ? (Itu adalah) rahmat dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu.’[7]

Terkait dengan ayat di atas, Sa’îd Hawwa men-jelaskan bahwa orang-orang yang mendapatkan berkah dari Tuhan adalah mereka yang beriman dalam artian ikhlas menjalankan ajaran-ajaran agama.[8]

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa term shalawat dapat diartikan dengan berkah atau rahmat Tuhan yang diperuntukkan hanya kepada orang-orang beriman.

B. Term Shalawat Yang Bermakna Doa

Term Shalawat yang bermakan doa ditemukan dalam  QS. al-Taubah (9): 99, sebagai berikut

ومن الاعراب من يؤمن بالله واليوم الآخر ويتخذ ما ينفق قربات عند الله وصلواة الرسول الا انها قربة، لهم سيدخلهم الله فى رحمته إن الله غفور الرحيم

Terjemahnya :

‘Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah)   sebagai  jalan  mendekatkannya

kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul. Ketahuilah sesungguhnya nafkah itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’[9]

Term shalawat pada ayat di atas bermakna doa.[10] Yakni, doa Rasulullah saw yang senantiasa diperuntukkan kepada shiddiqîn (orang-orang yang menjalankan syariat agama secara benar).[11]

Telah dikemukakan pada pembahasan terdahulu (bab II) bahwa, secara etimologi shalawat bermakna doa. Yang dimaksud dengan doa di sini wahana untuk mendekatkan diri kepada Allah.[12]

Ayat yang dibahas ini, mengungkap tentang sikap orang-orang beriman yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Mereka menganggap bahwa hal seperti itu akan mendekatkan diri kepada Allah swt. dan akan mendapatkan doa dari Nabi saw. untuk keselamatan dunia dan akhirat.[13]

Dari makna dasar shalawat sebagai doa sebagaimana yang terinterpretasi dari ayat di atas, dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. bukan berarti obyeknya hanya Allah swt. semata, tetapi lebih dari itu ia merupakan pujian dan penghormatan kepada Nabi saw.[14] Dari konsepsi inilah akan melahirkan berbagai model shalawat Nabi saw. sehingga dalam realita diketahui bahwa shalawat terkadang dalam bentuk lagu dan syair.

Dari penjelasan di atas, dipahami bahwa term doa yang bermakna dasar shalawat Nabi saw. memiliki manfaat multi ganda. Yakni; (a) untuk mendekatkan diri kepada Allah; (b) untuk mendekatkan diri kepada Nabi saw; (c) untuk mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat kelak, dan (d) untuk memuliakan dan menghormati Nabi saw. sebagai utusan Allah.

C. Term Shalawat yang Bermakna Ibadah

Dalam Alquran, term shalawat terkadang pula me-nunjuk pada pemaknaan kewajiban melaksanakan ibadah shalat. Hal tersebut sebagai mana terdapat dalam ;

1. QS. al-Baqarah (2): 239

حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين

Terjemahnya;

‘Peliharalah semua shalat (mu) dan (periharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusu’.[15]

Term shalawat pada ayat di atas, diartikan iabadah shalat (sembahyang).[16] Yakni, kewajiban untuk menegakkan ibadah wajib berupa yang dilaksanakan lima kali sehari semalam.

2. QS. al-Mu’minûn (23):9

والذين هم على صلواتهم يحافظون

Terjemahnya:

‘Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya’[17]

Term shalawat pada ayat di atas, juga diartikan shalat,[18]

Ibadah Shalat, berfungsi untuk mencegah dari per-buatan keji dan mungkar.[19] Dalam shalat terangkai berbagai doa-doa sebagai amalan dari shalat itu sendiri. Tujuan utamanya adalah mengingat Allah swt. Orang yang senantiasa mengingat Allah, akan mendekatkan dirinya pada sang Khaliq. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa dengan menegakkan shalawat al-khams (shalat lima waktu) akan di samping sebagai doa yang mendekatkan hamba dengan Tuhannya.

Orang yang senantiasa menjaga shalatnya, berarti ia menjaga agamanya.[20] Ini berarti adanya upaya untuk menuju kepada jalan keselamatan. Dengan kata lain, ia berusaha mendapatkan keberkatan atau rahmat dari Allah swt. karena rahmat Allah swt. diperuntukkan kepada hamba-hamba yang senantiasa melaksanakan perintah-Nya. Dalam QS. al-A’râf (7): 56 dinyatakan;

إن رحمة الله قريب من المحسنين

Terjemahnya;

‘Sesungguhnya Rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.’[21]

Jelaslah bahwa orang yang akan mendapat rahmat Allah swt, adalah mereka yang senantiasa berbuat baik dalam hidupnya.

Berdasar dari uraian-uraian terdahulu, dapatlah disimpulkan term-term shalawat yang bermakna berkah, doa dan ibadah memiliki korelasi yang sangat siginifikan dalam perealisasiannya.

[1]Term-term shalawat yang dimaksud, penulis menelusurinya dalam Muhammad Fû’ad Abd. al-Bâqy, al-Mu’jam al-Mufahras Liy Alfazh al-Qur’ân al-Karîm (Cet.III; Beirut: Dâr al-Fikr, 1412 H./1992 M.), h. 524-526.

[2]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 39.

[3]‘Imâd al-Dîn Abû al-Fidâ Ismâil Muhammad Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, juz I (Semarang: Toha Putra, t.th.), h. 197.

[4]Ibid., h. 198.

[5]“Barakah” Ensiklopedi Al-Qur’an (Jakarta: Yayasan Bimantara, 1997), h. 56

[6]al-Râgib al-Ashfahaniy, Mufradât Alfâzh al-Qur’an (Cet. I; Dimasqy: Dâr al-Qalam, 1992 M./1312 H.), h.347

[7]Departemen Agama RI, op. cit., h. 138.

[8]Sa’îd Hawwa, Al-Asâs Fiy al-Tafsîr, jilid VIII (Cet.II; Mesir: Dâr al-Salâm, 1989), h. 335.

[9]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. op. cit., h. 297.

[10]Lihat Ahmad Mushtâfa al-Marâgiy, Tafsîr al-Marâgiy, jilid IV (Mesir: Musthâfa al-Bâb al-Halabiy wa Awlâduh, 1973), h. 7.

[11]Ibid.

[12]Lihat Imâm al-Gazali, al-Munâjat diterjemahkan dengan judul Munajat al-Ghazali; Dzikir dan Doa Wacana Amaliah Keseharian (Cet.I; Surabaya; Risalah Gusti, 1998), h. 5.

[13]Lihat Abû ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshâriy al-Qurthûbiy, al-Jâmi’ al-Ahkâm al-Qur’ân, jilid IV (Beirut: Dâr al-Fikr, 1965), h. 71.

[14]Webster’s, Ann Emarie Schimmel diterjemahkan oleh Rahmani Asturi dan Ilyas Hasan dengan judul Dan Muhammad adalah Utusan Allah (Cet.II; Bandung: Mizan, 1992), h.135.

[15]Departemen Agama RI, op. cit., h. 58.

[16]Ahmad Musthâfa al-Marâgiy, op. cit., jilid I; h. 199.

[17]Departemen Agama, op. cit., h. 527.

[18]Lihat al-Râgib al-Ashfahâniy, Mufradât Alfâzh al-Qur’ân (Cet.I; Beirut: Dâr al-Qalam, 1992), h. 491

[19]Lihat QS. al-Ankabut (29): 45.

[20]Ahmad Musthâfa al-Marâgiy, loc. cit.

[21]Departemen Agama RI., op. cit., h. 231.