Pengaruh Sains Dan Teknologi Terhadap Siswa SMU

Pengaruh Sains Dan Teknologi  Terhadap Siswa SMU Negeri 1 Rappang (Suatu Tinjauan Akhlak)

Skripsi pendidikan agama Islam yang akan dipaparkan artikel bagus adalah Pengaruh Sains Dan Teknologi  Terhadap Siswa SMU Negeri 1 Rappang (Suatu Tinjauan Akhlak), semoga bermanfaat bagi para pembaca setia artikel Indonesia.

Contoh Skripsi PAI

BAB  I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang  Masalah

Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan selama satu setengah abad terakhir ini lebih banyak dari pada selama berabad-abad sebelumnya.[1] Hal ini dikarenakan semakin berkembangnnya zaman, semakin berkembang pula sains dan tekonologi. Fenomena ini merupakan kebangkitan kesadaran manusia pada abad 20 untuk meninjau ulang kerja mereka terhadap sains dan teknologi selama ini. Karena itulah, diskursus keilmuan dengan segala cabang ilmu pengetahuan akan melahirkan beberapa pendekatan baru dalam berbagai penyelidikan. Hal ini menunjukkan studi tentang keilmuan tidak akan pernah berhenti untuk dikaji, bahkan berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan obyek penelitian.

Harus pula diakui bahwa sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, tidak terlepas dari sejarah perkembangan teknologi yang kian hari semakin canggi, sehingga muncullah berbagai temuan-temuan baru yang dihasilkan para pakar dari zaman-zaman ke zaman.

Terkait dengan itu, makan masyarakat di abad 21 ini, merupakan masyarakat millenium karena cara pandang mereka terhadap berbagai masalah semakin modern,  seolah-olah dunia mempunyai tatanan baru yang menglobalisasi ke semua tatanan hidup. Kondisi demikian, disebabkan pengaruh sains dan teknologi semakin canggih, khususnya dalam memasuki tahun 2003 ini yang bernota bene sebagai tahun Asian Free Trade Area yang disingkat dengan AFTA, atau diistilahkan dengan Daerah Pasar Bebas Khusus di Benua Asia, termasuk di dalamnya Indonesia.

Seiring dengan itu, maka diskursus mengenai perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) semakin ramai dimana-mana. Dengan begitu, maka sangat penting pula digalakkan diskurus mengenai tema-tema yang berkenaan dengan Iman dan Taqwa (IMTAQ), yang di dalamnya menuntut kepada setiap manusia untuk ber-akhlak al-karimah atau akhlak al-mahmudah.

Dengan akhlak, maka manusia akan memposisikan dirinya dekat kepada sang Khaliq. Hanya saja, aspek ini kurang menjadi perhatian di zaman modern karena mereka sibuk beradptasi dengan berbagai persoalan yang bermuara pada terkikisnya nilai-nilai akhlak dalam kehidupannya.

Akhlak dalam agama tidak dapat disamakan dengan etika, jika etika dibatasi pada sopan santun antarsesama manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. Akhlak lebih luas maknanya, karena mencakup pula beberapa hal yang tidak merupakan sikap lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap bathin maupun pikiran. Akhlak yang dimaksud dalam agama adalah mencakup berbagai aspek, mulai dari akhlak terhadap Allah, hingga sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa).[2]

Dapatlah dirumuskan bahwa akhlak justru menempati posisi yang sangat dominan, seiring dengan lajunya perkembangan zaman. Sehingga, mengharuskan kepada setiap individu khususnya generasi muda untuk melirik betapa urgennya nilai-nilai akhlak dalam kehidupannya.

Generasi muda yang dimaksud di atas, termasuk para siswa atau mahasiswa yang sementara menfokuskan diri dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini, para siswa di jenjang pendidikan Sekolah Menengah dan mahasiswa di Perguruan Tinggi. Terkait dengan itu, maka lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat siginifikan dalam memenuhi tuntutan zaman.

Salah satu lembaga pendidikan yang cukup eksis dewasa ini adalah Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 1 Rappang, yang berlokasi di Jalan Kartini No. 47 Kabupaten Sidrap.

Keadaan siswa di sekolah tersebut mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas yang cukup tinggi dari tahun ke tahun. Tetapi, belum dapat dipastikan kesiapannya dalam menghadapi pengaruh sains dan terknologi. Kalaupun ada usaha untuk meretas pengaruh itu, tentu timbul lagi permasalahan yang terkait dengan jati diri siswa mengenai pengaruh sains dan teknologi informatika dalam sektor pendidikan terhadap pembentukan akhlak.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian-uraian terdahulu, maka dapatlah dirumuskan bahwa kajian mengenai pengaruh sains dan teknologi informatika serta kerelevansiannya dengan akhlak bagi siswa SMU Negeri 1 Rappang, sangat patut untuk dikaji secara cermat dan mendalam. Berkenaan dengan itu, maka masalah pokok yang dikaji dalam pembahasan mendatang adalah; Bagaimana pengaruh sains dan teknologi informatikan terhadap Siswa SMU Negeri 1 Rappang, jika disorot dalam tinjauan akhlak. Adapun sub masalahnya adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana pengaruh sains dan teknologi, khususnya teknologi informatika di SMU Negeri 1 Rappang dalam pembentukan akhlak siswa?
  2. Bagaimana dampak positif dan negatif yang ditimbulkan sains dan teknologi, khususnya teknologi imformatika terhadap siswa SMU   Negeri  1 Rappang ?
  3. Apakah yang harus dilakukan para siswa SMU Negeri 1 Rappang dalam menghadapi pengaruh sains dan tekonologi tersebut ?

C. Pengertian  Judul dan Ruang Lingkup Pembahasan

Untuk memudahkan dalam memahami maksud pembahasan dan menghindari ketidak jelasan dari berbagai istilah yang terdapat dalam judul skripsi, yakni “PENGARUH SAINS DAN TEKNOLOGI TERHADAP SISWA SMU NEGERI 1 RAPPANG; Suatu Tinjauan Akhlaq”, maka perlu dijelaskan beberapa term-term yang tercakup dari judul tersebut, sehingga ruang lingkup pembahasanya dapat dipahami secara utuh dan menyeluruh.

  1. “Pengaruh” adalah daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang,5 sehingga skripsi ini akan mengkaji hal-hal yang melatar belakangi  pembentukan watak para siswa dalam merespek perkembangan sains dan teknologi.
  2. Sains dan Teknologi;
  • Sains berasal dari bahasa Inggris “science“ yang berarti ilmu pengetahuan.6
  • Teknologi berasal dari kata bahasa Yunani yakni  teknikos yang secara leksikal berarti tehnik,7

Berdasar dari pengertian di atas, maka skripsi ini akan mengkaji hal-hal yang berkenaan dengan pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi siswa.

Siswa adalah murid, pelajar, mahasiswa yang menuntut ilmu di lembaga pendidikan.8 Dengan demikian, siswa yang dimaksud dalam skripsi ini adalah mereka yang menuntut ilmu di SMU Negeri 1 Rappang.

Dari beberapa pengertian di atas, maka ruang lingkup pembahasan skripsi ini diopresionalkan pada kajian tentang wujud pengaruh sains dan teknologi dan kerelevansiannya terhadap pembentukan akhlak bagi siswa SMU Negeri 1 Rappang.


D. Metode  Penelitian
Metode penelitian yang dimaksud di sini adalah cara kerja yang bersistem untuk mempermudah pelaksanaan pengkajian dalam mencapai tujuan. Dalam skripsi ini digunakan beberapa metode, yakni metode pendekatan, metode pengumpulan data, metode pengolahan dan metode analisis data.
1. Metode Pendekatan
Pendekatan yang digunakan adalah theologis yakni berusaha untuk menguraikan pengaruh sains dan teknologi terhadap siswa SMU Negeri 1 Rappang, dengan pendekatan keagamaan yang menitikberatkan pada tatanan akhlak.
2. Metode Pengumpulan Data
Karena yang menjadi obyek penelitian skripsi ini adalah para siswa SMU Negeri 1 Rappang, maka penelitiannya bersifat field reseacrh atau penelitian lapangan, yang di dalamnya meliputi populasi[3] dan sampling (sampel)[4] serta teknik-teknik pengumpulan data lainnya, misalnya, wawancara, angket (questionaire) dan dokumentasi.
a. Populasi
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa SMU Negeri 1 Rappang, mulai dari kelas I sampai kelas III yang jumlahnya sebanyak 658 orang, dengan berbagai program studi, yakni program IPS, IPA dan Bahasa.
b. Sampel
Penggunaan sampel dalam penelitian pada dasarnya dimaksudkan untuk mengambil sebagian dari populasi dan bagian yang diambil tersebut merupakan reprensentase atau perwakilan dari keseluruhan populasi untuk selanjutnya dijadikan sasaran penelitian. Kesimpulan-kesimpulan yang diambil terhadap sampel tersebut juga berlaku bagi seluruh populasi. Jadi sampel yang diambil harus mencerminkan keadaan populasi secara umum, artinya segala karakteristik populasi hendaknya tercermin pula dalam sampel yang diambil.
Cara penarikan sampel penelitian ini adalah dengan proportional stratified random sampling atau sampel distratifikasi, yaitu peneliti secara sengaja memilih responden.
Dengan demikian, maka yang menjadi sampel di dalam penelitian ini sebanyak 60 orang, dengan mengambil 20 orang dari kelas I, kelas II dan kelas III.
c. Wawancara (Inteviuw)
Wawancara dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai pengaruh sains dan teknologi bagi siswa SMU Negeri 1 Rappang. Dalam pelaksanaannya, wawancara dilakukan bukan hanya pada siswa tetapi juga dilakukan terhadap beberapa guru-guru yang mengetahui tentang pengaruh sains dan teknologi yang dimaksud.
d. Angket (Questionaire)
Dalam penelitian ini dilakukan dengan cara langsung kepada responden yang menjadi sampel penelitian dengan menggunakan suatu daftar pertanyaan melalui angket atau pertanyaan secara tertulis yang disusun secara sistematis.
e. Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah suatu cara atau metode pengumpulan data melalui bahan-bahan atau bukti-bukti tertulis yang berupa informasi-informasi yang dibutuhkan oleh penulis, terutama informasi yang berhubungan dengan  pengaruh sains dan teknologi.
4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Hasil penelitian yang diperoleh dianalisis secara statistik deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan tabel-tabel biasa. Tetapi, khusus untuk pengolahan dan analsis data yang berkenaan dengan pengaruh sains dan teknologi diolah dengan tabel frekuensi dan persentase
E. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kebenaran terhadap teori, mengenai adanya pengaruh sains dan teknologi terhadap siswa SMU negeri 1 Rappang.
2. Kegunaan
Kegunaan penelitian ini tercakup dalam dua hal, yakni;
  • Kegunaan Ilmiah, yakni memberikan kontribusi dalam pengembangan sains dan teknologi bagi siswa di masa-masa mendatang
  • Kegunaan praktis, yakni memberikan pemikiran baru yang dijadikan bahan masukan bagi semua pihak mengenai pengaruh sains dan teknologi terhadap siswa.

 

F. Tinjauan Pustaka
Dari hasil telaahan penulis terhadap beberapa rujukan pustaka, khususnya yang berkenaan dengan penelitian sains dan teknologi, tidak satu pun di antara yang pernah membahas mengenai pengaruh sains dan teknkologi terhadap siswa SMU Negeri 1 Rappang. Walaupun demikian, terdapat beberapa buku-buku rujukan yang dapat membantu terklaksananya penelitian skripsi ini. Buku-buku rujukan yang dimaksud adalah ;
  1. Pemuda dan Perkembangan Iptek dalam Perspektif Agama, karya Musa Asyari, di mana uraiannnya mencakup masalah pemuda dan hubungannya dengan perkembangan Iptek dan visi agama.
  2. Filsafat Agama, karya Amsal Bakhtiar, MA., juga diuraikan dalam satu sub bab khusus tentang pandangan filsafat mengenai sains dan teknologi.
  3. Sains, Teknologi dan pembangunan, karya Ziauddin Sardar, yang di dalamnya terdapat uraian mengenai dampak yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Dari ketiga daftar pustaka di ataslah, penulis mengambil berbagai bahan untuk kelengkapan pembahasan skripsi, walaupun diketahui bahwa daftar pustaka tersebut, tidak semuanya sejalan dengan maksud judul skripsi ini.
G. Garis-garis Besar Isi Skripsi
Skripsi ini terdiri atas lima bab dan masing-masing bab terdiri atas beberapa sub bab pembahasan, yang secara sistematis disusun sebagai berikut  :
Bab pertama merupakan pendahuluan  yang merupakan kerangsa dasar acuan untuk pembahasan selanjutnya. Muatannya, meliputi : Latar belakang masalah, permasalahan, pengertian judul, tujuan dan kegunaan serta garis-garis besar isi skripsi, sebagaimana telah dikemukakan terdahulu.
Bab  kedua, memperkenalkan obyek yang akan dijadikan sasaran penelitian, yakni SMU Negeri 1 Rappang dan daerah sekitarnya yang uraian-uraiannya meliputi keadaan geografisnya, sosial ekonominya serta agama dan kepercayaannya.
Bab ketiga, menguraikan tentang sains dan teknologi yang di dalamnya akan dikemukan pengertian sain dan teknologi. selanjutnya akan dibahas tentang upaya pengembangan dan strategi SMU Negeri 1 Rappang dalam menghadapi pengaruh sains dan teknologi.
Bab keempat, menguraian pembahasan tentang tentang pengaruh sains dan teknologi inpormatika terhadap siswa SMU Negeri 1 Rappang yang meliputi dampak positif dan negatif yang ditimbulkan oleh sains dan teknologi  terhadap siswa SMU Negeri 1 Rappang  dalam kaitannya dengan akhlak.
Bab Kelima, ini merupakan bab penutup dari seluruh pembahasan skrpisi ini,  yang  meliputi  kesimpulan dan saran-saran atau implikasi dari hasil penelitian yang termuat dalam skripsi ini
Pada akhir pembahasan skripsi ini, dilampirkan berbagai daftar rujukan atau daftar kepustakaan, sebagai sumbur data dan informasi yang telah dikutip dalam uraian-uraian sebelumnya.
Garis-garis besar pembahasan di atas, akan memberikan pemahaman awal mengenai tema-tema pokok yang dijadikan obyek kajian dalam skripsi ini, dan untuk selanjutnya dapat ditelusuri lebih lanjut pada bab-bab mendatang.
[1]Harold H. Titus, et. al., The Living Issues of Philosophy, diterjemahkan oleh H. M. Rasyidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 254.
[2]M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran; Tafsir Maudhui Atas Pelbagai Persoalan Umat (Cet. II; Bandung: Mizab, 1996), h. 261.
5W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Ilmu Bahasa Indonesia (Jakarta; Balai  Pustaka, 1986), h. 731.
6Ibid., h . 754
7Kamaruddin, Kamus Riset (Bandung: Angkasa, 1989), h. 276.
8Ibid., h. 724.
[3]Populasi adalah kelompok yang menjadi perhatian penelitian dalam usaha memperoleh informasi dan menarik kesimpulan. Dengan kata lain ia sebagai obyek keseluruhan obyek penelitian.  M. Manullang, Prosedur Penelitian (Jakarta: Galia, 1981), h. 16-17
[4]Sampel adalah sebagaian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti yang dianggap mewakili  terhadap seluruh populasi  dan diambil dengan menggunakan teknik tertentu.  Ibid., 18. Lihat pula Ambo Enre Abdullah, dasar-Dasar Penelitian (Ujungpandang: IKIP, 1984), h. 102.
[5]Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan (Cet. III; Jakarta: Rajawali Perss, 1991), h. 41.
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Berdiri dan Keadaan Geografisnya
Berdiriya Kabupaten Sidenreng Rappang tidak terlepas dari bingkai perjalanan sejarah yang begitu panjang dan berliku,  jauh sebelum Indonesia merdeka. Menurut catatan sejarah bahwa sekitar abad 16 dan 17 Masehi, tersebutlah dua kerajaan yang cukup besar dan berpengaruh di samping kerajaan Gowa, Tallo dan Bone. Dua kerajaan yang dimaksud adalah : Sidenreng dan Rappang. Keduanya berdampingan dan masing-masing dikenal jaya di masanya.
Kerajaan Sidenreng dipimpin oleh Addaowang, sementara Kerajaan Rappang dipimpin oleh Lasaddapoto. Keduanya memiliki hubungan yang akrab dan saling bahu membahu dalam mensejahterakan rakyatnya. Dengan begitu, maka di penghujung kejayaannya, keduanya melebur menjadi satu kerajaan yang disebut dengan Kerajaan Sidenreng Rappang, di bawah pemerintahan seorang  raja yang bernama Lasaddapotto yang merupakan  raja ke 20. Sehingga, latar belakang terbentuknya kerajaan ini, bermula dari dua kerajaan besar, yakni Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang.
Ketika wilayah-wilayah kerajaan di wilayah Nusantara, berintegrasi ke dalam kesatuan Negara Republik Indonesia pada tahun 1945, maka Kerajaan Sidenreng Rappang diproklamirkan sebagai daerah kabupaten di bawah wilayah Propinsi Sulawesi. Kemudian, pada tahun 1959 keluarlah Undang-Undang tentang pembentukan daerah otonom, yakni Propinsi Sulawesi dibagi atas dua wilayah, yakni Sulawesi Selatan dan Tenggara, serta Sulawesi Tengah dan Utara. Ketika itu pula, maka Daerah Sidenreng Rappang diresmikan sebagai Daerah Tingkat II (kabupaten) dalam Propinsi Sulawesi Selatan.[1]
H. Andi  Sapada Mappangile, adalah bupati pertama di daerah ini. Ia dilantik pada 18 Pebruari  1960, sehingga hari jadinya Kabupaten Sidenreng Rappang dimulai pada saat itu. Periode kepemimpinan H. Andi Sapada Mappangile berjalan hingga tahun 1966. Kemudian, secara berturut-turut dilanjutkan oleh Bupati berikutnya yakni  Letkol  H. Arifin Nu’man (1966-1978); Letkol Opu Sidik (1978-1988); Kolonel  Muhammad Yunus Bandu (1988-1993); Andi Salipolo Palalloi (1993-1998); dan H. S. Parawansa, SH (1998-sampai sekarang). Dengan demikian, Daerah Sidenreng Rappang yang lazimnya disingkat menjadi “Sidrap”,  baru enam kali mengalami pergantian pemerintahan atau Bupati Kepala Daerah.
Di kabupaten Sidenreng Rappang, tersebutlah salah satu wilayah yang yang disebut kecamatan Panca Rijang dan Ibu Kotanya adalah Rappang. Letaknya, jauh dari daerah pantai dan luasnya 34,02 KM2. Sebagian besar kondisi tofografinya adalah tanah datar  (98, 75 %), sedang tanah berbukit (1,25 %) berada pada Desa  Cipotakari. Luas tanah sawah  1.885,82  Ha; tanah pekarangan  457, 65 Ha; tanah perkebunan menunjukkan bahwa perhatian terhadap perkebunan cukup besar sehingga  kecamatan Panca Rijang termasuk  sub Wilayah Pembangunan bagian selatan. Jenis tanaman yang di arahkan adalah  tanaman pangan (Padi, palawija), Perkebunan (Jambu mente, kelapa). Hal ini ditunjang oleh jenis tanahnya yaitu alluvial kelabu, padsolit dan regusol.
Tidak dapat disangkal bahwa keadaan iklim atau alam sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam suatu wilayah atau daerah. Dengan demikian, fungsi alam bagi manusia sangat urgen dan mereka tidak dapat hidup tanpa  memperhatikan alam di sekelilingnya. Terkait dengan itu, maka ada tiga macam pemberian alam yang berguna bagi manusia  yakni  iklim, bumi beserta isinya. Ketiga macam pemberian alam ini sangat mempengaruhi  kehidupan dan  penghidupan manusia dimana iklim dapat mengatur pertumbuhan  tanam-tanaman, hewan dan sebagainya.
Hal ini berlaku pula pada daerah Sidenreng Rappang, oleh karena mempunyai keadaan alam dan iklim yang cocok  bagi usaha pertanian sebagai salah satu  obyek pembangunan dengan memperhatikan tinggi letaknya dari permukaan laut, maka seluruh ketinggiannya lebih kurang 27. M sehingga hal ini cocok untuk tanaman jangka pendek dan jangka panjang. Keadaan tanahnya itu adalah  tanah  yang datar dan subur hingga mudah untuk pertumbuhan  tanaman pangan seperti padi, jagung, dan lain-lain.
Dengan melihat keadaan daerah ini, jelaslah bahwa pada daerah ini adalah salah satu daerah yang mempunyai keadaan alam yang memungkinkan untuk pelaksanaan pembangunan dengan baik, misalnya sektor pertanian dengan  adanya sungai dan pengairan yang memadai, sehingga dapat meningkatkan hasil produksi  pangan, khususnya produksi padi.
Wilayah administrasi  Kabupaten Sidenreng Rappang dengan luas  1883, 25 km2 terbagi  dalam 11 kecamatan  (9 Definitif dan dua perwakilan) serta 102 desa/kelurahan. Salah satu kecamatan yang menjadi lokasi penelitian ini adalah  Kecamatan Panca Rijang.

 

Letak Kecamatan Panca Rijang  itu sendiri  berbatasan dengan  :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kulo.
  • Sebelah  Timur berbatasan dengan Kecamatan Maiwa Kab. Enrekang.
  • Sebelah  Selatan berbatasan dengan Kecamatan Maritengngae.
  • Sebelah Barat  berbatasan dengan  Kecamatan Baranti.

 

Wilayah Administratif Kecamatan  Panca Rijang  dengan luas 34,2 KM2, terbagi atas 8 (delapan) desa/kelurahan, sebagaimana perinciannya dalam tabel I berikut :

 



TABEL  I Distribusi Desa/Kelurahan  di Kecamatan Panca Rijang, tahun 2002 .

 

 

NO
DESA KELURAHAN
LUAS  (KM)
PERSENTASE  LUAS  DARI LUAS  KECAMATAN
1.
Maccorawalie
3,63
10,67
2.
Timoreng Panua
6,30
18,52
3.
Rappang
2,43
7,14
4.
Bulo
6,43
20,43
5.
Kadidi
2,04
6,00
6.
Lalebata
2,27
6,67
7.
Cipotakari
6,07
17,84
8.
Bulo Wattang
4,33
12,73
Jumlah
34,02
100,00

Sumber data: Papan potensi Kecamatan Panca Rijang, 2002

Iklim ini sangat memungkinkan Wilayah Kecamatan Panca Rijang menjadi daerah pertanian dan perkebunan, di samping itu juga merupakan daerah peternakan utamanya peternakan ayam yang dikelola secara besar-besaran. Kesemuanya ini didukung oleh sarana dan prasarana serta sarana pendukung lainnya.

 



B. Sosial Ekonomi

 

Dengan kondisi geografis yang dikemukakan di atas, maka dapatlah diketahui bahwa pekerjaan pokok dan penghidupan Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang sebahagian besar adalah bercocok tanam yaitu bertani. Alasannya, daerah ini termasuk daerah agraris yang ditunjang oleh jenis tanahnya yang alluvial kelabu, padsolit dan regusol ditambah dengan kondisi tanah datar  (98, 75 %); berbukit (1,25 %); tanah sawah  1.885,82  Ha; dan tanah pekarangan  457, 65 Ha. Dengan begitu, maka perhatian terhadap perkebunan cukup besar sehingga  kecamatan Panca Rijang termasuk  sub Wilayah Pembangunan bagian Selatan jenis tanaman yang diarahkan adalah tanaman pangan (Padi, palawija), perkebunan (Jambu mente, kelapa).

 

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya penduduk yang ada di Kecamatan  Panca Rijang, maka dilihat dari penduduknya boleh dikatakan rajin bekerja sehingga pengangguran jarang sekali ditemukan. Hal itu disebabkan karena pada waktu selesai panen penduduk yang ada di Kecamatan Panca Rijang mereka berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan.

 

Para petani senantiasa berusaha untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin sehingga hasil yang diperlolehnya itu selain untuk kebutuhan sebagai barang komsumsi juga sebahagian diperdagangkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti pemenuhan atas kewajiban terhadap pemerintah daerah.

 

Selain dari usaha-usaha pertanian, terdapat pula bidang pencaharian seperti; peternakan, perikanan, perindustrian, perdagangan serta pegawai pemerintah dan swasta.

 

Usaha bercocok tanam, di samping mengadakan bahan kebutuhan pokok juga di usahakan tanaman lain seperti jagung, kacang-kacangan, ubi-ubian,  sayur-sayuran, dan buah-buahan. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan produksi di bidang pertanian guna memenuhi kebutuhan penduduk di daerah-daerah sekitarnya.

 

Di samping usaha pertanian, Penduduk Kecamatan Panca Rijang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, banyak juga yang bergerak dalam beberapa bidang usaha, misalnya, bidang pertukangan, peternak pedagang dan selainnya. Untuk lebih jelsanya, dapat dilihat klasifikasi pekerjaan penduduk menurut tabel II sebagai berikut :

 

TABEL II    Distribusi Penduduk Menurut Mata Pencahariannya di Kecamatan Panca Rijang Tahun 2002.

 

 

No
Jenis Pekerjaan
Jumlah Tenaga Kerja
Presentase%
1
Petani Pemilik
3.692
36,19
2
Petani Penggarap
1.040
10,19
3
Petani Penyekap
1.174
11,53
4
Peternak
1.869
18.32
5
Buruh Tani
69
0,68
6
Pengusaha /Pedagang
402
3,94
7
Pengusaha/Pegangkut
175
1,728
8
Pegawai Negeri Sipil
926
9,07
9
Pensiunan
855
8,37

Jumlah

10,203
100,00

 

Sumber  Data: Papan Potensi Kecamatan Panca Rijang Tahun 2002

 

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa mata pencaharian masyarakat Panca Rijang di dominasi oleh petani yaitu 5.907 orang atau 57,9% dan  mata pencaharian yang lain juga banyak di minati oleh masyarakat adalah beternak yaitu sebanyak 1.869 orang (18,32%) dengan hewan ternak antara lain: Sapi, Kambing, Ayam, dan Itik. Namun yang paling banyak adalah beternak ayam dengan kapasitas 3.5530.928 ekor yang diusahakan oleh 1.675 orang peternak.

 

C. Agama dan Kepercayaan

 

Agama pada prinsipnya adalah pegangan hidup bagi umat manusia yang bersumber dari Yang Maha Kuasa, Pegangan hidup ini berisi aturan-aturan yang berupa perintah dan larangan yang harus dipatuhi oleh umat manusia. Bila agama ditinjau dari aspek kehiudupan secara menyeluruh, maka sesungguhnya agama bukan mengandung dimensi ritual atau berkenaan dengan upacara keagamaan saja melainkan masyarakat dan seluruh aktifitas kehidupan manusia.

 

Manusia dengan kodrat kesuciannya dibekali oleh Allah swt serta alat yang mampu untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan keduniaan yaitu akal pikiran, namun akal pikiran itu sendiri belum dapat menjawab sepenuhnya problema hidup umat manusia, utamanya yang berkaitan dengan batin.

 

Dengan kekurangan ini Allah swt sebagai Maha Pencipta menolong hamba-Nya dengan jalan menurunkan agama melalui Nabi dan Rasul-Nya. Agama Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt melalui Nabi Muhammad saw, dimana telah menyebar ke pelosok-pelosok desa dan diikuti dengan perkembangan zaman. Maka agama Islam merupakan agama yang sebagian besar dianut oleh masyarakat Panca Rijang. Namun demikian masih terdapat pula penganut agama kristen tetapi itu adalah pendatang yang secara kebetulan bertugas dan berusaha di daerah ini, untuk mendapatkan gambaran tentang pemeluk agama di kecamatan Panca Rijang seperti tabel berikut :

 



TABEL III Keadaan Penduduk Berdasarkan Agama di Kecamatan Panca Rijang tahun 2002

 

NO
Desa/Kelurahan
Islam
Kristen Protestan
Kristen Katolik
1
MaccoraWalie
4.418
13
2
Timoreng panua
1.578
3
Rappang
5.132
15
4
Bulo
1.597
5
Kadidi
2.554
6
Lalebata
6.317
7
Cipotakari
1.380
8
Bulo Wattang
1.237
Jumlah
24.213
28
0

 

Sumber data Badan pusat statistik Kab. Sidrap dalam angka 2002

 

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa Kecamatan Panca Rijang mayoritas beragama Islam  yaitu 24.213 orang(99,85%). Ini menggambarkan bahwa potensi sumber daya manusia umat Islam sangat besar sehingga dengan posisi itu maka perlu usah pembinaan di tingkatkan agar pelaksanaan pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan masyarakat terlaksana dengan baik. Terlebih lagi sangat perlu pemberdayaan fungsi agama dalam keluarga sebagai sasaran pertama dan utama.

 

Sebagai umat Islam yang mayoritas, maka untuk melaksanakan ibadah dan pengamalan ajaran agama sangat di tunjang oleh prasarana ibadah berupa mesjid dan mushallah seperti tertera pada tabel berikut :



TABEL IV Distiribusi Tempat Ibadah Penganut Agama di Kecamatan Panca Rijang Tahun 2002

 

 

No
Desa/Kelurahan
Mesjid
Mushallah
Gereja
Jumlah
1

Maccorawalie

3
3
6
2
Timorengpanua
2
2
4
3
Rappang
4
1
5
4
Bulo
2
2
4
5
Kadidi
2
2
4
6
Lalebata
4
1
5
7
Cipotakari
1
1
2
8
Bulo Wattang
2
2
Jumlah
20
12
0
32

 

Sumber data: Panca Rijang  dalam angka tahun 2002
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat akan adanya sarana peribadatan cukup besar, dimana terdapat 20 buah mesjid dan 12 buah mushallah. Sarana peribadatan umat Islam selain tempat ibadah juga di jadikan tempat kegiatan-kegiatan keagamaan seperti organisasi remaja mesjid, majelis teklim, dan tempat sekolah agama yang kesemuanya adalah rangkaian daripada kegiatan untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama masyarakat.
[1]Lihat Undang-Undang No. 29 Tahun 1959.
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN


A. Mengenal SMU Negeri 1 Rappang
1.    Sejarah berdirinya
Berdirinya Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 1 Rappang, dilatar  belakangi oleh keinginan masyarakat itu sendiri yang memiliki kesadaran tentag pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka dan generasi-generasi mendatang. Dengan begitu, maka timbullah keinginan dan kebutuhan akan lembaga pendidikan yang bisa menampung anak-anak mereka dalam menuntut ilmu pengetahuan. Sehingga, dengan dukungan pemerintah dan swadaya dari tokoh-tokoh masyarakat, resmilah sekolah tersebut didirikan pada tanggal 11 Juli 1959, dengan Nomor Statistik 3011991506002.[1]

 

Pada mulanya sekolah tersebut bernama Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 157 dan memiliki kebanggaan tersendiri, karena sekolah tersebut tercatat sebagai salah satu lembaga pendidikan menengah tertua dari tujuh buah sekolah/lembaga pendidikan formal[2] tingkat menengah yang ada di Sulawesi Selatan.
Selama sekolah tersebut masih bernama SMA Negeri 157 Rappang, ia dikenal di kalangan masyarakat Sidrap, karena memiliki kualitas dan mutu pendidikan yang bagus, apalagi alumni-alumninya banyak memperoleh keberhasilan dalam mengikuti pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Keberhasilan tersebut tetap bertahan sampai terjadinya perubahan nama menjadi SMU Negeri 1 Rappang.[3]
Dari tahun ke tahun, sekolah tersebut mengalami perkembangan yang cukup pesat, baik dari aspek kualitas, maupun mutu siswa dan alumninya.
Selama keberadaannya, SMU Negeri 1 Rappang telah mengalami pergantian kepemimpinan (Kepala Sekolah) sebanyak empat (4) kali, yakni bermula dari Muhammad Suyuti; Dollah, BA.; H.  Muhammad Adnan, BA.; dan H. Abu Raisyi, BA.
2.    Tenaga Kependidikannya
Salah faktor yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah adalah guru yang profesional sebagai tenaga pendidik atau pengajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Terkait dengan itu, A. Samana menyatakan bahwa :
“Guru yang bermutu adalah guru yang memeliki pribadi dewasa yang mempersiapkan diri secara khusus melalui lembaga pendidikan guru (LPTK), agar dengan keahliannya mampu mengajar sekali gus mendidik siswanya untuk menjadi warga negara yang baik, berilmu, sosial, sehat dan produktif serta mampu berperan aktif dalam peningkatan sumber daya manusia”.[4]
Melihat pentingnya posisi guru dalam meningkatkan mutu pendidikan, maka perlu di ketengahkan mengenai jumlah pengajar di SMU Negeri 1 Rappang yang kesemuanya berjumlah 57 orang, terdiri dari 29 orang laki-laki dan 28 orang perempuan. Dari jumlah tenaga kependidikan tersebut 47 orang yang merupakan guru tetap dan tiga (3) orang guru tidak tetap serta tujuh orang tenaga administrasi (Tata Usaha) termasuk Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah. Untuk lebih jelas dapat dilihat tabel I berikut :

 

TABEL I KEADAAN TENAGA PENGAJAR/ADMINISTRASI PADA SMU NEGERI 1 RAPPANG TAHUN 2002

 

 

No.
STATUS
JENIS KELAMIN
JUMLAH
Laki-laki
Perempuan
1
2
3
Guru Tetap
Guru T. Tetap
T. Administrasi (Tata Usaha Wakasek dll)
24
2
3
23
1
4
47 orang
3 orang
7 orang
Jumlah
29
28
57 orang

Sumber Data : Papan Potensi pada Kantor SMUN 1 Rappang, Tahun 2002

Berdasar pada tabel di atas, maka diketahui bahwa tenaga kependidikan di SMU Negeri 1 Rappang cukuplah memadai dalam rangkan tercapainya tujuan pendidikan yaitu ;

Pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab ke-masyarakatan dan kebangsaan.’[5]

Berdasar dari tujuan di atas dan hubungannya dengan keberadaan tenaga kependidikan pada SMU Negeri 1 Rappang, maka tentu saja dapat dijamin akan upaya mereka dalam meningkatkan mutu dan kualitas anak didiknya. Hal ini dikarenakan telah memadainya jumlah tenaga pendidik pada sekolah tersebut sebagai dalam tabel I di atas.

3.   Keadaan Siswanya
Keadaan siswa di SMU Negeri 1 Rappang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup tinggi, baik dari segi kualitasnya maupun kuantitasnya. Hal tersebut tidak terlepas dari usaha semua pihak yang berkompoten dalam sekolah untuk membuat bagaimana sekolah tersebut menjadi terkenal di kalangan masyarakat baik di daerah Rappang sendiri maupun di daerah-daerah lainnya.

Untuk tahun ajaran 1997/1998, siswanya berjumlah 533 orang. Mereka ada yang berasal dari beberapa desa di Kecamatan Pancarijang dan ada pula dari luar Kecamatan Pancarijang. Bahkan di antaranya ada yang berasal dari kabupaten lainya. Pada tahun ajaran 2000/2001 jumlah siswa di SMU Negeri 1 Rappang ini meningkat terus dan bertambah menjadi 658 orang siswa. Untuk lebih jelasnya, mengenai keadaan siswa dapat dilihat pada tabel II sebagai berikut ini :

TABEL II JUMLAH SISWA DI SMU NEGERI 1 RAPPANG TAHUN AJARAN 2000/2001

No.

KELAS

KEADAAN SISWA

JUMLAH

Pria

Wanita

1

2

3

I

II

III

135

115

97

105

110

96

240 orang

225 orang

193 orang

Jumlah

347

311

658 orang

Sumber Data : Papan Potensi pada Kantor SMU Negeri 1 Rappang, Tahun 2002

Dari Tabel tentang keadaan siswa di SMU Negeri 1 Rappang di atas, menunjukan bahwa sekolah tersebut dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang cukup pesat. Jumlah siswa yang mendaftar kemudian diterima di sekolah tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup besar. Jumlah siswa kelas I sebanyak 240 orang, lebih banyak dari jumlah siswa kelas II yang hanya 225 orang. Begitu pula dengan jumlah siswa kelas III yang hanya 193 orang.

Banyaknya jumlah siswa kelas I dibandingkan siswa kelas II dan III menunjukan adanya peningkatan jumlah pendaftar yang diterima yaitu sekitar 15 – 20 orang pertahun atau ada kenaikan 6,67% – 8,8% pertahun. Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan SMU Negeri 1 Rappang, semakin diterima di hati masyarakat daerah Rappang semakin dipercaya oleh masyarakat akan eksisitensinya sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yang mampu mendidik putra putri mereka dengan baik.

4.    Keadaan Sarana dan Prasarananya
Sarana dan prasarana merupakan faktor penentu dalam keberhasilan sebuah institusi pendidikan. Oleh karena itu, perlu kiranya di jelaskan secara mendetail mengenai sarana dan prasarana pendidikan yang terdapat di SMU Negeri 1 Rappang.

Sarana pendidikan berupa bangunan dan ruangan kelas di SMU Negeri 1 Rappang, termasuk di dalamnya Ruang Guru, Kepala Sekolah, Perpustakaan, Laboraturium, dan ruangan penunjang lainnya sudah tergolong memadai guna terlaksana proses belajar mengajar yang baik. Hanya saja, sarana atau fasilitas olah raga lah di sekolah ini yang kurang memadai, sehingga untuk kegiatan-kegiatan olah raga yang dilaksanakan masih memanfaatkan fasilitas umum yang jaraknya berdekatan dengan lokasi sekolah. Misalnya lapangan volly ball, sepak takraw dan bola kaki masih menumpang di lapangan Andi Amrie.

Fasilitas peribadatan di SMU Negeri 1 Rappang juga belum ada dan masih menggunakan sarana atau fasilitas umum hal tersebut di atas memang sunguh ironis dan sangat memprihatinkan dan dirasakan masih sangat tidak memadai, apalagi bagi ukuran sebuah sekolah yang termasuk dalam kategori sekolah unggulan seperti SMU Negeri 1 Rappang.

Begitu pula halnya dengan fasilitas penunjang lainnya yang terdapat di SMU Negeri 1 Rappang hanya memiliki dua unit komputer, satu unit proyektor, satu unit televisi dan hanya memiliki tujuh unit mesin ketik. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa dalam kelancaran proses belajar mengajar terkadang sulit untuk dicapai secara maksimal. Terlebih lagi karena jumlah siswa dan kelas serta guru yang membutuhkan sarana dan prasarana tersebut sangat banyak. Akan tetapi, meskipun fasilitas tersebut terbilang sangat tidak memadai tetapi mempunyai peranan yang sangat fital dalam membantu siswa maupun guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMU Negeri 1 Rappang tersebut.

Untuk lebih jelasnya mengenai sarana dan prasarana yang terdapat di SMU Negeri 1 Rappang, dapat dilihat dari tabel III berikut:

TABEL III KEADAAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN PADA SMU NEGERI 1 RAPPANG, TAHUN 2002

No

KEADAAN

SARANA/PRASARANA

BANYAK-NYA

KET.

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Ruang belajar teori

Ruang kepala sekolah

Ruang guru

Ruang tata usaha

Ruang lab.

Ruang perpustakaan

Ruang tamu

Ruang UKS

Ruang piket

Gudang

Rumah penjaga sekolah

Wc/toilet

Kantin

Komputer

Mesin ketik

Papan tulis

TV. Proyektor

16

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

2

7

16

1

Ruang

sda

sda

sda

sda

sda

sda

sda

sda

sda

sda

Buah

Unit

Sda

Buah

perunit

Sumber Data: Pengamatan Langsung di SMU Negeri 1 Rappang, Tahun 2002

Dari tabel tersebut di atas, dapat di tarik kesimpulan bahwa sarana dan prasarana pendidikan pada SMU Negeri 1 Rappang sebenarnya belum memadai dan masih perlu menambah sarana dan prasarana terlebih jika ingin memperkenalkan ilmu pengetahuan (IPTEK) kepada anak didiknya.


B. Mengenal Daerah Sidrap sebagai Lokasi SMU Negeri 1 Rappang
1. Sejarah Berdiri dan Keadaan Geografisnya
Sidrap adalah singkatan dari Sidenreng Rappang dan ibu katanya adalah Rappang. Di lokasi inilah terletak SMU Negeri 1 Rappang. Kabupaten Sidrap, merupakan salah satu kabupaten tingkat II di wilayah Propinsi Sulawesi Selatan.

Berdiriya Kabupaten Sidenreng Rappang tidak terlepas dari bingkai perjalanan sejarah yang begitu panjang dan berliku,  jauh sebelum Indonesia merdeka. Menurut catatan sejarah bahwa sekitar abad 16 dan 17 Masehi, tersebutlah dua kerajaan yang cukup besar dan berpengaruh di samping kerajaan Gowa, Tallo dan Bone. Dua kerajaan yang dimaksud adalah : Sidenreng dan Rappang. Keduanya berdampingan dan masing-masing dikenal jaya di masanya.

Kerajaan Sidenreng dipimpin oleh Addaowang, sementara Kerajaan Rappang dipimpin oleh Lasaddapoto. Keduanya memiliki hubungan yang akrab dan saling bahu membahu dalam mensejahterakan rakyatnya. Dengan begitu, maka di penghujung kejayaannya, keduanya melebur menjadi satu kerajaan yang disebut dengan Kerajaan Sidenreng Rappang, di bawah pemerintahan seorang  raja yang bernama Lasaddapotto yang merupakan  raja ke 20. Sehingga, latar belakang terbentuknya kerajaan ini, bermula dari dua kerajaan besar, yakni Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang.

H. Andi  Sapada Mappangile, adalah bupati pertama di daerah ini. Ia dilantik pada 18 Pebruari  1960, sehingga hari jadinya Kabupaten Sidenreng Rappang dimulai pada saat itu. Periode kepemimpinan H. Andi Sapada Mappangile berjalan hingga tahun 1966. Kemudian, secara berturut-turut dilanjutkan oleh Bupati berikutnya yakni  Letkol  H. Arifin Nu’man (1966-1978); Letkol Opu Sidik (1978-1988); Kolonel  Muhammad Yunus Bandu (1988-1993); Andi Salipolo Palalloi (1993-1998); dan H. S. Parawansa, SH (1998-sampai sekarang). Dengan demikian, Daerah Sidenreng Rappang yang lazimnya disingkat menjadi “Sidrap”,  baru enam kali mengalami pergantian pemerintahan atau Bupati Kepala Daerah.Ketika wilayah-wilayah kerajaan di wilayah Nusantara, berintegrasi ke dalam kesatuan Negara Republik Indonesia pada tahun 1945, maka Kerajaan Sidenreng Rappang diproklamirkan sebagai daerah kabupaten di bawah wilayah Propinsi Sulawesi. Kemudian, pada tahun 1959 keluarlah Undang-Undang tentang pembentukan daerah otonom, yakni Propinsi Sulawesi dibagi atas dua wilayah, yakni Sulawesi Selatan dan Tenggara, serta Sulawesi Tengah dan Utara. Ketika itu pula, maka Daerah Sidenreng Rappang diresmikan sebagai Daerah Tingkat II (kabupaten) dalam Propinsi Sulawesi Selatan.[6]

Di kabupaten Sidenreng Rappang, tersebutlah salah satu wilayah yang yang disebut kecamatan Panca Rijang dan Ibu Kotanya adalah Rappang. Letaknya, jauh dari daerah pantai dan luasnya 34,02 KM2. Sebagian besar kondisi tofografinya adalah tanah datar  (98, 75 %), sedang tanah berbukit (1,25 %) berada pada Desa  Cipotakari. Luas tanah sawah  1.885,82  Ha; tanah pekarangan  457, 65 Ha; tanah perkebunan menunjukkan bahwa perhatian terhadap perkebunan cukup besar sehingga  kecamatan Panca Rijang termasuk  sub Wilayah Pembangunan bagian selatan. Jenis tanaman yang di arahkan adalah  tanaman pangan (Padi, palawija), Perkebunan (Jambu mente, kelapa). Hal ini ditunjang oleh jenis tanahnya yaitu alluvial kelabu, padsolit dan regusol.

Tidak dapat disangkal bahwa keadaan iklim atau alam sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam suatu wilayah atau daerah. Dengan demikian, fungsi alam bagi manusia sangat urgen dan mereka tidak dapat hidup tanpa  memperhatikan alam di sekelilingnya. Terkait dengan itu, maka ada tiga macam pemberian alam yang berguna bagi manusia  yakni  iklim, bumi beserta isinya. Ketiga macam pemberian alam ini sangat mempengaruhi  kehidupan dan  penghidupan manusia dimana iklim dapat mengatur pertumbuhan  tanam-tanaman, hewan dan sebagainya.

Hal ini berlaku pula pada daerah Sidenreng Rappang, oleh karena mempunyai keadaan alam dan iklim yang cocok  bagi usaha pertanian sebagai salah satu  obyek pembangunan dengan memperhatikan tinggi letaknya dari permukaan laut, maka seluruh ketinggiannya lebih kurang 27. M sehingga hal ini cocok untuk tanaman jangka pendek dan jangka panjang. Keadaan tanahnya itu adalah  tanah  yang datar dan subur hingga mudah untuk pertumbuhan  tanaman pangan seperti padi, jagung, dan lain-lain.

Dengan melihat keadaan daerah ini, jelaslah bahwa pada daerah ini adalah salah satu daerah yang mempunyai keadaan alam yang memungkinkan untuk pelaksanaan pembangunan dengan baik, misalnya sektor pertanian dengan  adanya sungai dan pengairan yang memadai, sehingga dapat meningkatkan hasil produksi  pangan, khususnya produksi padi.

Wilayah administrasi  Kabupaten Sidenreng Rappang dengan luas  1883, 25 km2 terbagi  dalam 11 kecamatan  (9 Definitif dan dua perwakilan) serta 102 desa/kelurahan. Salah satu kecamatan yang menjadi lokasi penelitian ini adalah  Kecamatan Panca Rijang.

Letak Kecamatan Panca Rijang  itu sendiri  berbatasan dengan  :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kulo.
  • Sebelah  Timur berbatasan dengan Kecamatan Maiwa Kab. Enrekang.
  • Sebelah  Selatan berbatasan dengan Kecamatan Maritengngae.
  • Sebelah Barat  berbatasan dengan  Kecamatan Baranti.

Wilayah Administratif Kecamatan  Panca Rijang  dengan luas 34,2 KM2, terbagi atas 8 (delapan) desa/kelurahan, sebagaimana perinciannya dalam tabel IV berikut :

TABEL  IV DISTRIBUSI DESA/KELURAHAN  DI KEC. PANCA RIJANG, KAB. SIDRAP TAHUN 2002 .

NO

DESA KELURAHAN

LUAS  (KM)

PERSENTASE  LUAS  DARI LUAS  KECAMATAN

1.

Maccorawalie

3,63

10,67

2.

Timoreng Panua

6,30

18,52

3.

Rappang

2,43

7,14

4.

Bulo

6,43

20,43

5.

Kadidi

2,04

6,00

6.

Lalebata

2,27

6,67

7.

Cipotakari

6,07

17,84

8.

Bulo Wattang

4,33

12,73

Jumlah

34,02

100,00

Sumber data: Papan potensi Kecamatan Panca Rijang Kab. Sidrap, 2002

Iklim ini sangat memungkinkan Wilayah Kecamatan Panca Rijang menjadi daerah pertanian dan perkebunan, di samping itu juga merupakan daerah peternakan utamanya peternakan ayam yang dikelola secara besar-besaran. Kesemuanya ini didukung oleh sarana dan prasarana serta sarana pendukung lainnya.

2. Sosial Ekonomi
Dengan kondisi geografis yang dikemukakan di atas, maka dapatlah diketahui bahwa pekerjaan pokok dan penghidupan Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang sebahagian besar adalah bercocok tanam yaitu bertani. Alasannya, daerah ini termasuk daerah agraris yang ditunjang oleh jenis tanahnya yang alluvial kelabu, padsolit dan regusol ditambah dengan kondisi tanah datar  (98, 75 %); berbukit (1,25 %); tanah sawah  1.885,82  Ha; dan tanah pekarangan  457, 65 Ha. Dengan begitu, maka perhatian terhadap perkebunan cukup besar sehingga  kecamatan Panca Rijang termasuk  sub Wilayah Pembangunan bagian Selatan jenis tanaman yang diarahkan adalah tanaman pangan (Padi, palawija), perkebunan (Jambu mente, kelapa).

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya penduduk yang ada di Kecamatan  Panca Rijang, maka dilihat dari penduduknya boleh dikatakan rajin bekerja sehingga pengangguran jarang sekali ditemukan. Hal itu disebabkan karena pada waktu selesai panen penduduk yang ada di Kecamatan Panca Rijang mereka berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan.

Para petani senantiasa berusaha untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin sehingga hasil yang diperlolehnya itu selain untuk kebutuhan sebagai barang komsumsi juga sebahagian diperdagangkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti pemenuhan atas kewajiban terhadap pemerintah daerah.

Selain dari usaha-usaha pertanian, terdapat pula bidang pencaharian seperti; peternakan, perikanan, perindustrian, perdagangan serta pegawai pemerintah dan swasta.

Usaha bercocok tanam, di samping mengadakan bahan kebutuhan pokok juga di usahakan tanaman lain seperti jagung, kacang-kacangan, ubi-ubian,  sayur-sayuran, dan buah-buahan. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan produksi di bidang pertanian guna memenuhi kebutuhan penduduk di daerah-daerah sekitarnya.

Di samping usaha pertanian, Penduduk Kecamatan Panca Rijang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, banyak juga yang bergerak dalam beberapa bidang usaha, misalnya, bidang pertukangan, peternak pedagang dan selainnya. Untuk lebih jelsanya, dapat dilihat klasifikasi pekerjaan penduduk menurut tabel V sebagai berikut :


TABEL V    DISTRIBUSI PENDUDUK MENURUT MATA PENCAHARIANNYA TAHUN 2002.

No

Jenis Pekerjaan

Jumlah Tenaga Kerja

Presentase%

1

Petani Pemilik

3.692

36,19

2

Petani Penggarap

1.040

10,19

3

Petani Penyekap

1.174

11,53

4

Peternak

1.869

18.32

5

Buruh Tani

69

0,68

6

Pengusaha /Pedagang

402

3,94

7

Pengusaha/Pegangkut

175

1,728

8

Pegawai Negeri Sipil

926

9,07

9

Pensiunan

855

8,37

Jumlah

10,203

100,00

Sumber Data: Papan Potensi Kecamatan Panca Rijang Tahun 2002

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa mata pencaharian masyarakat Panca Rijang di dominasi oleh petani yaitu 5.907 orang atau 57,9% dan  mata pencaharian yang lain juga banyak di minati oleh masyarakat adalah beternak yaitu sebanyak 1.869 orang (18,32%) dengan hewan ternak antara lain: Sapi, Kambing, Ayam, dan Itik. Namun yang paling banyak adalah beternak ayam dengan kapasitas 3.5530.928 ekor yang diusahakan oleh 1.675 orang peternak.

3. Agama dan Kepercayaan
Agama pada prinsipnya adalah pegangan hidup bagi umat manusia yang bersumber dari Yang Maha Kuasa, Pegangan hidup ini berisi aturan-aturan yang berupa perintah dan larangan yang harus dipatuhi oleh umat manusia. Bila agama ditinjau dari aspek kehiudupan secara menyeluruh, maka sesungguhnya agama bukan mengandung dimensi ritual atau berkenaan dengan upacara keagamaan saja melainkan masyarakat dan seluruh aktifitas kehidupan manusia.

Manusia dengan kodrat kesuciannya dibekali oleh Allah swt serta alat yang mampu untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan keduniaan yaitu akal pikiran, namun akal pikiran itu sendiri belum dapat menjawab sepenuhnya problema hidup umat manusia, utamanya yang berkaitan dengan batin.

Dengan kekurangan ini Allah swt sebagai Maha Pencipta menolong hamba-Nya dengan jalan menurunkan agama melalui Nabi dan Rasul-Nya. Agama Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt melalui Nabi Muhammad saw, dimana telah menyebar ke pelosok-pelosok desa dan diikuti dengan perkembangan zaman. Maka agama Islam merupakan agama yang sebagian besar dianut oleh masyarakat Panca Rijang. Namun demikian masih terdapat pula penganut agama kristen tetapi itu adalah pendatang yang secara kebetulan bertugas dan berusaha di daerah ini, untuk mendapatkan gambaran tentang pemeluk agama di kecamatan Panca Rijang seperti tabel berikut :

TABEL VI KEADAAN PENDUDUK BERDASARKAN AGAMA TAHUN 2002

NO
Desa/Kelurahan
Islam
Kristen Protestan
Kristen Katolik
1
MaccoraWalie
4.418
13
2
Timoreng panua
1.578
3
Rappang
5.132
15
4
Bulo
1.597
5
Kadidi
2.554
6
Lalebata
6.317
7
Cipotakari
1.380
8
Bulo Wattang
1.237
Jumlah
24.213
28
0

 

Sumber data Badan pusat statistik Kab. Sidrap dalam angka 2002

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa Kecamatan Panca Rijang mayoritas beragama Islam  yaitu 24.213 orang (99,85%). Ini menggambarkan bahwa potensi sumber daya manusia umat Islam sangat besar sehingga dengan posisi itu maka perlu usah pembinaan di tingkatkan agar pelaksanaan pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan masyarakat terlaksana dengan baik. Terlebih lagi sangat perlu pemberdayaan fungsi agama dalam keluarga sebagai sasaran pertama dan utama.

Sebagai umat Islam yang mayoritas, maka untuk melaksanakan ibadah dan pengamalan ajaran agama sangat di tunjang oleh prasarana ibadah berupa mesjid dan mushallah seperti tertera pada tabel berikut :

 

TABEL VII DISTIRIBUSI TEMPAT IBADAH PENGANUT AGAMA TAHUN 2002

No
Desa/Kelurahan
Mesjid
Mushallah
Gereja
Jumlah
1

Maccorawalie

3
3
6
2
Timorengpanua
2
2
4
3
Rappang
4
1
5
4
Bulo
2
2
4
5
Kadidi
2
2
4
6
Lalebata
4
1
5
7
Cipotakari
1
1
2
8
Bulo Wattang
2
2
Jumlah
20
12
0
32

 

Sumber data: Panca Rijang  dalam angka tahun 2002

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat akan adanya sarana peribadatan cukup besar, dimana terdapat 20 buah mesjid dan 12 buah mushallah. Sarana peribadatan umat Islam selain tempat ibadah juga di jadikan tempat kegiatan-kegiatan keagamaan seperti organisasi remaja mesjid, majelis teklim, dan tempat sekolah agama yang kesemuanya adalah rangkaian daripada kegiatan untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama masyarakat.

[1]Abu. Raisyi, BA. Kepala SMU Negeri 1 Rappang, “Wawancara”. Rappang, 14 September 2002.

[2]Dalam pengkalisifikasian model pendidikan terdiri atas tiga macam, yakni; (1) pendidikan formal yang diselenggarakan di lingkungan sekolah-sekolah; (2) pendidikan non formal yang diselenggarakan di lingkungan masyarakat; dan (3) pendidikan informal yang diselenggarakan di linkungan rumah tangga. Uraian lebih lanjut, lihat H. Hadari Nawawi, Pendidikan dalam Islam (Cet.I; Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), h. 185.

[3]Pada tahun 1998 SMU Negeri 157 Rappang berubah menjadi SMU Negeri 1 Rappang dan nama tersebut berlaku sampai pada sekarang.

[4]Samana, Profesionalisme Keguruan (Cet I; Kanisius: Yogyakarta, 1994), h. 15.

[5]Lihat Republik Indonesia, Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (UU.RI No. 2 Tahun 1998), Bab II, pasal 2.

[6]Lihat Undang-Undang No. 29 Tahun 1959.