Peranan Dakwah dalam Memperbaiki Moralitas Anak Jalanan dI Kecamatan Biringkanayya Kota Makassar

Peranan Dakwah dalam Memperbaiki Moralitas Anak Jalanan dI Kecamatan Biringkanayya  Kota Makassar

Skripsi Pendidikan Agama Islam (Skripsi PAI) dengan judul Peranan Dakwah dalam Memperbaiki Moralitas Anak Jalanan dI Kecamatan Biringkanayya  Kota Makassar membahas tentang peranan dakwah di wilayah Makassar Sulawesi Selatan.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak Nabi Muhammad saw menerima pesan-pesan wahyu untuk menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar, dakwah senantiasa menjadi pilihan yang dikedepankan. Bahkan nabi-nabi sebelum era kerasulan Muhammad saw senantiasa menjadikan dakwah sebagai sesuatu yang signifikan dalam mengembankan tugas-tugas kenabiannya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kemajuan dan kemunduran umat, sangat tergantung pada peranan dakwah itu sendiri.

Mengingat peranan dakwah yang demikian penting, maka kegiatan dakwah harus digalakkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam QS. Ali Imran (3): 104, yakni ;

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Terjemahnya :

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.[1]

Menurut Prof. Dr. Hamka, kata ma’ruf dalam ayat tersebut dapat berarti yang dikenal, atau yang dapat dimengerti dan dapat dipahami serta diterima oleh masyarakat. Sedangkan kata munkar artinya ialah yang dibenci, yang tidak disenangi, yang ditolak oleh masyarakat, karena tidak patut dan tidak pantas.[2] Dengan batasan pengertian ma’ruf dan munkar seperti ini, maka dapat dipahami bahwa dalam melakukan kegiatan dakwah hendaklah dengan cara yang baik dan di samping itu hendaklah berusaha menghindarkan diri dari hal-hal buruk yang tidak disenangi oleh masyarakat.

Antara lain cara berdakwah yang baik adalah menyampaikan pesan-pesan agama dengan lemah lembut, sedangkan cara berdakwah yang buruk adalah menyampaikan pesan-pesan agama dengan kasar. Cara yang pertama ini, disebut dalam Alquran dengan kalimat billati hiya ahsan[3] dan ahsanul qaula.[4]

Pada ayat lain, Allah swt menjelaskan bahwa bagi umat yang senantiasa melakukan kegiatan dakwah, maka bagi mereka akan mendapat predikat khairah ummah, yakni umat yang paling baik dan umat pilihan. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam QS. Ali Imran (3):110, yakni;

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ …

Terjemahnya :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar,… [5]

Kelompok umat yang dimaksud di sini adalah umat Islam, atau umat Muhammad saw yang senantiasa melakukan kegiatan dakwah di tengah-tengah masyarakat. Jadi, eksistensi kegiatan dakwah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan senantiasa bersentuhan dengan masyarakat tempat dakwah tersebut dilaksanakan. Oleh karena itu, secara teknis, dakwah senantiasa melibatkan unsur masyarakat dengan segala problem yang dihadapinya.[6]

Salah satu problematika masyarakat dewasa ini, khususnya di kota-kota besar, termasuk Kota Makassar adalah masalah moralitas bagi anak jalanan. Menurut pengamatan penulis, anak jalanan di Kota Makassar khususnya di  Kecamatan Biringkanayya mengalami krisis moralitas. Dalam hal ini, mereka seringkali memperlihatkan penampilan dan prilaku yang kurang sopan. Dalam aspek penampilannya, mereka terbiasa menggunakan busana yang kurang etis. Sedangkan dalam aspek prilakunya, mereka terbiasa meminta-minta kepada orang yang dijumpainya. Penampilan dan prilaku seperti ini, tentu termasuk moralitas yang buruk.

Harus diakui bahwa moralitas seseorang terkadang berubah-ubah, yakni ada kalanya baik (akhlak al-mahmudah) dan adakalanya buruk (akhlak al-mazmumah). Adapun penyebab terjadinya perubahan moralitas, pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor dan di antaranya adalah faktor keluarga, pendidikan dan masyarakat.[7]

Dalam upaya menanamkan moralitas yang baik kepada anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya tersebut, maka antara lain yang dilakukan adalah memberikan nasehat-nasehat atau pesan-pesan moral melalui kegiatan dakwah yang dimediatori oleh Yayasan Bina Bangsa. Kegiatan dakwah ini, antara lain dalam bentuk pengajian rutin setiap malam Jumat yang bertempat di Rumah Singgah Bina Bangsa.[8] Di samping kegiatan dakwah dalam bentuk pengajian, anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya juga senantiasa diarahkan untuk aktif mengikuti ceramah-ceramah agama di mesjid-mesjid dan ceramah-ceramah agama yang disiarkan oleh media elektronik, yakni televisi dan radio.[9]

Aktifnya anak jalanan dalam mendengarkan dakwah-dakwah agama seperti yang disebutkan di atas, tentu ada pengaruhnya terhadap perbaikan moralitas mereka. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa peranan dakwah bagi anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Sesuai dengan uraian-uraian latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan bahwa peranan dakwah dan kaitannya dengan perbaikan moralitas anak jalanan sangat penting untuk diteliti. Oleh karena itu, masalah pokok yang akan dijadikan obyek penelitian di sini adalah; bagaimana peranan dakwah dalam upaya memperbaiki moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya.

Agar penelitian ini dapat terarah dan tersistematis, maka rumuskan masalah pokok di atas, dibatasi dalam sub-sub masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanyya ?
  2. Bagaimana peran dan bentuk dakwah yang telah diselenggarakan dalam upaya memperbaiki moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya ?
  3. Bagaimana moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya setelah memperoleh sentuhan dakwah ?

C. Hipotesis

Berdasar pada batasan masalah yang telah dipaparkan, maka berikut ini dikemukakan hipotesisnya, yakni ;

  1. Berdasarkan hasil survei sementara yang telah penulis lakukan, ternyata moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya, dapat dikategorikan sebagai moralitas buruk. Atau dengan kata lain, anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya tersebut rata-rata memiliki akhlaq al-mazmumah.
  2. Dalam upaya memperbaiki moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanyya, maka antara lain yang telah dilakukan adalah mengadakan pengajian khusus dalam bentuk ceramah agama di Rumah Singga Bina Bangsa, yang diperuntukkan bagi anak jalanan.
  3. Moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya setelah memperoleh sentuhan dakwah, ternyata mengalami perubahan. Dalam hal ini, moralitas mereka yang buruk itu (akhlaq al-mazmumah) sedikit demi sedikit mengalami perubahan ke arah moralitas yang baik (akhlaq al-mahmudah).

D. Pengertian Judul dan Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini, berjudul Peranan Dakwah dalam Memperbaiki Moralitas Anak Jalanan di Kecamatan Biringkanayya Kota Makassar. Kaitannya dengan ini dan dalam upaya untuk memperoleh pemahaman yang jelas tentang judul tersebut, serta untuk menghindari kesalahpahaman (mis undertanding) terhadap ruang lingkupnya, maka perlu dikemukakan beberapa variabel penting yang menjadi fokus utama penelitianya, yakni ;

1.  Peranan Dakwah

Peranan dapat berarti ; bagian dari tugas utama yang harus dilaksana-kan.[10] Sedangkan dakwah dapat berarti penyiaran dan atau propaganda.[11] Dengan batasan seperti ini, maka peranan dakwah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tugas utama yang harus dilaksanakan dengan cara menyiarkan pesan-pesan agama melalui kegiatan pengajian.

2.  Memperbaiki Moralitas

Memperbaiki artinya, membetulkan (kesalahan, kerusakan) atau menjadikan lebih baik.[12] Sedangkan moralitas adalah tata susila dan ajaran tentang baik buruknya perbuatan.[13] Kata “moral” tersebut kemudian melahirkan term “moralitas” yang berarti; sopan santun atau segala sesuatu yang ber-hubungan dengan etika.[14] Dengan batasan pengertian seperti ini, maka dirumuskan bahwa memperbaiki moralitas adalah merubah penampilan dan perilaku negatif ke arah yang lebih baik.

3.  Anak Jalanan

Anak adalah keturunan kedua,[15] sedangkan jalanan adalah lorong dan dapat pula berarti tempat yang banyak dilalui orang.[16] Dengan batasan seperti ini, maka anak jalanan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah street children, yakni mereka yang rata-rata berumur usia antara 3-12 tahun yang dalam kesehariannya sering mangkal di jalanan untuk meminta-minta dengan berbagai cara.

Berdasarkan dari pengertian-pengertian di atas maka dapatlah di-rumuskan bahwa judul kajian ini memiliki ruang lingkup tentang fungsi utama kegiatan dakwah dalam upaya merubah moralitas anak jalanan yang berprofesi sebagai peminta-peminta di Kecamatan Biringkanayya. Dalam operasionalnya, judul tersebut bermaksud mengungkap peran dakwah yang telah dilakukan dalam upaya merubah perilaku anak jalanan ke arah yang lebih positif (ahsanul akhlaq).

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk :

  1. Mengungkap bentuk-bentuk krisis moralitas atau penampilan dan prilaku negatif anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya
  2. Merumuskan peran dan bentuk dakwah yang efektif dan efisien dalam upaya memperbaiki moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanaya
  3. Mengetahui peranan dakwah dengan melihat ada tidaknya perubahan moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya yang telah memperoleh sentuhan dakwah

2. Kegunaan

Penelitian ini diharapkan berguna dalam dua aspek, yakni :

a. Aspek ilmiah, sebagai sumbangsih pemikiran dan bahan referensi tentang peranan dakwah dalam upaya merubah moralitas anak jalanan ke arah yang lebih positif sesuai yang diharapkan.

b. Aspek praktis, sebagai bahan informasi terhadap masyarakat luas tentang pentingnya penerapan dakwah terhadap perubahan moralitas anak jalanan. Sehingga, dengan kehadiran penelitian ini akan memudahkan bagi segenap pihak untuk terlibat dalam pembinaan anak jalanan.

F. Garis Besar isi Penelitian

Penelitian ini, terdiri atas lima bab pembahasan dan untuk mendapatkan gambaran awal tentang isi penelitian ini, maka terlebih dahulu dikemukakan garis besar isinya, yakni ;

Bab I, adalah pendahuluan yang pembahasannya memuat orientasi singkat terhadap bab-bab berikutnya. Bab pendahuluan ini, terdiri atas enam sub bahasan, yakni latar belakang; rumusan dan batasan masalah; hipotesis; pengertian judul dan ruang lingkup penelitian; tujuan dan kegunaan penelitian; serta garis besar isi penelitian.

Bab II, adalah tinjauan pustaka yang pembahasannya bersifat teoritis. Dengan demikian, pembahasannya berkisar pada masalah peranan dakwah dalam membentuk moralitas yang Islami. Dengan begitu, maka dalam bab ini akan dibahas tentang pengertian dan urgensi dakwah bagi anak jalanan, serta masalah pengertian moralitas dan pembagian serta urgensi perbaikan moralitas melalui kegiatan dakwah.

Bab III, menyangkut tentang metode penelitian, yang secara umum pembahasannya bersifat metodologis. Dengan demikian, dalam bab ini akan dikemukakan sistematika penelitian yang meliputi, populasi dan sampel; teknik pengumpulan data; teknik penulisan, jenis dan sumber data, serta teknik analisis data yang digunakan.

Bab IV, adalah hasil penelitian yang melaporkan berbagai data dan informasi mengenai peranan dakwah dalam memperbaiki moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanayya. Dengan demikian, pembahasannya dimulai dengan penyajian tentang gambaran umum lokasi penelitian; kemudian dikemukakan tentang bentuk-bentuk krisis moralitas anak jalanan di Kecamatan Biringkanyya dan strategi dakwah yang diperlukan, serta wujud moralitas anak jalanan setelah memperoleh sentuhan dakwah.

Bab V, merupakan bab penutup atau pembahasan terakhir yang terdiri atas dua sub bahasan, yakni kesimpulan dan implikasi. Bab ini, berfungsi menjawab pokok permasalan dan sub masalahnya, serta merumuskan beberapa saran dan rekomendasi sebagai implikasi akhir dari penelitian ini.

[1]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran, 1992), h. 93

[2]Haji Abdul Malilk Karim Amrullah (Hamka), Tafsir Al-Azhar, juz IV (Cet.I; Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1983), h. 29

[3]Lihat QS. al-Nahl (16): 125

[4]Lihat QS. Fushshilat (41): 33

[5]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran, 1992), h. 94

[6]Lihat Asep Saeful Muhtadi dan Agus Ahmad Safei, Metode Penelitian Dakwah (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2003), h.  15

[7]Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Auladil Islam, diterjemahkan oleh Khalilullah Ahmas Masjkur Hakim dengan judul Pendidikan Anak Menurut Islam (Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h. 1.

[8]Hasil survei penulis di Lapanganm tanggal 3-8 Januari 2005

[9]Budiman, Pekerja Sosial Yayasan Rumah Singgah Bina Bangsa, Hasil Wawancara, tanggal, 7 Januari 2005.

[10]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. X; Jakarta : Balai Pustaka, 1999), h. 667

[11]Ibid., h. 181. Mengenai pengertian dakwah secara komprehensif, lihat Amrullah Ahmad (ed), Dakwah Islam Perubahan Sosial (Yogyakarta: Prima duta, 1983), h. 5

[12]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, op. cit., h. 667

[13]Trisno Yuwono dan Pius Abdullah, Kamus Bahasa Indonesia Praktis (Surabaya: Arkola, 1994), h. 289

[14]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, op, cit., h. 592

[15]Ibid., h. 30

[16]Ibid., h. 346

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsepsi Dakwah

Untuk mengetahui konsepsi[1] dakwah, maka terlebih dahulu penulis akan mengemukakan pengertian dakwah itu sendiri. Dalam hal ini, pengertian dakwah secara etimologi berasal dari bahasa Arab, yakni da’watun (دعوة) yang artinya; seruan, panggilan, ajakan dan jamuan.[2] Kata da’wah tersebut kini telah menjadi perbendaharaan Bahasa Indonesia, yakni “dakwah” yang artinya; penyiaran.[3] Selanjutnya, kata dakwah dalam Ensiklopedia Islam diartikan sebagai “ajakan kepada Islam”.[4]

Sedangkan pengertian dakwah secara terminologi sebagaimana yang dikemukakan oleh Dr. H. Harifuddin Cawidu adalah sebagai berikut :

Dakwah didefinisikan sebagai upaya mengajak atau menyeru manusia kepada kebaikan dan kebenaran serta mencegah dari kekejian, kemungkaran dan kebatilan untuk mencapai keselamatan, kemaslahatan, kebahagiaan dunia-akhirat.[5]

Pengertian dakwah yang dikemukakan oleh Dr. H. Harifuddin Cawidu di atas, kelihatannya sangat sejalan dengan QS. Ali Imran (3): 104, yakni ;

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Terjemahnya:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.[6]

Jadi, dakwah secara subtansial pada dasarnya adalah suatu proses yang berkesinambungan berupa aktifitas-aktifitas dinamis yang mengarah kepada perbaikan, pembinaan dan pembentukan masyarakat yang bahagia (muflihun) melalui ajakan yang kontinyu kepada kebaikan dan ma’ruf serta mencegah mereka dari hal-hal yang mungkar dalm arti yang seluas-luasnya. Dalam ungkapan lain, dapat juga dikatakan bahwa dakwah adalah upaya tanpa henti untuk mengaktualisasikan dan mengimplementasikan seluruh nilai dan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan.

Berdasar dari pengertian di atas, maka dapat diketahui bahwa tujuan dakwah adalah untuk membina dan membentuk masyarakat yang bahagia sesuai dengan tuntutan agama. Pada sisi lain Didin Hafidhuddin menyatakan bahwa tujuan dakwah adalah mengubah perilaku sasaran dakwah agar mau menerima ajaran Islam dan mengamalkannya dalam dataran kenyataan kehidupan sehari-hari baik yang bersangkutan dengan masalah pribadi, keluarga, maupun sosial kemasyarakatannya.[7]

Jika dianalisis lebih lanjut, maka implementasi dari tujuan dakwah tersebut adalah sebagai suatu kegiatan, ajakan baik dalam bentuk tulisan dan lisan, maupun tingkah laku, dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain, baik secara individual maupun secara berkelompok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengamalan terhadap ajaran agama sebagai message (pesan) yang disampaikan kepada mereka tanpa adanya unsur paksaan.

Berdasar dari batasan pengertian dakwah dan tujuannya sebagaimana yang telah dipaparkan, maka maka dapat diketahui bahwa konsep dasar dakwah adalah terletak pada ajakan, dorongan, motif, rangsangan serta bimbingan terhadap orang lain untuk menerima ajaran agama dengan penuh kesadaran demi keuntungan dan kebahagiaan dalam kehidupannya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Secara normatif, Islam telah memberikan petunjuk tentang konsep dakwah yang antara lain menjelaskan fungsi-fungsi yang diperankan oleh dakwah secara umum. Adapun dalil yang terkait dengan ini adalah QS. al-Ahzāb (33): 45-46

يَااَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا اَرْسَلْنَاكَ شاَهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا (45) وَدَاعِيًا اِلىَ اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا (46)

Terjemahnya :

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.[8]

Secara tekstual, perintah untuk berdakwah dalam ayat di atas ditujukan kepada Nabi saw, tetapi secara kontekstual perintah itu ditujukan dan atau dialamatkan kepada semua umat Muslim, khususnya pada dai/muballig karena mereka adalah pewaris Nabi saw.

Dengan memperhatikan ayat di atas dan kaitannya dengan uraian-uraian terdahulu, maka dapat dirumuskan lebih lanjut mengenai konsepsi dakwah, sebagai berikut ;

  1. Dakwah adalah proses penyelenggaraan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan secara sadar dan berencana.
  2. Usaha yang diselenggarakan itu, berupa; amar ma’ruf perbaikan dan pembangunan masyarakat; nahi munkar, menutup dan memberantas segala bentuk kemungkaran dalam masyarakat.
  3. Proses penyelenggaraan dakwah dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan hidup dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.
  4. Teknik pelaksanaan dakwah adalah secara tulisan, misalnya melalui buku, koran dan selainnya; juga secara lisan, misalnya melalui mimbar, forum diskusi dan selainnya.

Berdasar pada konsepsi dakwah di atas, maka dapat dipahami bahwa dakwah merupakan aktualisasi salah satu fungsi kodrat seorang Muslim, fungsi kerisalahan, yang merupakan proses pengkodisian agar seseorang atau masyarakat mengetahui, memahami, mengimani dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam.

Dalam ungkapan lain, bahwa dakwah adalah ikhtiar atau upaya untuk merobah suatu situasi menjadi situasi yang lain, yang lebih menurut tolok ukur ajaran Islam. Pengkondisian dalam kaitannya dengan perubahan tersebut, berarti upaya untuk menumbuhkan kesadaran dan kekuatan pada diri obyek dakwah juga harus mempunyai makna bagi pemecahan masalah, pertumbuhan dan perkembangannya, kemudian diarahkan kepada pemahaman kebutuhannya, demi tercapainya tujuan hidup Muslim.

Pada sisi lain, dakwah juga merupakan kegiatan multi dialog. Dikatakan demikian, karena dakwah dapat dipandang sebagai proses komunikasi, yakni mulai dari tingkat obyek individual sampai ke tingkat obyek komunal. Artinya, kegiatan dakwah tidak lain adalah suatu kegiatan pesan dari komunikator dan motivator (dai/muballigh) kepada komunikan (obyek dakwah/masyarakat).

B.  Konsepsi Moralitas

Perkataan “moralitas” berasal dari kata “moral”. Kata moral sendiri, berasal dari bahasa latin, yakni “mores”. Ia merupakan kata jamak dari “mos” yang berarti adat kebiasaan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, moral diterjemahkan dengan arti susila.[9] Sehingga, moral merupakan suatu sikap yang sesuai dengan ide-ide umum yang diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan wajar.

Dari pengertian di atas dapat digambarkan suatu pengertian bahwa moralitas adalah sesuatu yang dapat menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan apa yang harus diperbuat.

Oleh karena itu, moralitas merupakan totalitas dari kaidah pasti dan jelas. Ia dapat diumpamakan semacam cetakan dengan batas-batas yang jelas. Kita tidak perlu menyusun kaidah-kaidah tersebut pada saat kita bertindak, sebab kaidah itu sudah ada, sudah dibuat dan hidup serta berlaku di sekitar kita.

Bilamana bertolak dari ajaran agama Islam, maka akan didapati kurang lebih 53 sub bahasan dalam Alquran yang membahas tentang pendidikan moral Islam.[10] Demikian pentingnya pendidikan moral, karena didalamnya diajarkan berbagai hal prinsip dalam kehidupan manusia, misalnya kejujuran, kebenaran, pengabdian kepada Allah dan hubungan dengan sesama manusia serta lingkungan alam sekitar.

Dari sudut apapun manusia mendasarkan definisi tentang moralitas, maka definisi itu akan menunjukkan bahwa moralitas itu sangat penting bagi setiap individu, kelompok masyarakat dan bangsa. Bahkan ukuran peradaban suatu bangsa dapat diukur dari sejauhmana tingkat moralitas atau akhlak penduduknya.

Moral atau akhlak bukanlah sekedar menginformasikan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun yang terpenting adalah bagaimana meng-aplikasikannya dalam kehidupan dalam bentuk kebaikan-kebaikan yang mendatangkan manfaat bagi sesama manusia.

Antara moral dan akhlak terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah, keduanya membahas tentang baik dan buruk dari tingkah laku manusia. Sedang perbedaannya adalah, apabila tingkah laku manusia dilihat dari aspek umum dan pemahaman barat, maka ia cenderung disebut moral, sedang apabila dilihat dari ajaran Islam, maka ia disebut akhlak, baik yang termasuk akhlak mulia (akhlaq al-mahmudah) ataupun akhlak yang tercela (akhlak al-mazmumah).

Sehubungan dengan itu, maka moralitas yang dimaksudkan di sini adalah sikap keimanan sebagai dasar ajaran Islam dalam wujud tingkah laku yang benar dalam menegakkan perintah agama sebagaimana ditegaskan dalam hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Dawud berikut ini:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه أبو داود)[11]

Artinya :

Hadis dari Abu Huraerah beliau berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya

Hadis di atas menunjukkan suatu sikap agar umat Muslim hendaknya senantiasa berbudi pekerti luhur. Karena yang demikian itulah yang terbaik untuk membina moral masyarakat.

Dalam Islam, walaupun kaidah-kaidah tingkah laku bersumber dari wahyu, namun tidak pernah bertentangan dengan pendapat akal sehat. Yang diajarkan wahyu adalah kebaikan yang sejalan dengan akal, dan yang diajarkan sebagai kebaikan menurut wahyu adalah kebenaran menurut akal sehat.

Karena itu, moralitas termasuk gerakan dalam jiwa seseorang yang menjadi sumber perbuatannya yang bersifat alternatif, baik atau buruk, bagus atau jelek sesuai dengan pengaruh pendidikan yang diberikan kepadanya.[12] Dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan akhlak adalah suatu sifat yang terpatri dalam hati seseorang yang dilakukan secara spontan tanpa direncanakan dan dipikirkan terlebih dahulu, baik berupa kebaikan ataupun keburukan sesuai keinginannya.

Akhlak atau moral dalam Islam merupakan salah satu aspek yang sangat esensial dalam hidup dan kehidupan. Jika Islam dapat disebut sebagai suatu sistem, maka akhlak atau moral merupakan salah satu sub sistemnya. Dengan demikian maka pembagian moralitas menurut penulis jika dikaitkan dengan dalil-dalil agama, maka setidaknya moralitas dalam perspektif Islam terdiri atas lima jenis, yakni :

a. Moral Rabbani

Yang dimaksud dengan moral Rabbani adalah ajaran moral dalam Islam yang bersumber dari wahyu Ilahi yang termaktub di dalam Alquran dan Sunnah Rasul.

Moral dalam ajaran Islam bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti. Penegasan tentang moral Rabbani dalam ajaran Islam mengandung makna bahwa moral Islam bukan moral yang bersifat situasional dan relatif. Tetapi mengandung nilai kebaikan mutlak, sebagaimana firman Allah Swt, dalam QS. Al-An’am (6): 153

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Terjemahnya :

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.[13]

Meskipun sumber kaidah-kaidah akhlak adalah wahyu, namun tidak satupun yang bertentangan dengan akal sehat.

b. Moral Manusiawi

Yang dimaksud dengan moral manusiawi adalah bahwa moral dalam Islam sejalan dengan fitrah manusia. Oleh karena itu, kerinduan jiwa manusia kepada kebaikan akan terpenuhi dengan mengikuti ajaran moral dalam Islam.

Alquran mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk Allah swt yang paling mulia dibandingkan dengan mahkluk lainnya dan diberi kehormatan. Moral Islam membimbing manusia agar dapat hidup sesuai watak asal atau fitrahnya, sebagai yang terdapat dalam QS al-Rum (30): 30, Allah swt berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Terjemahnya :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), tetaplah atas fitrah Allah  yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah agama) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.[14]

Dari aspek moral Rabbani dan aspek moral manusiawi tidak ada pertentangan sama sekali, karena manusia dibimbing dengan moral Islam agar dapat hidup sesuai  dengan tuntunan fitrahnya.

c. Moral Universal

Moral Universal adalah suatu ajaran moral dalam Islam yang sesuai  dengan kemanusiaan yang universal  yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Manusia diciptakan oleh Allah selain sebagai makhluk individu, sekaligus juga sebagai makhluk sosial.

Dengan demikian ajaran moral dalam Islam memberikan pedoman tentang bagaimana seharusnya manusia hidup dengan dirinya sendiri, berhadapan dengan masyarakat, berhadapan dengan lingkungannya dan lebih-lebih berhadapan dengan Allah swt Yang Maha Pencipta.

Untuk memperoleh gambaran tentang sifat keuniversalan moral Islam sebagai landasannya dapat kita lihat dalam QS. al-Baqarah (2): 177 sebagai berikut :

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Terjemahnya

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.[15]

Dalam ayat di atas dipergunakan kata al-birr yang diterjemahkan dengan kebaikan, kesalihan dan kebaktian yang merupakan kunci dalam pembahasan akhlak. Secara subtansial, makna kata al-birr cakupannya sangat luas meliputi akhlak kepada Allah berupa keimanan dan ibadah, akhlak sosial berupa pembelanjaan harta benda untuk menyantuni anggota masyarakat yang membutuhkan, akhlak pribadi berupa ketabahan jiwa menghadapi bencana, kesukaran hidup dan peperangan.

d. Moral keseimbangan

Yang dimaksud dengan moral kesimbangan adalah sistem moral dalam Islam yang berada pada posisi di tengah, antara akhlak manusia dan malaikat yang menitikberatkan kebaikannya dan terhindar dari perilaku buruk dan sifat-sifat tercela seperti yang dimiliki hewan yang menitikberatkan pada sifat keburukannya yang tercela.

Manusia menurut pandangan Islam memiliki dua kekuatan dalam dirinya, kekuatan baik ada pada hati nurani dan akalnya, dan kekuatan buruk ada pada hawa nafsunya. Manusia memiliki naluri hewani sekaligus juga memiliki roh malaikat. Manusia memiliki unsur rohani dan jasmani dan keduanya memerlukan pelayanan  kebutuhan masing-masing  serta seimbang antara jasmani dan rohani, antara duniawi dan ukhrawi, antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan masyarakat.

e. Moral Realistik;

Yang dimaksud dengan moral realistik ialah suatu ajaran moral dalam Islam yang meperhatikan kenyataan manusia. Manusia meskipun sebagai makhluk yang memiliki kehormatan  dan mempunyai kelebihan-kelebihan dari makhluk lainnya, namun dalam realitas manusia juga memiliki kelemahan-kelemahan atau memiliki berbagai macam kecenderungan dan berbagai macam kebutuhan baik yang bersifat material maupun spritual.

Secara realistik, moral Islam bukan hanya memperhatikan hal-hal yang biasa, tetapi juga hal-hal yang luar biasa. Misalnya dalam keadaan biasa dilarang, maka dalam keadan luar biasa (darurat) justru di bolehkan.

Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa dalam perspektif ajaran Islam orang yang dalam situasi dan kondisi tertentu dibolehkan melakukan perbuatan yang dalam keadaan biasa diharamkan dan perbuatan tersebut bukan merupakan dosa bagi pelakunya.

C. Urgensi Dakwah terhadap Perbaikan Moralitas

Dr. H. Harifuddin Cawidu menyatakan bahwa dakwah merupakan jantung dari agama, karena kehidupan agama sangat tergantung pada gerak dinamis dari aktifitas dakwah yang berjalan terus menerus tanpa akhir. Tanpa kegiatan dakwah, agama akan mengalami kevakuman dan stagnasi dalam perkembangannya. Oleh sebab itu, bila dakwah behenti berarti lonceng kematian agama telah berbunyi.[16]

Sehubungan dengan pernyataan ini di atas, maka kegiatan dakwah merupakan kewajiban umat Islam secara keseluruhan baik secara individual sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing, maupun secara kelompok atau kelembagaan yang diorganisasikan secara rapi dan modern, dikemas secara apik dan professional serta dikembangkan terus menerus mengikuti irama dan dinamika perubahan zaman dan masyarakat. Dalam QS. Saba (34): 28 Allah swt berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Terjemahnya :

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.[17]

Ayat di atas memberikan isyarat kepada setiap umat bahwa dalam melakukan dakwah, akan ditemukan suatu kondisi berupa sejumlah orang sebagai sasaran dakwah yang tiada peduli terhadap visi, misi, dan isi dakwah. Hal ini merupakan suatu tantangan yang menggairahkan umat. Dikatakan sebagai tantangan yang menggairahkan karena umat dituntut untuk meng-gunakan kaifiyat, mengedepankan masalah dan marhalah (tahapan-tahapan) dakwah yang berkaitan dengan kondisi obyektif kelompok sasaran, serta pada era atau zaman yang bagaimana mereka berada. Dengan demikian, dalam dakwah Islamiyah senantiasa mengandung muatan reformatif dan aktualitatif.[18]

Berdasar pada keterangan di atas, maka dipahami bahwa salah satu muatan dakwah adalah harus reformatif dan aktualitatif. Jadi, jika dikaitkan dengan masalah moralitas, maka fungsi dakwah di sini adalah berusaha untuk mereformasi moralitas buruk menjadi moralitas yang baik. Atau dengan kata lain, urgensi dakwah di sini adalah berusaha untuk memperbaiki moralitas.

Perbaikan moralitas merupakan bagian yang sangat urgen dalam Islam. Oleh karena itu, urgensi dakwah di sini, terletak pada usaha pembimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya moralitas utama menurut ukuran-ukuran Islam. Moralitas utama yang dimaksudkan di sini adalah kepribadian Muslim yang berasaskan nilai-nilai agama Islam, memilih, memutuskan dan berbuat serta bertanggung jawab berdasarkan nilai-nilai Islam.

[1]Istilah “konsepsi” berasal dari bahasa Inggris, yakni conception yang secara leksikal berarti “pembentukan ide”, dan secara terminologis berarti pengertian yang berkenaan dengan obyek yang abstrak dan universal. Di dalamnya tidak terkandung pengertian dari obyek-obyek yang konkrit atau khusus. Untuk obyek-obyek yang terakhir ini dipergunakan istilah “konsep’, yang juga berasal dari bahasa Inggris yang bermakna leksikal “ide pokok yang mendasari suatu gagasan” dan “gagasan atai ide umum”. Sebagai istilah, selain makna terdahulu, kata tersebut juga dipergunakan dengan makna “defenisi” dan konstruksi mental yang menggambarkan titik tertentu dari sebuah pendangan dan tertuju pada aspek-aspek tertentu dari sebuah gejala tanpa memperhatikan aspek lainnya. Disadur dari H. Abd. Muin Salim, Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran

(Cet. II; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada dan LSIK, 1995), h. 17-18

[2]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Cet. II; Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), h. 127

[3]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. X; Jakarta : Balai Pustaka, 1999), h. 181

[4]Lihat Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam (Jakarta: Djambatan, 1992), h. 207

[5]H. Harifuddin Cawidu, Strategi Pembinaan Dakwah Memasuki Milenium Baru Abad ke-21  “Makalah” (Makassar: DPD-MDI Sulsel, 1999), h. 1

[6]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran, 1989), h. 93

[7]Lihat Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual (Cet.I; Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 78.

[8]Departeman Agama, op. cit., h. 675.

[9]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, op. cit., h. 456.

[10]LihatChoirduddin Hadhiri. SP, Klasifikasi kandungan Al-Qur’an (Cet.I; Jakarta: Gema Insani Press, 1993), h. xvi-xvii

[11]Lihat Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’asy al-Sijistani, Sunan Abu Dawud, juz II (Suriah: Dar al-Hadits, t.th), h. 537.

[12]Abu Bakar Jabir al-Jaziri, Pola Hidup Muslim (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h. 337.

[13]Departemen Agama RI, op. cit., h. 215.

[14]Ibid., h. 645.

[15]Ibid., h. 43.

[16]H. Harifuddin Cawidu, op. cit., h. 2

[17]Departemen Agama RI, op. cit., h. 688

[18]Didin Hafidhuddin, op. cit., h. pengantar.

Peranan Dakwah dalam Memperbaiki Moralitas Anak Jalanan dI Kecamatan Biringkanayya Kota Makassar | Admin | 4.5
Leave a Reply