Skripsi PAI Al-manat dalam Al-Qur’an

Skripsi PAI Al-manat dalam Al-Qur’an – Pada kesempatan ini admin artikelind.com akan berbagi informasi mengenai Skripsi PAI Al-manat dalam Al-Qur’an. Di sini admin akan memberikan review terleebih dahulu Skripsi PAI Al-manat dalam Al-Qur’an.

Contoh Skripsi PAI

Skripsi PAI Al-manat dalam Al-Qur’an

Wasiat Taqwa karya H. Husein Muhammad dengan judul asli “Khuthabul Jum’ati wal-‘Iedain”, yang diterjemahkan oleh Husein Muhammad. Di dalam buku tersebut, berisi tentang sifat yang harus dimiliki oleh manusia yang dapat menghantar manusia meraih kebahaiaan baik di dunia maupun di akhirat, di antaranya : Taat, tawadhu, tawakkal, jujur, istiqamah, amanat juga termasuk salah satu sifat yang dibahas dalam buku ini. Uraian dalam buku tersebut sangat singkat dan bersifat umum. Oleh karena itu penulis mencoba membahas lebih spesifik dengan mengangkat amanat yang merupakan salah satu sifat mesti dimiliki oleh manusia dengan merujuk kepada ayat-ayat Alquran. Dengan menitikberatkan bagaiamana cara memelihara amanat dalam Alquran.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam selalu mengajarkan kepada pemeluknya supaya mawas diri, agar hak-hak Allah dan hak-hak manusia dapat dijaganya, dan pekerjaan-pekerjaannya dapat dikontrol dari pengaruh kelengahan dan pengabaian, dan Islam pun mengharuskan agar seorang muslim menjadi seorang yang bisa dipercaya, pada umumnya orang awam mengartikan amanat dalam arti yang sempit yaitu menjaga barang titipan. Padahal amanat menurut pandangan Islam mempunyai arti yang lebih besar dan lebih berat. Amanat adalah suatu kewajiban yang hArus di jaga oleh orang-orang Islam serta mereka meminta pertolongan kepada Allah agar bisa menjaga amanat itu.

Menurut pandangan Islam amanat itu mempunyai arti yang amat luas, mencakup berbagai pengertian, namun titiknya yaitu bahwa orang harus mempunyai perasaan tangungjawab terhadap apa yang dipikulkan di atas pundaknya. Diapun sadar bahwa semuanya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Perkataan amanat yang penulis maksud di sini adalah amanat dalam pengertian yang luas, yaitu mengenai tanggungjawab manusia, baik kepada Allah yang menciptakannya maupun terhadap sesama makhluk. Kewajiban dan tanggung jawab itu adalah demikian berat, sehingga makhluk-makhluk lain selain dari manusia, tidak berani menerima dan memikulnya, hal tersebut di firmankan Allah SWT dalam Alquran  QS. Al-Ahzab (33) : 72, sebagai berikut :

إنا عرضنا الأمانة على السموات والأرض والجبال فأبين أن يحملنها وأشفقن

منها وحملها الإنسان إنه كان ظلوما جهولا.

Terjemahnya :

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,[1]

Mengenai Syârah ayat di atas, oleh al-Marâgiy menyatakan bahwa adanya kata الأرض yakni kepada kesiapan langit dan bumi.[2]  الامانةyakni segala sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, baik berupa perintah maupun larangan, tentang urusan-urusan agama dan dunia. Dan yang dimaksud di sini ialah beban-beban agama. Beban-beban agama disebut amanat, karena merupakan hak-hak yang diwajibkan oleh Allah atas orang-orang mukallaf dan dipercayakan kepada mereka agar dilaksanakan dan diwajibkan atas mereka agar diterima dengan penuh kepatuhan dan ketaatan, bahkan mereka disuruh menjaga dan melaksanakannya tanpa melalaikan sedikitpun dari padanya.[3] Kata  ابيثyakni mereka tidak siap menerima.[4] Kata  انه كان ظلوما yakni sesungguhnya manusia adalah banyak penganiayaannya, karena ia diliputi oleh kekuatan marah.[5] Kata جهولا  yakni banyak kebodokan tentang akibat-akibat segala perkara, karena diliputi kekuatan syahwat.[6]

Ada amanat yang merupakan kepercayaan yang diberikan kepada seseorang, misalnya berutang tanpa runguan, karena dipercayakan oleh orang yang berpiutan. Maka amanat ini hendaklah dipenuhi, dengan pengertian hutang dibayar dengan penuh menurut waktunya.[7]

Amanat taklif inilah yang paling berat dan besar. Makhluk-makhluk Allah yang besar, seperti langit, bumi, matahari, bulan, dan bintang-bintang, gunung-gunung, lautan dan pohon-pohon serta yang lain-lainnya, tidak sanggup memikulnya.

Lalu manusia karena kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah kepadanya, berupa akal pikiran, perasaan, kehendak dan lain-lain sebagainya, mau menanggungnya karena itu ia mendapat kehormatan dari Allah SWT. Tuhan memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadanya (Adam).

Setelah Allah SWT. menerangkan bahwa betapa besar perkara taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa orang yang memelihara ketaatan tersebut akan memperoleh kemenangan yang besar, dan orang yang meninggalkan akan mendapatkan azab, lalu dilanjutkan dengan menerangkan betapa besar hal yang berkaitan dengan ketaatan tersebut, yaitu melakukan beban-beban syariat, dan bahwa prakteknya sangat berat dan sukar bagi jiwa. Kemudian, diterangkan pula bahwa ketaatan yang mereka lakukan atau penolakan yang berupa tidak menerima dan tidak melazimkan diri melakukannya, semua itu tidaklah karena pemaksaan.

Sesungguhnya, Kami tidaklah menciptakan langit dan bumi, sekalipun tubuhnya besar dan kuat tenaganya, sebagai makhluk yang siap untuk menanggung beban-beban. Yaitu, menerima perintah-perintah dan larangan-larangan, serta mengetahui segala urusan agama dan dunia. Akan tetapi, kami menciptakan manusia sekalipun kekuatannya lemah dan tubuhnya kecil, namun siap untuk menerima beban-beban tersebut dan melaksanakan segala kesulitannya, namun demikian, manusia tetap dikuasai oleh desakan-desakan nafsu yang mengajaknya kepada amarah, sehingga ia menganiaya orang lain. Dan di ditunggangi cinta syahwat dan kecenderungan kepada tidak berpikir tentang akibat-akibat segala perkara.

Oleh karena itu, kemudian kami bebankan kepada manusia beban-beban tersebut, agar dapat merombak pagar dari kekuatan-kekuatan tersebut, dan mengurangi kekuasaannya atas manusia, juga dapat mengendalikan kebinaannya, sehingga takkan men-jerumuskan manusia ke jurang kehancuran.[8]

Menurut Prof. Dr. Hamka dalam tafsirnya mengatakan bahwa Ayat tersebut (yang telah disebutkan di atas) bermaksud meng-gambarkan secara majâz atau dengan ungkapan, betapa berat amanat itu, sehingga gunung-gunung, bumi dan langit pun tidak bersedia, memikulnya yang mampu mengemban amanat, karena manusia diberi kemampuan oleh Allah, walaupun mereka ternyata kemudian berbuat zhalim, terhadap dirinya, sendiri, maupun ornag lain serta bertindak bodoh dengan mengkhianati amanat itu.[9]

Manusia disebut amat dzalim karena ia menyadari batas kemampuannya, tetapi ia berani bertindak melampauinya; ia disebut amat bodoh karena ia berani bertindak mempunyai kesanggupan yang tidak diketahui batas-batasnya. Ia hanya mempunyai akal yang dapat memberi petunjuk tentang pelaksanaan amanat  (beban agama) yang telah dipikulnya. Makhluk yang tidak berakal tidak mungkin dapat disebut “zalim” dan “bodoh”. Karena ia tidak mengenal batas yang dilapauinya dan tidak mempunyai sarana untuk dapat mengenal batas. Makhluk yang dapat disebut “dzalim” dan “bodoh” hanyalah makhluk yang mengenal keadilan dan pengetahuan, atau makhluk yang bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan menurut kemauannya sendiri.[10]

Jadi pada hakekatnya kehidupan manusia dimuka ini merupakan suatu amanat yang diberikan Tuhan kepadanya, sebagai penerima amanat kita patut mewujudkannya dalam hidup dan kehidupan ini, setidak-tidaknya kita harus mampu melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan, dan harus bisa menjauhi larangannya. Kalau benar-benar demikian kehidupan kita maka dengan sendirinya amanat yang dibebankan kepada kita itu dapat terwujud dengan baik. Maka kita tak dapat melaksanakan tanpa adanya ajaran dan pedoman yang di bawah oleh Rasulullah SAW, oleh karennya perlu kita hayati dan kemudian kita amalkan ajaran tersebut dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari.[11]

B.  Rumusan dan Batasan Masalah

Bertitik tolak dari uraian di atas, maka penulis akan menarik suatu rumusan pokok masalah dan sub batasan masalah agar pembahasan dalam skripsi ini lebih terarah dan sistematis. Pokok masalahnya adalah bagaimana konsep amanat dalam Alquran ? sub masalahnya adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana cara manusia memelihara atau menunaikan amanat menurut Alquran ?
  2. Langkah-langkah apa saja yang dapat ditempuh untuk menanamkan sifat amanat pada diri manusia ?

Berdasarkan pengertian dari dua kosa kata yang merupakan inti judul di atas, maka skripsi ini merupakan suatu pembahasan ilmiah mengenai kesetiaan, ketulusan hati, kejujuran dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya menurut pandangan Alquran.

Untuk melihat secara full Skripsi PAI Al-manat dalam Al-Qur’an silahkan anda download file word di sini.

Dilarang keras untuk mengambil Skripsi PAI Al-manat dalam Al-Qur’an sebagai tugas akhir anda, ini dibagikan hanya untuk dijadikan bahan refernsi dalam penyusunan skripsi.

Baca :

Demikianlah info Skripsi PAI Al-manat dalam Al-Qur’an dari admin artikelind.com, semoga bermanfaat. [Ai]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *