Al-manat dalam Al-Qur’an (Suatu Kajian Tafsir Tematik)

Al-manat  dalam Al-Qur’an (Suatu Kajian Tafsir Tematik)

Skripsi PAI Al-manat  dalam Al-Qur’an (Suatu Kajian Tafsir Tematik) kembali dipaparkan artikel bagus. Untuk membantu bagi sedang sibuk menyusun skripsi khusus pendidikan agama Islam.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam selalu mengajarkan kepada pemeluknya supaya mawas diri, agar hak-hak Allah dan hak-hak manusia dapat dijaganya, dan pekerjaan-pekerjaannya dapat dikontrol dari pengaruh kelengahan dan pengabaian, dan Islam pun mengharuskan agar seorang muslim menjadi seorang yang bisa dipercaya, pada umumnya orang awam mengartikan amanat dalam arti yang sempit yaitu menjaga barang titipan. Padahal amanat menurut pandangan Islam mempunyai arti yang lebih besar dan lebih berat. Amanat adalah suatu kewajiban yang hArus di jaga oleh orang-orang Islam serta mereka meminta pertolongan kepada Allah agar bisa menjaga amanat itu.

Menurut pandangan Islam amanat itu mempunyai arti yang amat luas, mencakup berbagai pengertian, namun titiknya yaitu bahwa orang harus mempunyai perasaan tangungjawab terhadap apa yang dipikulkan di atas pundaknya. Diapun sadar bahwa semuanya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Perkataan amanat yang penulis maksud di sini adalah amanat dalam pengertian yang luas, yaitu mengenai tanggungjawab manusia, baik kepada Allah yang menciptakannya maupun terhadap sesama makhluk. Kewajiban dan tanggung jawab itu adalah demikian berat, sehingga makhluk-makhluk lain selain dari manusia, tidak berani menerima dan memikulnya, hal tersebut di firmankan Allah SWT dalam Alquran  QS. Al-Ahzab (33) : 72, sebagai berikut :

إنا عرضنا الأمانة على السموات والأرض والجبال فأبين أن يحملنها وأشفقن

منها وحملها الإنسان إنه كان ظلوما جهولا.

Terjemahnya :

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,[1]

Mengenai Syârah ayat di atas, oleh al-Marâgiy menyatakan bahwa adanya kata الأرض yakni kepada kesiapan langit dan bumi.[2]  الامانةyakni segala sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, baik berupa perintah maupun larangan, tentang urusan-urusan agama dan dunia. Dan yang dimaksud di sini ialah beban-beban agama. Beban-beban agama disebut amanat, karena merupakan hak-hak yang diwajibkan oleh Allah atas orang-orang mukallaf dan dipercayakan kepada mereka agar dilaksanakan dan diwajibkan atas mereka agar diterima dengan penuh kepatuhan dan ketaatan, bahkan mereka disuruh menjaga dan melaksanakannya tanpa melalaikan sedikitpun dari padanya.[3] Kata  ابيثyakni mereka tidak siap menerima.[4] Kata  انه كان ظلوما yakni sesungguhnya manusia adalah banyak penganiayaannya, karena ia diliputi oleh kekuatan marah.[5] Kata جهولا  yakni banyak kebodokan tentang akibat-akibat segala perkara, karena diliputi kekuatan syahwat.[6]

Ada amanat yang merupakan kepercayaan yang diberikan kepada seseorang, misalnya berutang tanpa runguan, karena dipercayakan oleh orang yang berpiutan. Maka amanat ini hendaklah dipenuhi, dengan pengertian hutang dibayar dengan penuh menurut waktunya.[7]

Amanat taklif inilah yang paling berat dan besar. Makhluk-makhluk Allah yang besar, seperti langit, bumi, matahari, bulan, dan bintang-bintang, gunung-gunung, lautan dan pohon-pohon serta yang lain-lainnya, tidak sanggup memikulnya.

Lalu manusia karena kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah kepadanya, berupa akal pikiran, perasaan, kehendak dan lain-lain sebagainya, mau menanggungnya karena itu ia mendapat kehormatan dari Allah SWT. Tuhan memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadanya (Adam).

Setelah Allah SWT. menerangkan bahwa betapa besar perkara taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa orang yang memelihara ketaatan tersebut akan memperoleh kemenangan yang besar, dan orang yang meninggalkan akan mendapatkan azab, lalu dilanjutkan dengan menerangkan betapa besar hal yang berkaitan dengan ketaatan tersebut, yaitu melakukan beban-beban syariat, dan bahwa prakteknya sangat berat dan sukar bagi jiwa. Kemudian, diterangkan pula bahwa ketaatan yang mereka lakukan atau penolakan yang berupa tidak menerima dan tidak melazimkan diri melakukannya, semua itu tidaklah karena pemaksaan.

Sesungguhnya, Kami tidaklah menciptakan langit dan bumi, sekalipun tubuhnya besar dan kuat tenaganya, sebagai makhluk yang siap untuk menanggung beban-beban. Yaitu, menerima perintah-perintah dan larangan-larangan, serta mengetahui segala urusan agama dan dunia. Akan tetapi, kami menciptakan manusia sekalipun kekuatannya lemah dan tubuhnya kecil, namun siap untuk menerima beban-beban tersebut dan melaksanakan segala kesulitannya, namun demikian, manusia tetap dikuasai oleh desakan-desakan nafsu yang mengajaknya kepada amarah, sehingga ia menganiaya orang lain. Dan di ditunggangi cinta syahwat dan kecenderungan kepada tidak berpikir tentang akibat-akibat segala perkara.

Oleh karena itu, kemudian kami bebankan kepada manusia beban-beban tersebut, agar dapat merombak pagar dari kekuatan-kekuatan tersebut, dan mengurangi kekuasaannya atas manusia, juga dapat mengendalikan kebinaannya, sehingga takkan men-jerumuskan manusia ke jurang kehancuran.[8]

Menurut Prof. Dr. Hamka dalam tafsirnya mengatakan bahwa Ayat tersebut (yang telah disebutkan di atas) bermaksud meng-gambarkan secara majâz atau dengan ungkapan, betapa berat amanat itu, sehingga gunung-gunung, bumi dan langit pun tidak bersedia, memikulnya yang mampu mengemban amanat, karena manusia diberi kemampuan oleh Allah, walaupun mereka ternyata kemudian berbuat zhalim, terhadap dirinya, sendiri, maupun ornag lain serta bertindak bodoh dengan mengkhianati amanat itu.[9]

Manusia disebut amat dzalim karena ia menyadari batas kemampuannya, tetapi ia berani bertindak melampauinya; ia disebut amat bodoh karena ia berani bertindak mempunyai kesanggupan yang tidak diketahui batas-batasnya. Ia hanya mempunyai akal yang dapat memberi petunjuk tentang pelaksanaan amanat  (beban agama) yang telah dipikulnya. Makhluk yang tidak berakal tidak mungkin dapat disebut “zalim” dan “bodoh”. Karena ia tidak mengenal batas yang dilapauinya dan tidak mempunyai sarana untuk dapat mengenal batas. Makhluk yang dapat disebut “dzalim” dan “bodoh” hanyalah makhluk yang mengenal keadilan dan pengetahuan, atau makhluk yang bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan menurut kemauannya sendiri.[10]

Jadi pada hakekatnya kehidupan manusia dimuka ini merupakan suatu amanat yang diberikan Tuhan kepadanya, sebagai penerima amanat kita patut mewujudkannya dalam hidup dan kehidupan ini, setidak-tidaknya kita harus mampu melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan, dan harus bisa menjauhi larangannya. Kalau benar-benar demikian kehidupan kita maka dengan sendirinya amanat yang dibebankan kepada kita itu dapat terwujud dengan baik. Maka kita tak dapat melaksanakan tanpa adanya ajaran dan pedoman yang di bawah oleh Rasulullah SAW, oleh karennya perlu kita hayati dan kemudian kita amalkan ajaran tersebut dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari.[11]

B.  Rumusan dan Batasan Masalah

Bertitik tolak dari uraian di atas, maka penulis akan menarik suatu rumusan pokok masalah dan sub batasan masalah agar pembahasan dalam skripsi ini lebih terarah dan sistematis. Pokok masalahnya adalah bagaimana konsep amanat dalam Alquran ? sub masalahnya adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana cara manusia memelihara atau menunaikan amanat menurut Alquran ?
  2. Langkah-langkah apa saja yang dapat ditempuh untuk menanamkan sifat amanat pada diri manusia ?

C.  Hipotesis

Bertitik tolak pada rumusan dan batasan tersebut di atas, maka penulis mengajukan hipotesisnya sebagai berikut :

  1. Cara memelihara atau menunaikan amanat menurut Alquran yakni menegakkan kebenaran dan keadilan, melarang sistem peningdasan manusia atas manusia, membela orang-orang yang teraniaya, menegakkan prinsip-prinsip yang luhur, seperti kasih sayang, ukhuwah, saling percaya dan mempercayai
  2. Bahwa untuk menanamkan sifat amanat pada diri manusia, maka diperlukan langkah-langkah tertentu agar mudah dipahami, dihayati dan diamalkan dalam perilaku kehidupannya dari berbagai macam cara yang harus diterapkan salah satu yang paling dominan ialah menanamkan ajaran agama ke dalam jiwa manusia sejak ia masih kecil.

D.  Pengertian Judul

Sebagaimana lazimnya dalam setiap penyusunan skripsi atau karya ilmiah maka terlebih dahulu diberi batasan pengertian judul yang akan dibahas sehingga dalam pokok penguraiannya tidak terjadi kesimpangsiuran dan salah pengertian terhadap judul yang dimaksud.

Adapun judul skripsi adalah AL-AMANAT DALAM ALQURAN; Suatu Kajian Tafsir Tematik. Berdasar dari judul tersebut, maka penulis mengemukakan batasan pengertian dari beberapa kata yang dianggap perlu sebagai berikut :

  1. Al-Amanat dapat diartikan kesetiaan, ketulusan hati, ke-percayaan (tsiqah) atau kejujuran. Kebalikan dari khianat.[12]
  2. Alquran adalah ayat firman Allah yang diturunkan atas Nabi Muhammad saw, yang tertulis dalam beberapa halaman, sehingga menjadi sebuah buku yang besar bab tabel dari masa ke masa sampai kepada kita para hamba Allah dengan mutawatir, yang tidak dapat ditolak kebenarannya.[13]

Berdasarkan pengertian dari dua kosa kata yang merupakan inti judul di atas, maka skripsi ini merupakan suatu pembahasan ilmiah mengenai kesetiaan, ketulusan hati, kejujuran dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya menurut pandangan Alquran.

E. Tinjauan Pustaka

Mengenai literatur yang membahas judul skripsi ini, penulis merujuk pada buku-buku dan tafsir Alquran yang membahas masalah tersebut. Di antaranya buku yang berjudul “Islam dipandang dari segi Rohani, moral, dan Sosial”, karya Sayid Sabiq dengan judul asli “Islamuna”, yang diterjemahkan oleh Zainuddin dkk. Di dalam buku tersebut, berisi tentang sifat-sifat yang harus dimiliki oleh setiap manusia, hakekat keimanan, kelalaian kebanyakan manusia, dan juga membahas tentang cara menunaikan amanat dengan baik dan benar.

Wasiat Taqwa karya H. Husein Muhammad dengan judul asli “Khuthabul Jum’ati wal-‘Iedain”, yang diterjemahkan oleh Husein Muhammad. Di dalam buku tersebut, berisi tentang sifat yang harus dimiliki oleh manusia yang dapat menghantar manusia meraih kebahaiaan baik di dunia maupun di akhirat, di antaranya : Taat, tawadhu, tawakkal, jujur, istiqamah, amanat juga termasuk salah satu sifat yang dibahas dalam buku ini. Uraian dalam buku tersebut sangat singkat dan bersifat umum. Oleh karena itu penulis mencoba membahas lebih spesifik dengan mengangkat amanat yang merupakan salah satu sifat mesti dimiliki oleh manusia dengan merujuk kepada ayat-ayat Alquran. Dengan menitikberatkan bagaiamana cara memelihara amanat dalam Alquran.

F. Metode Penelitian

Metode penelitian dalam pembahasan skripsi ini meluputi berbagai hal sebagai berikut :

1. Metode Pendekatan

Melalui metode ini, penulis menggunakan metode pendekatan penafsiran Alquran dari segi tafsir tematik. Yakni, menghimpun ayat-ayat Alquran yang memiliki tujuan yang sama, menyusunnya secara kronologis selama memungkinkan dengan memperhatikan sebab turunnya, menjelaskannya, mengaitkannya dengan surah tempat ia berada, menyimpulkan dan menyusun kesimpulan tersebut ke dalam kerangka pembahasan sehingga tampak dari segala aspek, dan menilainya dengan kriteria pengetahuan yang sahih.[14]

Untuk lebih jelasnya, penulis menghimpun ayat-ayat Alquran yang berkenaan dengan amanat, kemudian menyusunnya ber-dasarkan kronologis serta sebab turunnya ayat-ayat tersebut, sehingga diketahui pengklasifikasiannya. Apakah ia tergolong ayat-ayat makkiyah atau Madaniyyah.

2. Metode Pengumpulan data

Mengenai pengumpulan data, penulis menggunakan metode atau teknik library research, yaitu mengumpulkan data-data melalui bacaan dan literatur-literatur yang ada kaitannya dengan pembahasan penulis. Dan sebagai sumber pokoknya adalah Alquran dan penafisrannya, serta sebagai penunjangnya yaitu buku-buku ke Islaman yang membahas secara khusus tentang umat dan buku-buku yang membahas secara umum dan implisitnya mengenai masalah yang dibahas.

3. Metode Pengolahan Data

Mayoritas metode yang digunakan dalam pembahasan skripsi ini adalah kualitatif, karena untuk menemukan pengertian yang diinginkan, penulis mengolah data yang ada untuk selanjutnya di interpretasikan ke dalam konsep yang bisa mendukung sasaran dan objek pembahasan.

4. Metode Analisis

Pada metode ini, penulis menggunakan tiga macam metode, yaitu :

  • Metode deduktif, yaitu metode yang digunakan untuk menyajikan bahan atau teori yang sifantnya umum untuk kemudian diuraikan dan diterapkan secara khusus dan terperinci.
  • Metode induktif, yiatu metode analisis yang berangkat dari fakta-fakta yang khusus lalu ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum.
  • Metode komparatif, yaitu metode penyajian yang dilakukan dengan mengadakan perbandingan antara satu konsep dengan lainnya, kemudian menarik suatu kesimpulan.

G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Dalam suatu penelitian atau kajian tentu mempunyai tujuan yang mendasari tulisan ini, yaitu sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui bagaimana cara manusia memelihara atau menunaikan amanat yang termaktub dalam Alquran.
  2. Untuk berusaha mengkaji ayat-ayat tentang amanat dalam Alquran, sehingga dengan adanya kajian ini, umat Islam semakin sadar tentang pentingnya sifat amanat dalam kehidupan dewasa ini.

Sedangkan kegunaannya, yiatu sebagai berikut :

  1. Dengan adanya kajian ini, dapat menambh wawasan keilmuan khususnya dalam bidang tafsir.
  2. Dengan adanya kajian ini penulis berharap mudah-mudahan dapat dijadikan sebagai literatur dan dorongan untuk mengkaji masalah tersebut lebih lanjut.

H. Garis-garis Besar Isi Skripsi

Secara garis besarnya penulis memberikan gambaran secara umum dari pokok pembahasan ini. Isi skripsi ini terdiri dari lima bab yang dimulai dengan pendahuluan yang mengemukakan latar belakang masalah, dimana hal tersebut merupakan landasan berpikir penyusunan skripsi ini. Kemudian hipotesis dari permasalahan yang diangkut, disertai dengan pengertian judul tinjuan pustaka, metode penelitian, tujuan dan kegunaan serta garis-garis besar isi skripsi. Dengan demikian, instisari yang termaktub dalam bab pertama ini adalah bersifat metodologis.

Dalam bab kedua, dikemukakan tentang tinjauan umum tentang amanat, sebagai bab yang bersifat pengantar untuk pembahasan inti yang terletak pada bab ketiga dan keempat. Pada bab kedua bagian-bagiannya meliputi tentang;  pengertian dan ruang lingkup amanat; tanggapan ulama tentang amanat; fungsi dan kedudukan amanat.

Pada bab tiga, menguraikan tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan amanat dan pembagian amanat itu sendiri. Dalam bab ini, dikemukakan ayat-ayat tentang amanat yang tergolong Makkiyah dan Madaniyah. Dari ayat-ayat tersebut, maka akan diketahui pembagian amanat itu sendiri yang terdirii atas tiga, yakni; amanat kepada Allah; amanat kepada manusia; dan amanat kepada diri sendiri.

Pada bab empat, adalah bab analisis, di mana  ayat-ayat tentang amanat yang termaktub dalam bab tiga, dijelaskan secara  tematik. Karena demikian halnya, maka pada bab empat dijelaskan tentang; urgensi seseorang untuk bersifat amanat; seruan agama untuk bersikap amanat; dan luasnya bidang amanat itu sendiri.

Pada bab kelima, yang merupakan bab penutup, berisi kesimpulan dari uraian-uraian skripsi ini kemudian dikemukakan beberapa saran-saran sehubungan persoalan yang telah dibahas.

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG AMANAT

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Amanat

Untuk menghilangkan kekeliruan tinjauan masyarakat tentang amanat, maka terlebih dahulu penulis akan mengemukakan beberapa pengertian mengenai amanat tersebut, sehingga dapat dipahami sesuai dengan sebenarnya.

1. Pengertian Amanat

Al–Amanat menurut arti bahasa ialah : kesetiaan, ketulusan hati, kepercayaan (stiqah) atau kejujuran amanat disini ialah suatu sifat dan sikap pribadi yang setiap, tulus hati dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya, berupa harta benda, rahasia maupun tuas kewajiban. Pelaksanaan amanat dengan baik disebut “al-Amin” yang berarti: yang dapat dipercaya, yang jujur, yang setiap, yang aman.[15]

Dari segi istilah, Amanat mempunyai pengertian yang luas, misalnya suatu tangung jawab yang dipikul oleh seseorang atau titipan yang diserahkan kepadanya untuk diserahkan kembali kepada orang yang berhak. Juga berarti kejujuran dalam melaksanakan tanggung jawab, dengan menjalankan amanat segala kerja menjadi selamat. Tetapi apabila amanat telah hilang dan tanggung jawab tidak dipenuhi, kejujuran telah tiada, atau tanggung jawab diberikan kepada yang  bukan ahlinya, maka akan terjadilah kekalutan dan malapetaka serta pertentangan dan pertikaian yang tidak tentu ujungnya.[16]

Dapat pula dikatakan bahwa amanat ialah memelihara titipan orang dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Tetapi pengertian amanat bukan terbatas pada masalah itu saja, melainkan lebih luas lagi. Yakni menyangkut pula dapat menyimpang rahasia orang, menjaga kehormatan orang lain, menjaga dirinya sendiri dan menunaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Allah Swt. sendiri menanamakan “taklif” (tugas/beban) dan syariat (aturan Tuhan) sebagai amanat.[17]

Siapa yang diberi amanat atau (tanggungjawab) dalam suatu urusan, hendaklah dijalankannya menurut semestinya dan jangan menyeleweng atau salah dalam mempergunakan kedudukannya. Siapa yang memperoleh amanat (kepercayaan) dari orang lain, misalnya dalam hal utang piutang, hendaklah amanat itu dipeliharanya jangan sampai rusak, dengan jalan memenuhi apa yang telah diucapkan atau dijanjikan, setiap orang berkewajiban melakukan amanat (kejujuran) dalam setiap hal yang dihadapinya, walaupun manusia ini suka menerima amanat (tanggung jawab), tetapi banyak di antaranya tidak sanggup memikulnya, karena tiada mempunyai kejujuran dan ilmu pengetahuan.[18]

2. Ruang Lingkup Amanat

Bahwa pada dasarnya ruang lingkup manat adalah meliputi segala aspek kehidupan, baik itu berhubungan dengan kehidupan duniawi maupun berhubungan dengan kehidupan ukhrawi, hal ini berarti kehidupan manusia di muka bumi ini merupakan suatu amanat yang wajib dilaksanakan, dan dipundak setiap insan itulah manat itu di letakkan, karena itu di dalam segala aktivitasnya dibumi ini harus bertlak dan tidak terlepas dari amanat yang menjadi tugas dan kewajibannya di dunia ini, dan di akhirat nantinya.[19]

Kehadiran manusia di dunia ini adalah untuk mengemban dan menjalankan amanat yang diterimanya dari Allah SWT, dan dengan amanat tersebut manusia di kukuhkan di muka bumi ini sebagai khalifah, khalifah yang bertanggung jawab penuh terhadap kemakmuran dan kebahagiaan dunia ini beserta isinya di dalam Alquran QS. Al-Baqarah (2) : 30, sebagai berikut :

وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة…

Terjemahnya :

Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”…[20]

Sebagai pengemban amanat atau khalifah fil ardh, manusia mempunyai 2 (dua) macam tugas pokok yang harus direalisasikan-nya dalam rangka mewujudkan amanat yang diembannya, kedua tugas pokok itu ialah sebagai berikut :

a.  Mewujudkan kemakmuran.

Di dalam Alquran QS. Huud (11) : 61, sebagai berikut :

… هو أنشأكم من الأرض واستعمركم فيها…

Terjemahnya :

Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan meminta kamu untuk memakmurkannya.[21]

Untuk memakmurkan bumi ini, penghuni-penghuni bumi harus benar-benar memahami dan menghayati ajaran Allah SWT yang dibawa oleh Rasulullah SAW, karena dengan demikian secara tidak langsung, maka amanat yang diembannya itu akan terlaksana dan terwujud dengan penuh tanggung jawab dalam segala aspek kehidupan baik hubungannya dengan sesama makhluk di bumi ini, maupun dalam pengabdian-Nya kehadhirat Allah SWT.[22]

b. Mewujudkan Kebahagiaan

Dalam mewujudkan kebahagiaan, amanat merupakan faktor penting dan menentukan, karena pada dasarnya wujudnya kebahagiaan itu adalah merupakan realisasi dari pada amanat yang dilaksanakannya, dan salah satu pedoman yang menjadi modal terwujudnya kebahagiaan itu ialah Alquranul Karim, seperti firman Allah dalam Alquran QS. Al-Maidah (5): 16, sebagai berikut :

يهدي به الله من اتبع رضوانه سبل السلام…

Terjemahnya :

Allah hendak membimbing orang yang mengikuti keridhaan-Nya dengan Alquran itu kejalan kebahagiaan.[23]

Pengertian dari ayat tersebut di atas adalah hanya orang-orang yang melaksanakan amanat itu dengan benar yang akan meraih kebahagiaan tersebut, dengan berpedoman kepda Alquran sebagai berometer kehidupan di bumi ini dan di akhirat.

Dari uraian-uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup dari pada amanat itu meliputi segala aspek kehidupan manusia, dan agar amanat itu dapat terlaksana dengan baik dan sempurna, maka sebagai pedoman kita harus berpegang atau menghayati dan mengamalkan Alquran yang mejadi penunjuk jalan bagi kehidupan di bumi ini, dan kehidupan di akhirat.[24]

Dan bila Alquran ini telah kita hayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka secara otomatis amanat yang menjadi emban bagi kita itu akan lebih mudah terlaksana, sehingga dengan demikian akan terwujudlah kemakmuran dan kebahagiaan yang ingin kita capai tersebut, dan kitapun akan merasa tenang, aman, dan damai dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

B. Pandangan Ulama tentang Amanat

Para ulama memberikan pandangan berbeda-beda tentang amanat antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :

  1. al-Qurthubi berkata : Amanat itu mencakup semua tugas suci agama, menurut pendapat lain shahih itu adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka hanya berselisih pendapat di dalam perinciannya.
  2. Ibnu Mas’ud berkata, “Amanat itu dalah amanat harta benda seperti titipan dan sebagainya.
  3. Diriwayatkan bahwa amanat itu di dalam seluruh ibadah fardhu. Utamanya adalah amanat harta. Abu Darda berkata, memandikan jenazah adalah amanat.[25]
  4. Ibn ‘Umar berkata, “yang pertama Allah ciptakan dari manusia adalah kelaminnya”. Selanjutnya ia berkata, “Ini adalah amanat yang dititipkan kepada Anda. Jadi, janganlah Anda menggunakannya kecuali dengan kebenaran. Jika Anda menjaganya berarti Anda telah menjaga diri sendiri.” Dengan demikian, kelamin, telingah, mata, lidah, perut, tangan, dan kaki adalah manat. Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak menunaikan manat.
  5. Al-Hasan berkata, “Amanat itu ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung; semua itu dan segala isinya bergetar. Lantas Allah SWT berfirman, jika engkau berbuat baik, Aku akan memberikan pahala kepadamu, akan tetapi,  jika engkau jahat, Aku tetapi, Aku akan mengazabmu. Langit, bumi, dan gunung mengatakan”, tidak.”
  6. Mujahid berkata, “ketika Allah menciptakan Adam, amanat itu ditawarkan kepadanya. Adam menerimanya. Alaluy Allah berkata, ‘Engkau telah menanggungnya. ‘Tidak terlepas kemungkinan bahwa penawaran amanat ini kepada langit, bumi, dan gunung untuk memikulnya, niscaya semua tidak akan menolaknya.”
  7. Para Fukaha dan lainnya berkata, “Penawaran amanat di dalam ayat ini adalah sebagai contoh saja mengingat besarnya fisik langit, bumi, dan gunung mampu memikulnya, maka semuanya akan merasa berat mengikuti syariat karena adanya pahala dan hukuman. Taklif itu merupakan perkara yang besar sehingga sehingga langit, bumi, dan gunung tidak mampu untuk memikulnya. Akan tetapi, hal itu dibebankan kepada manusia. Allah SWT berfirman: Dipikullah amanat itu oleh manusia (QS. Al-Ahzab (33) : 72). Artinya Adam, menerima amant itu setelah ditebarkan benih keturunannya di dunia, yakni keturunannya keluar dari sulbinya. Dipikulkan perjanjian itu kepada mereka. Dan Allah berfirman: sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS. Al-Ahzab (33) : 72). Artinya, Adam menerima itu, ia menzalimi dirinya sendiri dan tidak mengetahui masuknya ke dalam amanat itu perintah Tuhannya.”
  8. Ibn ‘Abbas berkata, “bahwa amanat itu ditawarkan kepada Adam. Dikatakan kepadanya, “Ambillah amanat itu dengan segala yang dikandungnya. Jika engkau taat, Aku mengampunimu; tetapi jika engkau durhaka Aku akan mengazabmu.” Adam, menjawab, “Saya menerimanya dengan segala yang dikandungnya.”

Hal itu hanya terjadi antara waktu Ashar dan malam pada hari itu hingga ia menamakan dari pohon itu. Kalau Allah tidak memperbaikinya dengan rahmat-Nya, dia mengampuni dan menunjukinya.

Amanat itu berkaitan dengan keimanan. Barangsiapa yang amanat Allah, Allah menjaga keimanannya. Nabi Saw, bersabda, tidak ada keimanan bagi orang yang tidak menunaikan amanat; tidak ada agama bagi orang yang tidak memenuhi janjinya.

Rasulullah Saw. bersabda. Pada orang mukmin, ditabiatkan setiap akhlak, kecuali penghianatan dan kebohongan.”

Para Mufassir mengatakan, “Ayat ini mencakup banyak pokok syariat dan ditujukan kepada seluruh mukallaf yang menjadi pemimpin dan lainnya. Jadi, wajib bagi para pemimpin berlaku adil kepada orang yang teraniaya dan memberikan haknya sebagai amanat, serta menjaga harta kaum muslimin, terutama anak-anak yatim, wajib bagi para ulama mengjaarkan hukum-hukum agama kepada masyarakat awam. Itu adalah manat yang harus dijaga oleh para ulama. Wajib bagi orang tua membimbing anaknya dengan pendidikan yang baik, karena itu pun amanat baginya. Nabi bersabda, ‘Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan-nya.[26]

Al-Ustadz Syeikh Muhammad ‘Abduh mengatakan: “Tampak-nya ayat tersebut turun sebelum jatuhnya kota makkah ke tangan kaum muslimin. Rasulullah Saw, membacakan ayat tersebut sebagai kesaksian.”[27]

C. Fungsi dan Kedudukan Amanat

Di dalam kehidupan seorang muslim dan muslimah me-melihara serta menjaga amanat adalah merupakan suatu tugas dan kewajiban yang dilimpahkan Allah SWT kepada hambanya, yang tidak boleh tidak mesti dilaksanakannya, karena pada dasarnya manusia sebelum ia dilahirkan dari rahim ibunya, maka ketika itu ia telah diperhadapkan dengan suatu tanggungjawab yang maha besar, hal mana bila cabang bayi tersebut menyatakan (ruhnya) bersedia memikul amanat yang dilimpahkan Allah SWT, maka iapun dipersilahkan untuk menyusuri ke hidupan barunya, yakni alam dunia yang fana ini atau dengan bahasa kasarnya bahwa bayi tersebut akan meninggal sebelum atau sesudah lahirnya.[28]

Jadi manusia itu pada umumnya memiliki amanat yang di bawanya sejak ia dilahirkan di dunia ini, dan dengan demikian dapat kita pahami bahwa fungsi dan kedudukan amanat dalam Islam adalah sebagai pemelihara serta pendukung tegaknya Iman dan Taqwa kepada Allah SWT. Untuk itu bilamana di dalam jiwa setiap pribadi telah bertanam sifat amanat, maka kehidupan yang dijalaninya di dunia ini kana selalu terpelihara dan dengan sendirinya kehidupannya di akhirat kelak akan pula tentram dan damai. Di dalam Alquran Allah SWT berfirman dalam surat QS. At-Tahrim (66); 6, sebagai berikut :

ياأيها الذين ءامنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا…

Terjemahnya :

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api negara[29]

Pengertian dari ayat tersebut di atas adalah mengisyaratkan kepada kita, agar amanat yang diberikan kepada kita itu, dapat dipelihara dan dijaga dengan sebaik-baiknya, sebab segala sesuatu yang kita miliki itu merupakan dari Allah SWT, termasuk di dalmnya anak, isteri, harta, dan juga termasuk diri sendiri.

BAB V

PENUTUP

Berdasarkan pembahasan tentang al-amanat dalam Alquran dari bab terdahulu, maka berikut ini punulis akan mengemukakan beberapa kesimpulan dan saran-saran.

A. Kesimpulan

  1. Bahwa amanat adalah suatu kepercayaan, janji dan sebagai ajaran agama Islam yang wajib dipenuhi serta dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab, baik amanat kepada Allah SWT, sesama manusia maupun terhadap diri sendiri.
  2. Agama Islam memerintahkan kepada setiap orang Islam untuk menjaga, memelihara dan melaksanakan amanat itu dengan sebaik-baiknya.
  3. Bahwa amanat itu harus diterapkan dalam segala aspek kehidupan dan hubungan, yiatu amanat kepada Allah SWT, manat terhadap sesama makhluk dan manat terhadap diri sendiri.
  4. Bahwa setiap orang yang memiliki kedudukan, jabatan, fungsi dan tugas apapun yang dilakukannya, maka padanya wajib memelihara dan menjalankan amanat tersebut, dan patut menjauhkan perbuatan-perbuatan khianat dan penyelewengan.
  5. Amanat adalah suatu sikap rohani yang utama, yang besumber kepada keimanan (kepercayaan) terhadap Tuhan yang Maha Esa.
  6. Amanat adalah suatu sikap rohani dan moral (akhlak) yang penting bagi kehidupan manusia.
  7. Bahwa amanat adalah urat nadi kahidupan dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  8. Penyelewengan terhadap amanat itu harus dipertanggung-jawabkan secara moral, moril dan hukum, baik di dunia maupun di akhirat.
  9. Bahwa apabila amanat itu dipelihara dan dijaga dalam sektor kehidupan, pekerjaan, urusan dan lain-lain sebagainya, maka dia akan menciptakan kehidupan yang aman dalam arti seluas-luasnya, jasmani dan rohani, sehinga dapat mewujudkan suatu bangsa yang memiliki predikat “Baldatun Thaibatun Warbbun Qafuur”.

B. Saran-saran

Dalam hal ini, penulis akan mengemukakan beberapa saran, sebagai berikut :

  1. Alquran haruslah senantiasa dijadikan sumber dari segala sumber kebutuhan manusia, olehnya itu hendaklah selalu dipelajari, digali dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari makna-makna yang terkandung di dalamnya.
  2. Hendaknya dalam mempertahankan sifat dan sikap amanat dalam setiap orang harus dipertanggung jawabkan agar tidak terjadi malapetaka di antara sesama manusia.
  3. Diharapkan kepada umat Islam agar senantiasa bersifat dan bersikap amanat dalam tingkah laku, demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti.

KEPUSTAKAAN

Al – Qur’an al – Karim

Abduh, Muhmmad. Tafsir Alquran al-Karim. Diterjemahkan oleh Bagir dengan judul Tafisr Juz Amma. Cet. I; Bandung: Mizan, 1998.

Al-Aqqad, Mahmud Abbas. Manusia Diungkap Qur’an Cet. III; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993.

Ari, Anwar. Akhlak Alquran. Cet. I; Surabaya: Bina Ilmu, 1990.

Al-Ashfahâniy, Al-Râgib. Mufradât Alfâzh al-Qur’ân (Cet.I; Beirut: Dâr al-Qalam, 1992.

Ash-Shiddieqy, M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu, Alquran/Tafsir Cet. XV; Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1994.

Asyarie, Sukmadjaja dan Rosy Yusuf. Indeks Alquran. Cet. III; Bandung: Psutaka, 1996.

Al-Azhar, Ulama-ulama. Khuthabul Jum’at wal Iedain. Diterjemahkan oleh H. Husein Muhammad dengan judul Wasiat Taqwa. Cet. I ; Jakarta: Bulan Bintang, 1986.

Al-Bukhari, Abu Abdillah Ibn al-Mugirah al-Bardizbat. Shahih al-Bukhari, juz II dan IX. Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: Toha Putra, 1989.

Fachurddin HS. Eksiklopedia Alquran. Jilid I (A-L) Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta. 1992.

                . Hassan, A. Tafsir Al-Furqan. t.th.

                . Membentuk Moral (Bimbingan Alquran) Cet. I; Jakarta: Bina Aksara, 1985.

Al-Farmawi, Abdul. Al-Hayy al-Bidayah fi-Tafsir al-Maud’huiy. Diterjemahkan oleh Suryani A. Jamrah dengan judul Metode Tafsir Maudhu’iy. Cet. II; Jakarta: Raja Grafido Persada, 1996.

Fatah, Abd. Kehidupan Manusia di Tengah-tengah Alam Materi. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1995.

Al-Ghazali, Imam. Mukasyafah al-Qulub: Al-Muqarib ila hadhrah ‘Allam al-Ghuyub fi Ilm at-Tashawwuf di terjemahkan oleh Irwan Kurniawan dengan judul Menyingkap Mati Menghampiri Ilahi. Cet. I; Bandung: Pustaka Hidyah, 1999.

Hamka, Tafsir Al-Azhar. Juz III dan V; Jakarta : Pustaka Panjimas, 1983.

Hawwa, Sa’îd. Al-Asâs Fiy al-Tafsîr, jilid VIII. Cet.II; Mesir: Dâr al-Salâm, 1989.

Ibin Zakariyah, Abîy al-Husayn Ahmad bin Fâris. Mu’jam Maqâyis al-Lugah, juz II. Cet.II; t.t.: Al-Maktabah al-Manâzi’, 1980 M./ 1390 H.

Ibrahim. Muhammad al-Jamal, Kaba’irun-Nisa’ wa shagha’iruhunna wa Hawa tatuhunna diterjemahkan oleh Kathur Suhadi dengan judul Dosa-Dosa Wainita, Cet. I; Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1995.

Labib, Muchsin dan Farauk bin Dhiya, Kisah Para Pecinta Allah. Cet. II; Bandung: Remaja Rosakarya, 1997.

Al-Maraghi. Ahmad, Mustafa Tafsir al-Maraghi, Cet. II; Juz X, Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1974.

Al-Mawdûdy, Abû al-A’lâ. Al-Hadhârah al-Islâmiyah; Asâsuhah wa Mabâdiuha. Bairût: Dâr al-Fikr, t.th.

Munawwir, Warson. Kamus Al-Munawwir Arab Indonesia Terlengkap. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 1984.

Al-Nahlawi, Abdurrahman. Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fiy al-Bayt wa al-Madrasah wa al-Mujtama’ diterjemahkan oleh Shihabuddin dengan judu Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat. Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1995.

Nasution, M. Yunan. Pegangan Hidup. Cet. II; Jakarta: Ramadhan, 1978.

Nata, Abuddin. Alquran dan al-Hadis. Cet. IV; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.

Poerdarminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Cet. V; Jakarta: Balai Pustaka, 1989.

Al-Qardhdawy, Yusuf. Al – Iman wal – Hayat. Diterjemahkan oleh Fachruddin HS dengan judul Iman dan Kehidupan. Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1993.

Quraish, M. Shihab. Lentara Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan. Cet. III; Badung : Mizan, 1994.

Rahardjo, M. Dawan. Esiklopedi Alquran Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1996.

Rathomi, Moh. Abdai. Tiga Serangkai Sendi Agama. Cet. VII; Bandung: al-Ma’arif, 1991.

Sabiq, Sayyid. Islamuna. Diterjemahkan oleh Zainuddin dkk, dengan judul Islam dipandang Dari Segi Agama, Moral, dan Sosial. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1994.

Salim, Abd. Muin. Fiqh Siyasah ; Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran. Cet. II; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995.

Al-Suyutiy, Abd. Rahman bin Jalal al-Din. Lubab al-Nuqul fiy Asbab al-Nuzul, juz II. Riyad: Maktabah Riyad, t.th.

Ta’qub, Hamzah. Etika Islam (Pembinaan Akhlaqulkarimah) Cet., VII; Bandung: Diponegoro 1996.

Umary, Barmawi. Materia Akhlak. Cet. X; Solo: Ramadhani, 1991.

Al-Yathiri, Muhammad bin Ahmad. Sayyid. Al-Wahdah al-Islamiyah diterjemahkan oleh Ali Yahya dengan judul Persatuan Islam Cet. I; Jakarta: Lentera Basritama, 1995.

Yunus, Mahmud. Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung, 1989.

[1]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h.680.

[2]Mustafa Ahmad al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (Cet. II; Juz X, Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1974), h. 75.

[3]Lihat Ibid., h. 75

[4]Ibid.

[5]Ibid.

[6]Ibid.

[7]H. Fahurddin HS, Ensiklopedia al–Qur’an jilid I (Cet I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992), h. 105.

[8]Mustafa al-Maraghi, op. cit., h. 76.

[9]M. Dawan Rahardjo Ensiklopedi Alquran (Cet. I; Jakarta : Paramdina, 1996), h. 194 – 195.

[10]Abbas Mahmud al-Aqqad Manusia Diungkap Alquran (Cet. III; Jakarta Firdaus, 1993), h. 49.

[11]H. Anwar Masy’ary MA, Akhlak Alquran (Cet III; Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990), h. 59.

[12]H. Hamzah Ya’qub, Etika Islam (Cet VII; Bandung : CV. Di Ponegoro, 1996), h. 98.

[13]H. Munawar Khalil, Al-Quran dari Masa ke Masa (Cet. I; Semarang: Ramdhani, 1998), h. 52.

[14]Demikian cara kerja tafsir tematik (al-tafsîr bi al-mawdhu’i). Untuk lebih jelasnya, lihat Abd. Al-Hayy al-Farmâwi, Al-Bidâyat Fi al-Tafsîr al-Mawdû’i diterjemahkan oleh Suryan A.Jamrah dengan judul Metode Tafsîr Mawdhu’iy (Cet.I:Jakarta: LSIK dan Raja Rafindo Persada, 1994), h. 52.  Lihat juga M. Quraish Shihab, Tafsir Alquran Masa Kini (Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1983), h. 9. Juga Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah; Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran (Cet II; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h. 20. Juga Harifuddin Cawidu, Konsep Kufr Dalam Alquran; suatu Kajian Teologis dengan Pendekatan Tafsîr Tematik (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 21-25.

[15]H. Hamzah Ya’kub, Etika Islam (Cet. VII; Bandung: CV. Diponegoro, 1996). h. 98.

[16]H. Fachurddin HS, Eksiklopedi Alquran, Jilid I A-L) (Cet I; Jakarta : PT Rineka cipta, 1992), h. 105.

[17]Ulama-ulama Al-Azhar Kairo, Khuthbul Jum’ari wal Iedain, diterjamhakan oleh H. Husain Muhammad dengan judul Wasiat Taqwa (Cet. I; Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1986), h. 125-126.

[18]Ibid.

[19]Muchsin Labib, Kisah Para Pecinta Allah (Cet: II; Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 1997), h. 73.

[20]Departemen Agama RI., Alquran dan Terjemahnyanya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 13

[21]Lihat Ibid.

[22]Fachruddin Hs, Iman dan Kehidupan (Cet: II; Jakarta: PT. Karya Uni Press, 1993), h. 142.

[23]Departemen Agama RI, op. cit., h. 161.

[24]Ibid., h. 143.

[25]Imam al-Ghazali, Mukasyafah al-Qulub al-Muqarib ila’ Hadrah ‘Allam al-Ghuyub fi ‘Ilm at-Tashawiwuf, diterjemahkan oleh Irwan Kurniawan dengan judul Menyingkap Hati menghampiri Ilahi (Cet. I . Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), h. 65.

[26]Ibid., h. 66-67.

[27]Abbas Mahmud al-Aqqad, ap. cit., h. 48.

[28]Ibid., h. 50.

[29]Departemen Agama RI., op. cit., h. 951.

Kata Kunci :

al qur an tentang manusia pada dasarnya bodoh,alata dab almanat dalam alquran,contoh tafsir tematik tentang zolim,tafisr surat al ahzab 72,tafsir maudhui hutang dalam quran
Al-manat dalam Al-Qur’an (Suatu Kajian Tafsir Tematik) | Artikel Indonesia | 4.5
DMCA.com Protection Status Top blogs blog search engine Academics Blogs