Skripsi PAI Problematika Dakwah pada Generasi Muda

Problematika dakwah dalam men-sosialisasikan ajaran islam di kalangan generasi muda di kec. Paleteang kab. Pinrang

Problematika dakwah dalam men-sosialisasikan ajaran islam di kalangan generasi muda di kec. Paleteang kab. Pinrang merupakan judul skripsi PAI yang akan dishare kali ini.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Problematika dakwah dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, bahkan dari abad ke abad, tentu sangat variatif. Tiap-tiap masa dan era memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Karena itu, dinamika agama (Islam) di manapun ia berada sangat ditentukan oleh gerakan-gerakan dakwah yang dilakukan oleh umatnya.
Pada zaman Nabi saw, problematikan dakwah diperhadapkan pada akulturasi budaya dan kondisi masyarakat yang telah memeluk agama selain agama Islam, bahkan berbagai perubahan sebagai akibat banyaknya ummat Islam yang hijrah ke Madinah sekaligus merubah sistem ekonomi, sosial budaya dan bahkan status sosial.
Sepeninggal Nabi saw, problematika dakwah tetap muncul ke permukaan. Adanya sebagian umat Islam yang enggang mensosialisasikan ajaran agama, misalnya tidak mengeluarkan zakat, termasuk problematika yang tak terbantahkan. Di masa-masa berikutnya, perpecahan umat Islam ke dalam berbagai aliran yang berdampak pada renggangnya solidaritas dan ukhuwah islāmiyah, juga merupakan problematika abadi yang dihadapi oleh umat Islam sepanjang sejarahnya.
Untuk zaman modern ini, problematika dakwah dihadang oleh kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin memper-mantap terjadinya globalisasi dalam segala bidang kehidupan.
Dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi tersebut bisa bebentuk positif, tapi juga negatif terhadap pelaksanaan dakwah. Segi positifnya antara lain adalah mempermudah penyampaian dakwah melalui jaringan-jaringan alat komunikasi canggih seperti, telepon, telefax, radio, televisi, internet dan selainnya. Segi negatifnya antara lain adalah munculnya gejala mendewakan perangkat-perangkat canggih tersebut, sehingga kegiatan dakwah dalam arti tablīg dengan cara bertatap muka secara langsung, akan berkurang frekuensinya.
Fenomena lain menunjukkan bahwa di zaman modern ini, semakin meningkat berbagai jenis kejahatan dan akibatnya adalah semakin terkikis sosialisasi ajaran-ajaran agama di kalangan masyarakat. Contoh kasus; banyak di antara mereka yang terlambat melaksanakan shalat, bahkan ada yang meninggalkan shalat, karena terlena duduk berlama-lama di depan televisi atau internet dan semacamnya. Pada kasus lain, khususnya yang banyak menerpa generasi muda sekarang ini adalah terbiusnya mereka dengan obat-obat terlarang, misalnya, ganja, narkoba dan semacamnya.[1]
Dalam upaya mengantisipasi kasus-kasus seperti di atas, maka kegiatan amar ma’rūf dan nahi munkar mutlak dilaksanakan. Dengan kata lain, aktifitas dakwah harus senantiasa digalakkan di tengah-tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Tanpa kegiatan dakwah, maka sosialisasi ajaran agama (Islam) akan mandek dan akan mengalami kevakuman. Kaitannya dengan itu, Dr. H. Harifuddin Cawidu menyatakan bahwa :
Bila dakwah berhenti maka lonceng kematian Islam segera berbunyi. Itulah sebabnya, dakwah dalam arti yang luas mempunyai posisi sentral dalam syiar dan pengembangan Islam, bahkan dakwah merupakan merupakan watak, sekaligus ciri khas dari Islam sendiri.[2]
Pernyataan di atas, mengindikasikan bahwa dakwah pada dasarnya adalah suatu proses yang berkesinambungan berupa aktifitas-aktifias dinamis dalam rangka mengaktualisasikan seluruh ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan di tengah-tengah masyarakat.
Oleh karena itu, aktifitas dakwah harus dikemas secara profesional dan diorganisir secara rapih, serta dikembangkan terus menerus menerus mengikuti irama dan dinamika zaman. Hal ini penting karena dakwah merupakan instrumen terpenting dalam memformat perilaku keberagamaan masyarakat.
Suatu hal menggembirakan dewasa ini adalah walaupun zaman semakin modern, rupanya aktifitas dakwah senantiasa berjalan dengan baik. Minimal sekali kegiatan dakwah terlihat dalam bentuk khutbah-khutbah, pengajian majelis-majelis taklim, ceramah-ceramah agama pada moment tertentu seperti kematian, perkawinan, aqidah, hajatan haji, naik rumah baru dan sebagainya.
Dalam skala luas, terlihat aktifitas dakwah terealisasi di berbagai tempat, baik di hotel-hotel maupun di rumah-rumah penduduk, baik di kantor-kantor pemerintah maupun di perusahaaan-perusahaan swasta, baik di kota-kota besar maupun di kota-kota kecil, bahkan sampai di kecamatan-kecamatan dan di desa-desa terpencil.
Aktifitas dakwah seperti yang disebutkan di atas, dapat pula dilihat wujudnya di Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang dewasa ini. Para da’i atau muballig di daerah tersebut, senantiasa melakukan kegiatan dakwah, baik di mesjid-mesjid maupun di rumah-rumah penduduk. Para mustami’ dakwah pun di daerah tersebut, terakumulasi dalam lapisan masyarakat yang luas, ada yang berasal dari kalangan generasi tua, ada pula dari  kalangan generasi muda.
Dalam konteks kekinian, tentu saja para da’i atau muballig di Kec Paleteang tersebut, juga menghadapi berbagai problematika dalam me-lakukan aktifitas dakwah. Dengan begitu, maka nampaknya sangat menarik untuk dikaji dan teliti problematika dakwah dalam mensosialisasikan ajaran Islam di kalangan generasi muda di Kec. Paleteang Kab. Pinrang.
B. Rumusan dan Batasan Masalah
Permasalahan pokok yang dijadikan obyek pembahasan dalam penelitian ini adalah;
bagaimana problematika dakwah dalam men-sosialisasikan ajaran Islam di kalangan generasi muda di Kec. Paleteang Kab. Pinrang ?
Rumusan masalah pokok di atas, dibatasi secara terinci dalam tiga batasan masalah, yakni :
  1. Bagaimana wujud dan realiasi dakwah dalam rangka mensosialisasikan ajaran Islam bagi kalangan generasi muda di Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang ?
  2. Hambatan apa saja yang dihadapi para da’i atau muballig dalam menyampaikan dakwahnya di kalangan generasi muda di Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang ?
  3. Bagaimana solusi dakwah yang terbaik dalam upaya mensosialisasikan ajaran Islam di kalangan generasi muda di Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang ?
Rumusan permasalahan pokok dan batasan sub-sub masalah di atas, akan ditelusuri jawaban-jawabannya secara akurat dan argumentatif dalam bentuk kajian pustaka (library research), disertai dengan pengamatan langsung di lapangan (field research) dalam penelitian ini.
C. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, dan kaitannya dengan hasil survey awal yang penulis lakukan di lapangan, maka ada tiga hipotesis yang perlu dikemukakan :
Aktifitas dakwah di Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang, senantiasa berjalan dengan baik selama ini. Secara kongkrit wujud aktifitas dakwah di daerah tersebut dijumpai dalam berbagai kegiatan, baik dalam bentuk khutbah, ceramah, pengajian dan selainnya. Dengan begitu, tentu saja dengan adanya aktiftas dakwah tersebut maka sosialisasi ajaran Islam terlaksana dengan baik di kalangan masyarakat, termasuk di kalangan generasi muda di Kecamatan Peleteang Kabupaten Pinrang.
Terdapat hambatan yang dihadapi para da’i atau muballig di Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang dalam menyampai-kan dakwanya. Hambatan atau kendalah tersebut, dapat berupa minimnya waktu penyampaian dakwah, minimnya akomodasi dan fasilitas serta
hal-hal lain yang dapat menghambat kegiatan dakwah.
Dengan adanya kendala dalam menyampaikan dakwah di generasi muda di Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang, menjadi prolematika tersendiri dalam upaya pensosialiasian ajaran Islam. Karena itu, solusi yang ditawarkan adalah hendaknya para da’I atau muballig dan mustami’ menyediakan waktu khusus untuk menyelenggarakan dakwah. Di samping itu, diupayakan tersedianya dana kesejahteraan dan fasilitas pendukung lainnya demi suksesnya kegiatan dakwah.
D. Pengertian Judul dan Ruang Lingkup Penelitian
Untuk memperoleh pemahaman yang jelas tentang fokus kajian dalam penelitian ini, serta menghindari kesalahpahaman (mis understanding) terhadap operasionalisinya obyek penelitiannya, maka perlu dikemukakan beberapa variable pengertian yang terkait dengan pokok pembahasan, sebagai berikut :
1. Problematika Dakwah
Problematika berarti sesuatu yang menimbulkan masalah yang belum dapat dipecahkan.[3] Sedangkan dakwah dalam pengertian umum adalah propaganda, penyiaran agama di kalangan masyarakat dan pengembangannya, atau seruan untuk memeluk dan mengamalkan ajaran agama.[4]
Berdasar dari pengertian di atas, maka problematika dakwah yang dimaksud di sini adalah permasalahan berupa kendala atau tantangan dakwah dalam upaya penyaiaran ajaran (agama) Islam di Kecamatan Peleteang Kabupaten Pinrang.
2. Sosialiasi Ajaran Islam
Sosialiasi berarti usaha untuk mengubah milik perseorangan menjadi milik umum.[5] Sosialisasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses yang harus dilalui manusia muda untuk memperoleh nilai-nilai dan pengetahuan mengenai kelompoknya dan belajar mengenal peran sosialnya yang cocok dengan lingkungannya.[6] Sedangkan ajaran Islam adalah nilai-nilai Islam yang meliputi aqidah dan syari’ah.[7]
Berdasar dari pengertian di atas, maka sosialisasi ajaran Islam yang dimaksud di sini adalah pelaksanaan doktrin agama berupa aqidah di dalamnya tercakup tentang ibadah, serta doktrin agama berupa syariat yang di dalamnya tercakup tentang akhlak. Doktrin-doktrin agama inilah yang senantiasa menjadi materi dakwah para da’i/muballig selama ini di Kec. Paleteang Kab. Pinrang.
3. Generasi Muda
Generasi muda adalah angkatan atau turunan kelompok (kaum, golongan) muda yang kira-kira sama waktu hidupnya.[8] Dapat pula dibatasi bahwa generasi muda adalah generasi pelanjut yang memasuki fase remaja.
Berdasar dari pengertian di atas, maka generasi muda yang dimaksud di sini adalah kelompok atau kaum remaja sebagai obyek dakwah yang berdomisili di Kec. Paleteang Kab. Pinrang.
Berdasar dari batasan-batasan pengertian di atas, maka ruang lingkup operasional penelitian ini adalah mengungkap aktifitas dakwah dan menelusuri kendalanya, serta merumuskan solusi alternatif bagi kegiatan dakwah dalam upaya pensosialisasian ajaran Islam di kalangan generasi muda yang berdomisili di Kec. Paleteang Kab. Pinrang.
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini, bertujuan untuk :
  1. Mengetahui sejauh mana realiasi dakwah dalam rangka mensosialisasi-kan ajaran Islam bagi kalangan generasi muda di Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang.
  2. Mengungkap hambatan apa saja yang dihadapi para da’i atau muballig dalam menyampaikan dakwahnya di kalangan generasi muda di Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang.
  3. Merumuskan solusi dakwah yang terbaik dalam upaya mensosialisasikan ajaran Islam di kalangan generasi muda di Kecamatan Paleteang Kabupaten Pinrang
Berdasarkan dari tujuan di atas, maka yang menjadi sasaran kegunaan penelitian ini, meliputi dua hal yakni ;
1. Kegunaan Ilmiah
Penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi bagi segenap pihak khususnya terhadap da’i/muballig dan generasi muda di Kec. Paleteang Kab. Pinrang, sehingga  mereka dapat menjadikannya sebagai wacana khasanah ilmu keislaman untuk dikembangkan lebih lanjut, dalam rangka mendinamisasikan aktifitas dakwah di tengah-tengah masyarakat.
2. Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan menjadi sumbangsi pemikiran bagi para penyelenggara dakwah untuk senantiasa melakukan missi dakwahnya, agar ajaran-ajaran Islam dapat tersosialiasi di tengah-tengah masyarakat khususnya di kalangan generasi muda di Kec. Paleteang Kab. Pinrang
F. Garis Besar Isi Penelitian
Penelitian ini, terdiri atas lima bab pembahasan. Masing-masing bab, terdiri atas beberapa sub bab pembahasan. Untuk mendapatkan gambaran awal tentang isi penelitian ini, maka terlebih dahulu dikemukakan intisarinya secara utuh dan terpadu.
Bab I, merupakan pendahuluan yang secara umum pembahasannya mengacu pada pokok-pokok pikiran yang asasi. Sehingga, muatannya memberikan orientasi singkat terhadap bab-bab berikutnya. Bab pendahuluan ini, terdiri atas lima sub bahasan, dimana cakupan pembahasan nya bermula dari latar belakang masalah, yang melahirkan pokok masalah dan tiga batasan masalah. Selanjutnya, diuraikan pengertian judul dan ruang lingkupnya. Di samping itu, dikemukakan pula tujuan dan kegunaan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, serta memaparkan gambaran tentang garis besar isi penelitian.
Bab II, merupakan tinjauan pustaka yang secara umum pembahasan-nya bersifat teoritis. Sehingga, muatan pembahasannya berkisar pada wilayah judul penelitian, yakni sorotan tentang problematika dakwah yang di dalamnya berisi pembahasan tentang pengertian dakwah dan peranannya serta strategi dakwah yang efektif dalam mensosialisasikan ajaran Islam.
Bab III, menyangkut tentang metode penelitian, yang secara umum pembahasannya bersifat metodologis. Pada bab ini, dipaparkan kerangka acuan yang terpakai dalam proses penelitian. Sehingga, pembahasannya bermula dari pengenalan terhadap lokasi penelitian, kemudian secara bertutut-turut dijelaskan tentang populasi dan sampel, teknik pengumpulam data, teknik penulisan, jenis dan sumber data, serta teknik analisis data.
Bab IV, hasil penelitian, yang muatannya secara umum melaporkan berbagai data dan informasi mengenai problematika dakwah dalam upaya mensosialisasikan ajaran Islam di kalangan generasi muda di Kec. Peleteaang Kab. Pinrang. Untuk itu, pembahasannya dimulai dengan penyajian tentang gambaran umum Kec. Paleteang Kab. Pinrang. Selanjut-nya, diungkap tentang aktifitas dakwah dan kendalanya serta solusi alternatif bagi pengembangan dakwah dalam rangka pensosialisasian ajaran Islam di kalangan generasi muda.
Bab V, merupakan bab penutup atau pembahasan terakhir yang terdiri atas dua sub bahasan, yakni kesimpulan dan implikasi. Bab ini, berfungsi menjawab pokok permasalan dan sub masalahnya, serta merumuskan beberapa saran dan rekomendasi sebagai implikasi akhir dari penelitian ini.
[1]Kasus-kasus yang penulis kemukakan di atas, meskipun bukan merupakan hasil penelitian tetapi kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan karena berangkat dari pengamatan langsung penulis, serta diperkuat dengan informasi-informasi melalui media massa dan elektronik yang dewasa ini sering mengankat kasus-kasus krusial serupa.
[2]H. Harifuddin Cawidu, Problematika Dakwah di Indonesia Masa Kini “Makalah disampaikan dalam Refresing Dai/Muballig, tanggal 9 September 2003” (Makassar: Pemda Sul-Sel, 2003), h. 1
[3]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cet.III; Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 701.
[4]Ibid., h. 181.
[5]Ibid., h. 885
[6]William J. Good, The Family, diterjemahkan oleh Lailahanoum Hastim dengan judul Sosiologi Keluarga (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 80
[7]Istilah aqidah dan syariat, mencakup segala yang diperintahkan Allah. Secara spesifik aqidah mengandung pengertian meng-Esa-kan Allah, mentaati perintahnya, beriman kepada Rasul-rasul Nya, Kitab-kitab Nya, dan hari pembalasan serta segala sesuatu yang membuat seseorang menjadi muslim. Sedangkan syariah mengandung pengertian pemahaman dan perealisasian aqidah, baik yang berkenaan dengan tatacaranyamaupun hukum-hukumnya. Lihat ‘Abbas Husni Muhammad, Al-Fiqh al-Islamiy Afaquh wa Tatawwuruh (Makkah: Rabitah Alam al-Islamiy, 1402 H), h.7-8. Lihat juga Hasbi Ash- Shiddiqiy, Filsafat Hukum Islam (Cet. III: Jakarta: Bulan Bintang, 1988), h. 44.
[8]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, op. cit., h. 269

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Dakwah dan Problematikanya

Secara etimologis, perkataan dakwah berasal dari bahasa Arab yakniدعا– يدعوا – دعوة  (da’ā – yad’ū – da’watan). Dengan demikian kata dakwah tersebut merupakan ism masdar dari kata da’ā yang dalam Ensiklopedia Islam diartikan sebagai “ajakan kepada Islam.[1] Kata da’ā dalam Alquran, terulang sebanyak 5 kali, sedangkan kata yad’ū  terulang sebanyak 8 kali dan kata dakwah terulang sebanyak 4 kali.[2]
Kata da’ā pertama kali dipakai dalam Alquran dengan arti mengaduh (meminta pertolongan kepada Allah) yang pelakunya adalah Nabi Nuh as.[3] Lalu kata ini berarti memohon pertolongann kepada Tuhan yang pelakunya adalah manusia (dalam arti umum).[4] Setelah itu, kata da’ā berarti menyeru kepada Allah yang pelakunya adalah kaum Muslimin.[5]
Kemudian kata yad’ū, pertama kali dipakai dalam Alquran dengan arti mengajak ke neraka yang pelakunya adalah syaitan.[6] Lalu kata itu berarti mengajak ke surga yang pelakunya adalah Allah,[7] bahkan dalam ayat lain ditemukan bahwa kata yad’ū dipakai bersama untuk mengajak ke neraka yang pelakunya orang-orang musyrik dan mengajak ke surga yang pelakunya Allah, sebagai dalam QS. al-Baqarah (2):221,
أُلَئِكَ يَدْعُوْنَ اِلَيْ النَّارِ وَاللهُ يَدْعُوْا اِلَيْ الجَنَّةِ
Terjemahnya :
Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga [8]
Sedangkan kata dakwah atau da’watan sendiri, pertama kali digunakan dalam Alquran dengan arti seruan yang dilakukan oleh para Rasul Allah itu tidak berkenan kepada obyeknya.[9] Namun kemudian kata itu berarti panggilan yang juga disertai bentuk fi’il (da’ākum) dan kali ini panggilan akan terwujud karena Tuhan yang memanggil.[10] Lalu kata itu berarti permohonan yang digunakan dalam bentuk doa kepada Tuhan dan Dia menjanjikan akan mengabulkannya.[11]
Dari uraian-uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa kata dakwah dalam pengertian terminologi adalah menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu.
Adapun orang yang melakukan ajakan atau seruan tersebut dikenal dengan da’i (orang yang menyeru). Pada sisi lain, karena penyampaian dakwah termasuk tablīgh, maka pelaku dakwah tersebut di samping dapat disebut sebagai da’i, dapat pula disebut sebagai muballig yaitu orang yang berfungsi sebagai komunikator untuk menyampaikan pesan (message) kepada pihak komunikan.
Kaitannya dengan batasan pengertian di atas, maka dapat pula dipahami bahwa sebutan da’i atau muballig tersebut, secara luas dapat dipakai sebagai istilah bagi pelaku dakwah, baik lewat pertemuan, media massa, maupun kegiatan misi dan kemasyarakatan.
Sedangkan pengertian dakwah secara terminologis adalah mengajak umat manusia kepada al-khaer serta memerintahkan mereka berbuat ma’rūf dan mencegah berbuat munkar agar mereka memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Pengertian dakwah ini, berdasar pada QS. al-Imrān (3): 104 sebagai berikut ;
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَي اْلخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ اْلمنْكَرِ وَأُلَئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ
Terjemahnya :
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.[12]
Pengertian dakwah di atas, agaknya cukup mewakili pengertian-pengertian dakwah secara terminologis yang banyak dikemukakan oleh ulama dan cendekiawan Muslim lainnya.
Sejalan dengan pengertian dakwah tersebut, Didin Hafidhuddin menyatakan bahwa makna dakwah ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan secara seksama, yakni :
Dakwah sering disalah mengertikan sebagai pesan yang datang dari luar, sehingga langkah pendekatan lebih diwarnai dengan interventif, dan para dai lebih mendudukkan diri sebagai orang asing, tidak terkait dengan apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh masyarakat.
Dakwah sering diartikan menjadi sekedar ceramah dalam arti sempit, sehingga orientasi dakwah sering pada hal-hal yang bersifat rohani saja.
Masyarakat yang dijadikan sasaran dakwah sering dianggap vacuum, padahal dakwah berhadapan dengan setting masyarakat dengan berbagai corak dan keadaannya.
Dakwah yang diartikan hanya sekedar menyampaikan dan hasil akhirnya terserah kepada Allah, akan menafikan perencanaan, pelaksanan dan evaluasi dari kegiatan dakwah. Oleh karena itu, tidak pada tempatnya bila kegiatan dakwah hanya asal-asalan.
Allah swt akan menjamin kemenangan hak yang didakwahkan, karena yang hak jelas akan mengalahkan yang batil.[13]
Berdasarkan pandangan tersebut di atas, maka jelaslah bahwa  pengertian dakwah yang integralistik adalah suatu proses yang ber-kesinambungan dan ditangani oleh para pengembang dakwah. Hal ini dikarenakan Islam adalah dakwah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah.
Hanya saja, proses dalam berdakwah tersebut diperhadapkan oleh berbagai problematika, karena situasi masa kini telah berubah, dimana tindakan kaum Muslimin pun berubah. Banyak hal yang dilakukannya bertentengan dengan tuntutan Islam, kian hari kian menajam dan curam. Keadilan yang merupakan senjata dakwah Islam kini karatan dan lapuk di tangan mereka sendiri.[14]
Pada sisi lain, Dr. H. Harifuddin Cawidu menyatakan bahwa problematika dakwah khususnya di Indonesia adalah menyangkut hubungan antar umat beragama. Watak pemeluk agama secara umum adalah ingin menyebarkan agamanya kepada orang lain, atau ingin “memaksakan” agar ajaran-ajaran agamanya teraplikasi dalam berbagai dimensi kehidupan. Bahkan, khusus agama Nasrani, missi dakwahnya didukung oleh bantuan-bantuan internasional, sebagai upaya kristenisasi terhadap umat Islam di wilayah-wilayah pendudukan miskin, sehingga menimbulkan konflik.
Dakwah yang dikembangkan dalam suasana konflik seperti disebutkan memang bisa menimbulkan implikasi luas apabila tidak dikemas dengan baik dan arif. Seorang dai bisa saja bertindak sebagai “provokator” terhadap umat dengan mengorbankan semangat jihad.[15]
Selain problematika dakwah menyangkut antar umat beragama, problematika dakwah juga berupa ketidakmampuan umat Islam secara intern dalam menerapkan ajaran-ajaran agama. Dalam hal ini, kegiatan dakwah yang dilakukan oleh dai dalam bentuk khutbah, ceramah, pengajian dan semacamnya, belum mampu mengubah prilaku mayoritas masyarakat Muslim sesuai ajaran agama. Buktinya, telah banyak terjadi kasus pencurian, perzinahan bahkan pembunuhan yang kesemua perbuatan terlarang ini, rupa-rupanya justru banyak dilakukan oleh umat Islam. Kalau demikian halnya, berarti kegiatan dakwah belum mampu mem-pengaruhi mereka dan ini merupakan problematika dakwah yang harus dicari solusinya secara tepat.
B. Peranan Dakwah dalam Mensosialisasikan Ajaran Islam
Tujuan dakwah adalah mengubah perilaku sasaran dakwah agar mau menerima ajaran Islam dan mengamalkannya dalam dataran kenyataan kehidupan sehari-hari baik yang bersangkutan dengan masalah pribadi, keluarga, maupun sosial kemasyarakatannya.[16] Kalau begitu, berati peranan dakwah dalam mensosialisasikan ajaran Islam, memiliki keurgensian dan sangat signifikan.
Saking pentingnya peranan dakwah dalam mensosialisasikan ajaran Islam, maka sederetan ayat Alquran maupun hadis mewajibkan setiap Muslim untuk melakukan kegiatan dakwah. Bahkan missi utama diutusnya nabi dan rasul-rasul Allah tersebut adalah untuk menyampaikan dakwah kepada segenap manusia. Salah ayat yang terkait dengan itu adalah QS. al-Maidah (5): 67
يَااَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَا اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لمَ ْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
Terjemahnya:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berati) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.[17]
Secara tekstual, kewajiban dakwah dalam ayat di atas dipertuk-kan bagi setiap nabi dan rasul. Namun pengertian ayat tersebut secara kontekstual adalah dakwah tidaklah tuntas dengan wafatnya Nabi Muhammad saw, melainkan menjadi kewajiban bagi orang-orang Muslim setelah beliau.
Dengan demikian, Dra. Radhiah AP menyatakan bahwa dakwah merupakan aktualisasi salah satu fungsi koadrat seorang Muslim, fungsi kerisalahan, yang merupakan proses penkondisian agar seseorang atau masyarakat mengetahui, memahami, mengimani dan mengamalkan ajaran Islam.[18] Jadi, sangat wajar bila kegiatan dakwah tersebut dibeban-kan kepada setiap Muslim, dan kepada mereka juga senantiasa dituntut untuk menyampaikan dakwah walau hanya satu ayat saja, sebagaimana salah satu hadis Nabi saw yang menyatakan :
بَلِّغُوْا عَنىِّ وَلَوْ آيَةَ[19]
Artinya :
Sampaikan kepadaku walaupun satu ayat.
Oleh karena itu, kegiatan dakwah adalah wajib atau fardu kifāyah atas seluruh umat Muslimin. Hal ini dikarenakan Islam adalah agama dakwah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan dakwah.
Apabila interpretasi ayat Alquran dan hadis yang disebutkan di atas dicermati secara bijak, maka dapat dipahami bahwa sesungguhnya dakwah menduduki tempat dan posisi utama, sentral, strategis dan menentukan pensosialisasian ajaran Islam yang sebenarnya. Atau dengan kata lain, pelaksanakan ajaran Islam, sangat ditentukan oleh oleh kegiatan dakwah yang dilakukan oleh umatnya. Demikian pula sebaliknya, kemandekan dakwah akan menyebabkan ajaran Islam tidak tersosialiasi dengan baik dan sempurna.
Karena itu, secara normatif, Islam telah memberikan petunjuk tentang penempatan dakwah dalam kerangka perannya yang antara lain menjelaskan fungsi-fungsi yang diperankan oleh dakwah secara umum. Adapun dalil yang terkait dengan peran dakwah ini adalah QS. al-Ahzāb (33): 45-46
يَااَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا اَرْسَلْنَاكَ شاَهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا (45) وَدَاعِيًا اِلىَ اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا (46)
Terjemahnya :
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerrangi.[20]
Dalam Ensiklopedi Al-Qur’an dikatakan bahwa ayat di atas berkenaan dengan misi Nabi saw, yaitu menyeru manusia kepada agama Allah swt.[21]
Dari ayat tersebut pula, mengisyaratkan sekurang-kurangnya lima peran dakwah, sebagai berikut :
Dakwah berperan sebagai syāhidan, artinya; dakwah harus berperan memberikan kesaksian kepada umat tentang masa depan yang akan dilaluinya sekaligus sejarah masa lalu yang menjadi pelajaran baginya tentang kemajuan dan keruntuhan umat manusia karena  perilaku yang diperankannya
Dakwah berperan sebagai mubassyiran, artinya; melalui dakwah maka akan saling memberi kabar gembira sekaligus saling memberikan inspirasi dan solusi dalam menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupan.
Dakwah berperan sebagai mazīran, artinya; dakwah senantiasa ber-usaha mengingatkan para umat Islam untuk tetap konsisten dalam kebajikan dan keadilan sehingga tidak mudah terjebak dalam kesesatan.
Dakwah berperan sebagai dā’iyah ilā Allāh, artinya; dakwah adalah panglima dalam memelihara keutuhan umat sekaligus membina kualitas umat sesuai dengan idealisasi peradaban yang dikehendakinya.
Dakwah berperan sebagai sirājan munīrah, artinya; dakwah memiliki peran sebagai pemberi cahaya yang menerangi kegelapan sosial atau kegersangan spritual.[22]
Peran-peran dakwah yang disebutkan di atas, secara umum bermuara pada upaya pensosialisasian ajaran Islam. Kaitannya dengan itu, Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, MA menyatakan bahwa perwujudan dakwah  bukan sekedar usaha peningkatan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas. Yakni, dakwah harus lebih berperan menuju kepada pelaksanaan Islam secara lebih menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.[23] Senada dengan itu, dalam ungkapan lain dikemukakan oleh Dr. H. Harifuddin Cawidu bahwa dakwah merupakan upaya tanpa henti untuk mengaktualiasasikan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan.[24]
Pada sisi lain, M. Arifin menyatakan bahwa dimensi dakwah terletak pada ajakan, dorongan (motif), rangsangan serta bimbingan terhadap orang lain untuk menerima ajaran agama (Islam) dengan penuh kesadaran demi keuntungan dan kebahagiaan dalam kehidupannya baik di dunia maupun di akhirat kelak. [25]
Mengingat demikian pentingnya peranan dakwah yang dipaparkan di atas, maka sesungguhnya sukses atau tidak suksesesnya dakwah tersebut bukanlah diukur lewat gelak tawa atau tepuk riuh para mustami’ (pendengar dakwah), bukan pula dengan ratap tangis meraka. Tetapi suskes tersebut dikur lewat, antara lain pada tersosialisasinya ajaran Islam melalui kegiatan dakwah tersebut. Dengan dengan demikian, jelaslah bahwa pilar yang terlihat memainkan peranan penting dalam upaya mensosialisasikan ajaran Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat adalah kegiatan dakwah.
Dengan melihat dakwah sebagai ajakan atau seruan dalam mensosialisasikan ajaran Islam, maka peranan dakwah di sini sebagai upaya dan ikhtiar untuk merubah suatu situasi menjadi situasi lain, yang lebih baik menurut tolok ukur ajaran Islam itu sendiri yang bersumber dari Alquran dan Sunnah.
Dalam aspek sejarah, tidak pula dapat disangkal bahwa dengan adanya peranan dakwah, maka Islam berkembang pesat dari Jazirah Arab yang kecil dan tandus ke seluruh pelosok dunia dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan, eksisnya Islam dan ajarannya selama ini disebabkan peran dakwah itu sendiri.
C. Strategi Dakwah yang efektif dalam Mensosialisasikan Ajaran Islam
Faktor penting yang sangat menentukan berhasil tidaknya pen-sosialisasian ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat adalah strategi dakwah itu sendiri. Strategi dakwah yang dimaksud di sini adalah siasat dan manajemen pelaksanaan dakwah.
Manajemen dakwah merupakan suatu proses yang dinamik karena ia berlangsung secara terus menerus. Setiap kegiatan dakwah selalu memerlukan peninjauan ulang dan bahkan mungkin perubahan di masa depan. Pertimbangannya adalah kondisi yang dihadapi selalu berubah-ubah. Manajemen dakwah dimaksudkan agar pelaksana dakwah mampu menampilkan kinerja tinggi. Hanya dengan demikianlah hakikat pencapaian tujuan dan berbagai sasarannya dapat dicapai dengan baik.
Adapun hal-hal yang terkait dengan proses manajemen dakwah meliputi langkah-langkah sebagai berikut ;
Evaluasi keadaan, yakni melihat pelaksanaan rencana dakwah yang lalu untuk ditindak lanjuti dengan berbagai perbaikan pada pelakasanaan dakwah di masa datang.
Membuat perkiraan-perkiraan, yakni bertolak pada asumsi, ke-cenderungan dakwah masa lalu, kemudian diproyeksikan pada masa yang akan datang.
Mencari berbagai tindakan dakwah, yakni mencari dan menyelidiki berbagai kemungkinan rangkaian tindakan yang dapat diambil dalam berdakwah.
Penjadualan dakwah, yakni penentuan alokasi banyak sedikitnya waktu dalam menyampaikan dakwah dengan melihat situasi dan kondisi para mustami.
Bilamana proses manajemen dakwah di atas dikaitkan dengan peran dakwah dan kenyataan dakwah di lapangan dipahami dengan baik, maka dari situ ditemukan strategi dakwah yang efektif. Dalam hal ini, Drs. Asep Saeful Muhtadi, M.Ag dan Agus Ahmad Safei, M.Ag menyatakan bahwa petunjuk teknis tentang strategi dakwah diungkap oleh Alquran terdapat dalam QS. al-Jum’ah (62): 2
هُوَ الذَّي بَعَثَ فىِ اْلأُمِّيِيْنَ رَسُوْلاً مِنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ اْلِكتَابَ وَاْلحِكْمَةَ
Terjemahnya :
Dialah Yang mengutus di kalangan kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah).[26]
Dari ayat di atas, ditemukan sekurang-kurangnya tiga strategi dakwah, yakni ;
Strategi yatlū ‘alayhim āyatih. Dalam istilah lain diartikan sebagai proses komunikasi. Strategi penyampaian pesa-pesan Alquran kepada umat memiliki konsekuensi terpelihanya hubungan insani secara sehat dan bersahaja, sehingga dakwah tetap memberikan fungsi maksimal bagi kepentingan hidup dan kehidupan. Di sinilah proses dakwah perlu mempertimbangkan dimensi-dimensi sosiologis agar komunikasi yang dilaluinya dapat berimplikasi pada peningkatan kesadaran iman.
Strategi yuzakkihim, yakni strategi dakwah yang dilakukan melalui proses pembersihan sikap dan perilaku. Proses pembersihan ini dimaksudkan agar terjadi perubahan individu dan masyarakat sesuai dengan watak Islam sebagai agama kemanusiaan. Oleh karena itu, dakwah mengembang misi kemanusiaan, sekaligus memelihara keutuhan Islam sebagai agama rahmatan li al-‘ālamīn.
Strategi yu’allimu humul kitābah wa al-hikmah. Strategi ini dapat dilakukan melalui proses pendidikan, yakni proses penmbebasan manusia dari berbagai penjara kebodohan yang sering kali melilit kemerdekaan dan kreativitas. Pendidikan yang dimaksud di sini adalah proses pencerahan untuk menghindari keterjebakan hidup dalam pola jahiliah yang sangat tidak menguntungkan, khususnya bagi masa depan umat manusia.[27]
Sedangkan menurut Didin Hafidhuddin, prinsip dan strategi dakwah secara umum adalah :
1. Memperjelas Sasaran Dakwah
Sebagai langkah awal dalam berdakwah, terlebih dahulu harus diperjelas sasaran apa yang ingin dicapai. Jika sasaran dakwah adalah pensosialisasian ajaran Islam, maka tentu saja obyek dakwah tersebut ditujukan kepada pribadi Muslim dan komunitas masyarakat secara umum.
2. Merumuskan Masalah Pokok Umat Islam
Dakwah bertujuan untuk menyelematkan umat, karena terlebih dahulu masalah pokok yang dihadapi umat harus dirumuskan, misalnya masalah kesenjangan antara sasaran ideal dan kenyataan yang konkrit, serta kondisi masyarakat dewasa ini.
3. Merumuskan Isi Dakwah
Jika sarasan dakwah dan masalah yang dihadapi masyarakat Islam telah dirumuskan, mak langkah selanjutnya adalah menentukan isi dakwah itu sendiri. Isi dakwah harus sinkron dengan masyarakat Islam sehingga tercapai sasaran yang telah ditetapkan.
4. Menyusun Paket-paket Dakwah
Harus dibedakan paket dakwah untuk sasaran non Muslim dengan paket dakwah khusus kaum Muslim. Paker dakwah berdasarkan kualifikasi umur (anak, remaja, orangtua). Kualifikasi keprofesian (petani, pedagang, nelayan, guru dan sebagainya), serta kualifikasi berdasarkan status sosial (kaya-miskin, abangan, santri, priayi). Verifikasi itu penting, bukan hanya dari segi subtansi sajam tetapi meliputi juga cara penyampaiannya.
5. Evaluasi Kegiatan Dakwah
Agar hasil dakwah yang dicapai dapat diketahui, maka evaluasi kegiatan dakwah sangat diperlukan. Evaluasi ini penting untuk sesuai dengan perubahan masyarakat dalam kurun waktu tertentu harus selalu ada penyempurnaan dakwah. Sebelum hal itu dilakukan, terlebih dahulu harus ditetapkan target hasil dari setiap paket dakwah yang dijalankan sehingga memudahkan membuat grafik perkembangan dakwah.[28]
Strategi dakwah seperti yang diungkap oleh Alquran dan pen-jabarannya yang lebih luas sebagaimana diungkap oleh Didin Hafidhuddin di atas, secara sederhana tidak dapat terlepas dari perjalanan sejarah dakwah. Artinya, semakin berkembang suatu zaman, maka strategi dakwah harus pula mengikuti alur perkembangan zaman itu sendiri.
Jadi, strategi dakwah yang dipaparkan di atas, mungkin saja dapat mengalami perubahan sesuai permasalahan yang dihadapi. Hal tersebut dikarenakan dakwah Islam memiliki ruang lingkup kehidupan manusia dan segala permasalahannya dan di sinilah pentingnya strategi dakwah, dalam upaya pensosialisasian ajaran Islam.
Bahkan, dapat pula dirumuskan bahwa pola hidup yang Islami, hanya terwujud melalui petunjuk dakwah, karena dengan petunjuk-petunjuk tersebut manusia dapat merealisasikan kebenaran di dalam hidupnya, baik perkataan, maupun perbuatan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa untuk saat sekarang ini, strategi-strategi dakwah yang telah dipaparkan terdahulu jika direalisasikan seepektif mungkin tentu saja dapat bermuara pada pensosialisasaian ajaran Islam. Hal tersebut dikarenakan berpijak pada tujuan dakwah, yakni membentuk kepribadian Muslim, sehingga pada gilirannya akan tertanam pada diri masyarakat Muslim suatu komitmen untuk mensosialisasikan ajaran Islam dalam kehidupannya sehari-hari.
kesimpulan” Sejalan dengan pengertian dakwah tersebut, Didin Hafidhuddin menyatakan dakwah Islam merupakan aktualisasi imani yang di-manifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman, dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur, untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap dan bertindak manusia pada dataran kenyataan. Atau dengan kata lain term dakwah dapat dibatasi sebagai ajakan seseorang untuk kepada sesuatu urusan dan mengemukakan sesuatu kepadanya.
[29]
[1]Lihat Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam (Jakarta: Djambatan, 1992), h. 207
[2]Lihat Muhammad Fū’ad ‘Abd al-Bāqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāz al-Qur’ān al-Karīm (Bairut: Dār al-Fikr, 1992), h.  330
[3]QS. al-Qamar (54): 10
[4]QS. al-Qamar (39): 8
[5]QS. Fushshilat (41): 33
[6]QS. Fathir (35): 6
[7]QS. Yunus (10):25
[8]Departemen Agama RI, Al-Qu’an dan Terjemahnya (Surabaya: Mahkota, 1989), h. 54
[9]QS. al-Mu’min (40):43
[10]QS. al-Rum (30):25
[11]QS. al-Baqarah (2):186
[12]Departemen Agama RI, op. cit., h. 93.
[13]Uraian lebih lanjut, lihat Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual (Cet.I; Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 69-70
[14]Demikian yang diungkap oleh Abū Zahrah, al-Da’wah Ilā al-Islām diterjemah-kan oleh H. Ahmad Subandi dan Ahmad Sumpeno dengan judul Dakwah Islamiyah (Cet.I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), h. 13.
[15]H. Harifuddin Cawidu, Problematika Dakwah di Indonesia Masa Kini “Makalah disampaikan dalam Refresing Dai/Muballig, tanggal 9 September 2003” (Makassar: Pemda Sul-Sel, 2003), h. 4
[16]Lihat Didin Hafidhuddin, op. cit., h. 78.
[17]Departemen Agama RI, op. cit., h. 172.
[18]Komentar lebih lanjut, lihat Radhiah AP, Dakwah dan Problema dalam Era Globalisasi dalam “Warta Alauddin No. 74” (Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1996), h. 161-162
[19]Redaksi hadis tersebut dikutip dari Imām Ibn Husain Muslim bin Hajjāj Ibn Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, al-Jāmi Sahīh, Juz VII (Beirut: Dar al-Ma’arif, t.th.), h. 130
[20]Departeman Agama, op. cit., h. 675.
[21]Lihat Tim Penyusun, Ensiklopedi Al-Qur’an (Jakarta: Yayasan Bimantara, 1997), h. 72
[22]Asep  Saeful Muhtadi dan Agus Safei, Metode Penelitian Dakwah (Cet.I; Bandung: Pustaka Setia, 2003), h. 18
[23]H.M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (194Cet. IX; Bandung: Mizan, 1994).
[24]H. Harifuddin Cawidu, Strategi Pembinaan Dakwah Memasuki Milenium Baru Abad ke-21 “Makalah disampaikan dalam Musyawarah Intern Umat Islam”, tanggal 9 September 1999” (Makassar: DPD-MDI Sulsel, 1999), h. 1
[25]M. Arifin, Psikologi Dakwah (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 17.
[26]Departemen Agama RI, op. cit., h. 932.
[27]Asep  Saeful Muhtadi dan Agus Safei, op. cit., h. 19
[28]Disadur dari Didin Hafidhuddin, op. cit., h. 71-74
[29]
Skripsi PAI Problematika Dakwah pada Generasi Muda | admin | 4.5